TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Industri sepeda di Indonesia memasuki fase koreksi setelah mengalami lonjakan permintaan selama pandemi COVID-19.
Pembatasan mobilitas serta meningkatnya minat masyarakat terhadap olahraga luar ruang saat itu mendorong penjualan secara signifikan, baik di pasar domestik maupun global.
Namun, tren tersebut tidak bertahan lama.
Seiring normalisasi aktivitas, permintaan sepeda mulai melandai. Sejumlah pelaku industri kini menghadapi penurunan penjualan domestik, di tengah meningkatnya tekanan dari produk impor serta perubahan preferensi konsumen.
Data perdagangan menunjukkan Indonesia masih menjadi salah satu basis produksi sepeda untuk pasar ekspor.
Meski demikian, fluktuasi permintaan global serta penyesuaian konsumsi domestik membuat pertumbuhan industri tidak lagi setinggi periode 2020–2022.
Ketua Asosiasi Pengusaha Sepeda Indonesia (Apsindo) Eko Wibowo Utomo mengatakan pangsa pasar sepeda nasional saat ini didominasi produk impor, dengan sekitar 60–70 persen berasal dari China.
Dalam situasi tersebut, pelaku usaha mulai menggeser strategi. Selain mengandalkan inovasi produk, perusahaan kini berupaya memperkuat keterlibatan konsumen melalui pendekatan non-konvensional.
Salah satu pendekatan yang mulai digunakan adalah membuka akses terbatas ke fasilitas produksi serta memperkuat basis komunitas.
Head of Retail PT Rodalink Indonesia Elkana Timothy mengatakan langkah ini dilakukan untuk membangun kedekatan dengan konsumen di tengah persaingan pasar yang semakin ketat.
Ia menambahkan, perubahan strategi tersebut juga dipengaruhi oleh pergeseran perilaku konsumen.
"Konsumen kini tidak hanya mempertimbangkan harga dan spesifikasi, tetapi juga mulai memperhatikan transparansi proses produksi serta asal-usul produk," katanya.
Pendekatan ini antara lain terlihat dalam kegiatan kunjungan ke pabrik sepeda di Sidoarjo, Jawa Timur yang diikuti puluhan peserta dari berbagai daerah pada awal Maret.
Dalam kegiatan tersebut, peserta memperoleh akses untuk melihat langsung proses produksi, mulai dari pengelasan rangka hingga tahap pengujian kualitas.
Langkah membuka sebagian proses produksi kepada publik dinilai menjadi bagian dari strategi komunikasi industri yang lebih luas, terutama dalam merespons konsumen yang semakin kritis dan selektif.
Baca juga: Sepeda Listrik eCargo Berbahan Bakar Hidrogen Siap Diuji Coba
"Di tengah kondisi pasar yang tidak lagi ekspansif, pendekatan berbasis pengalaman menjadi salah satu opsi untuk menjaga permintaan sekaligus memperkuat loyalitas konsumen," kata Elkana.