Bona Fortuna 2026 Perkuat Kolaborasi Komunitas dan Gaungkan Isu Lingkungan
Try Juliansyah April 05, 2026 05:32 AM

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK – Kegiatan Bona Fortuna kembali digelar sebagai ruang refleksi perjalanan sekaligus ajang kolaborasi lintas komunitas di Kalimantan Barat.

Bob, Vokalis Band LAS, menyampaikan, Bona Fortuna awalnya merupakan inisiasi sejak 2016 berangkat dari perayaan kecil peluncuran album pertama LAS.

“Bona Fortuna adalah inisiasi dari tahun 2016 yang merupakan pesta perilisan album pertamanya LAS yang kemarin kita gagas di basecampnya LAS sendiri. Acaranya kecil, sangat intim, kami hanya mengundang teman-teman terdekat kami,” ujarnya, Jumat 3 April 2026.

Seiring berjalannya waktu hingga satu dekade, muncul keinginan dari tim untuk merefleksikan perjalanan tersebut sekaligus melihat kembali perkembangan kondisi Kalimantan Barat saat ini dibandingkan 10 tahun lalu.

Dari hasil diskusi bersama berbagai pihak dan melihat tren di Asia, Bona Fortuna kemudian dikembangkan menjadi wadah yang lebih luas. Kegiatan ini dirancang untuk mempertemukan berbagai lapisan masyarakat, mulai dari masyarakat adat, sipil, mahasiswa, hingga para musisi, seniman, dan budayawan.

“Kami ingin Bona Fortuna menjadi ruang temu semua irisan masyarakat untuk sama-sama melihat kondisi Kalimantan saat ini,” jelasnya.

Baca juga: Pererat Silaturahmi, Polda Kalbar Hadiri Halalbihalal KB FKPPI Kalbar di Pontianak

Tak hanya itu, Bona Fortuna juga mengusung konsep green festival yang diharapkan dapat menjadi standar baru dalam ekosistem industri kreatif di Kalimantan Barat.

“Inisiasi ini kami harapkan tidak hanya jadi milik LAS, tapi bisa menjadi standar baru dalam bisnis kreatif yang lebih berkelanjutan di Kalbar,” tambahnya.

Ia juga menegaskan sikap terhadap sejumlah isu lingkungan dan sosial yang masih terjadi di Kalimantan Barat.

Di antaranya penolakan terhadap kriminalisasi masyarakat adat yang disebut masih marak terjadi termasuk kasus di Ketapang.

Selain itu, mereka juga menyoroti persoalan deforestasi yang dinilai sudah berlangsung terlalu lama.

“Hutan Kalimantan sudah cukup dibabat selama puluhan tahun. Sudah saatnya kita beralih ke industri yang lebih sehat dan berkelanjutan,” tegasnya.

Di tingkat lokal, khususnya di Kota Pontianak, LAS turut mendorong pemerintah untuk lebih serius menghadirkan transportasi publik yang layak baik darat maupun air.

Menurutnya, ketergantungan pada kendaraan pribadi tidak hanya berdampak pada kemacetan, tetapi juga meningkatkan emisi karbon dan pemborosan energi.

“Kita punya sungai yang panjang, potensi transportasi air besar. Ini harus didorong bersama,” ucapnya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk terus menyuarakan kepedulian terhadap lingkungan secara konsisten.

“Kita harus berani bersuara, berisik untuk bumi setiap hari. Jangan takut,” pungkasnya. (*)

!!!Membaca Bagi Pikiran Seperti Olahraga Bagi Tubuh!!!

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.