TRIBUNJATENG.COM,SEMARANG -Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan Sumber Daya Air (Kabid OP SDA) Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana, Andi Sofyan menyebut, telah menyiapkan anggaran sebesar Rp50 miliar untuk menangani tanggul jebol di Sungai Tuntang, Kabupaten Demak.
"Saya dapat info, anggaran tahun 2026, Rp50 miliar masih proses lelang, jadi semoga cepat dikontrakkan sehingga kami bisa melakukan penanganan tanggul sungai Tuntang secara permanen," ujarnya, di Kabupaten Demak, Sabtu (4/4/2026).
Tanggul Sungai Tuntang di Kabupaten Demak jebol sebanyak tiga titik pada Jumat (3/4/2026), meliputi dua titik di Desa Trimulyo, Kecamatan Sayung masing-masing sepanjang sekitar 30 meter dan sekitar 10 meter. Satu tanggul jebol lainnya terletak di Desa Sidoharjo Kecamatan Sayung sepanjang sekitar 15 meter.
Baca juga: BPJS Ketenagakerjaan Terapkan Antrean Online untuk Pangkas Waktu Tunggu
Baca juga: Suhu Kawah Gunung Slamet Melonjak Drastis, Jadi 463 Derajat Celcius
Tanggul di bantaran Sungai Tuntang Demak sebelumnya juga pernah jebol pada Senin, 16 Februari 2026, sembilan desa terendam di Kecamatan Guntur, Kebonagung, dan Kecamatan Sayung.
Menurut Andi, sunga Tuntang alami overtopping atau meluap lalu mengikis tanggul hingga jebol di tiga titik.
Pihaknya melakukan penanganan dengan dua tahap mencakup penanagan sementara dan permanen.
Untuk penanagan sementara dilakukan dengan melakukan penambalan menggunakan cerucuk berbahan kayu glugu dan bambu lalu dipadatkan dengan timbunan tanah. Proses itu nantinya akan menerjunkan tiga alat berat berupa ekskavator dan satu buldoser.
"Selepas itu, kami lakukan penambalan secara permanen," ucapnya.
Ketika disinggung soal tanggul kritis di Kali Tuntang, Andi mengungkap, telah melakukan pendataan terhadap titik-titik tanggul rawan jebol atau kritis di Sungai Tuntang termasuk di Kabupaten Demak.
Namun, pihaknya tidak menyebutkan secara detail jumlah persis tanggul kritis tersebut.
"Kami sudah identifikasi tanggal kritis, ada beberapa, tapi tidak semua langsung diperbaiki karena keterbatasan anggaran," bebernya.
Mengenai jebolnya tanggul Sungai Tuntang yang berulang kali terjadi, Andi meminta semua pihak untuk sama-sama berkolaborasi untuk mengatasinya.
Menurutnya, Sungai Tuntang memiliki banyak persoalan di antaranya kondisi bantaran kalinya sudah banyak tanah yang berstatus hak milik. Untuk itu ketika BBWS hendak melakukan pelebaran perluasan sungai, maka akan bikin boncos anggaran.
"Penanganan permanen dengan melebarkan dimensi sungai akan terlalu besar (biayanya)," katanya.
Ia pun menambahkan, penangan sungai Tuntang juga tidak hanya secara struktural seperti pembangunan tanggul. Penanganan non struktural seperti reboisasi atau memulihkan kawasan hutan di hulu sungai menjadi langkah cukup krusial.
"Kami hanya bisa memperbaiki secara struktural tapi tanpa diimbangi gerakan non struktural itu sama saja, akan terjadi banjir lagi," tambahnya. (Iwn)