POSBELITUNG.CO - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dikabarkan sedang mempertimbangkan perombakan kabinet secara masif menyusul pencopotan Jaksa Agung Pam Bondi pada Kamis (2/4/2026).
Langkah radikal ini diambil setelah tingkat kepercayaan publik terhadap Trump anjlok ke titik terendah akibat dampak ekonomi dari perang dengan Iran yang kini memasuki minggu kelima.
Krisis Kepercayaan dan Tekanan Harga BBM
Berdasarkan data terbaru dari survei Reuters/Ipsos, hanya 36 persen warga Amerika yang menyetujui kinerja Trump secara keseluruhan.
Angka ini merupakan rekor terendah sepanjang masa jabatannya. Ketidakpuasan ini berakar pada dua faktor utama:
Seorang pejabat senior Gedung Putih mengungkapkan kepada Reuters bahwa pidato "Kemenangan AS atas Iran" yang disampaikan Trump pada Rabu (1/4/2026) gagal meredam amarah publik karena tidak menawarkan jalan keluar konkret.
"Pidato itu tidak mencapai apa yang seharusnya dicapai," kata pejabat tersebut.
"Pemilih menoleransi pesan ideologis, tetapi mereka merasakan harga bahan bakar secara langsung," tambahnya.
Meskipun Trump dikenal enggan menciptakan kesan kekacauan seperti pada periode pertamanya, lima sumber internal menyebutkan bahwa perombakan personel kini menjadi kebutuhan mendesak untuk mengubah persepsi publik.
Pembelaan Gedung Putih: "Kepercayaan Total"
Menanggapi rumor panas ini, Juru bicara Gedung Putih, Davis Ingle, merilis pernyataan resmi yang menepis adanya keretakan di jajaran kabinet. Ingle menegaskan bahwa para menteri telah memberikan "kemenangan bersejarah".
"Presiden telah menyusun Kabinet yang paling berbakat dan berdampak yang pernah ada, dan mereka secara kolektif telah memberikan kemenangan bersejarah atas nama rakyat Amerika, mulai dari peran Direktur Gabbard dalam mengakhiri rezim narkoteror Maduro hingga peran Menteri Lutnick dalam mengamankan kesepakatan perdagangan dan investasi besar," tulis Ingle melalui email.
Dilema "Reset" Politik Jelang Pemilu Paruh Waktu
Internal Partai Republik kini dilingkupi kecemasan menjelang pemilihan paruh waktu (midterm elections) November mendatang. Para sekutu Trump menilai jika tidak ada perubahan signifikan dalam penyampaian pesan atau susunan personel, posisi Republik di parlemen terancam terjungkal.
Namun, di sisi lain, perombakan yang terlalu sering berisiko memperkuat narasi ketidakstabilan di bawah kepemimpinan Trump. Meskipun demikian, sinyal pembersihan kabinet jilid lanjutan tampaknya tetap kuat.
"Sebut saja begini, berdasarkan apa yang saya dengar, Bondi bukanlah yang terakhir," pungkas seorang pejabat senior Gedung Putih lainnya kepada Reuters. (Tribunnews)