Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Jenderal Louis
AMBON, TRIBUNAMBON.COM – Sosok Gino Pattihahuan (50) menjadi pusat perhatian dalam drama penyaliban Tuhan Yesus yang digelar di Jalan Pattimura, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Minggu (5/4/2026) dini hari.
Penampilannya yang penuh penghayatan tak hanya memukau, tetapi juga menggugah emosi ribuan warga yang memadati lokasi.
Baca juga: Ribuan Warga Ambon Tumpah Ruah Saksikan Drama Penyaliban Yesus di Jalan Pattimura
Baca juga: Zween Walalayo Perankan Yesus, Adegan Penyaliban Jalan Salib GPM Gatik Berlangsung Dramatis
Untuk pertama kalinya memerankan Yesus, Gino tidak sekadar tampil sebagai aktor, tetapi menjalani peran dengan pendekatan spiritual yang mendalam.
Penatua Jemaat GPM Syaloom ini mengaku, persiapan terpenting yang ia lakukan adalah menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan.
“Persiapan saya adalah menjadikan diri sebagai wadah yang nanti diisi oleh Tuhan. Apa yang kami persembahkan bukan karena kami hebat, tetapi Tuhan Yesus pakai untuk kemuliaan-Nya,” ungkap Gino saat diwawancarai TribunAmbon.com, Minggu (5/4/2026).
Penghayatan tersebut terasa sepanjang pementasan. Ia mengaku merasakan penyertaan Tuhan yang begitu kuat, tidak hanya bagi dirinya, tetapi juga seluruh tim yang terlibat.
“Saya merasakan penyertaan Tuhan Yesus luar biasa, dari awal sampai akhir, bukan hanya untuk saya tapi untuk semua orang yang terlibat,” ujarnya.
Momen paling emosional terjadi saat adegan penyiksaan. Ketika tubuhnya menerima cambukan, Gino mengaku mulai memahami secara nyata penderitaan Yesus.
“Ketika dicambuk, saya merasakan betapa sengsaranya Tuhan Yesus. Kita sebagai manusia tidak akan mampu membalas pengorbanan itu,” katanya.
Refleksi itu memperdalam imannya. Ia menyadari bahwa pengorbanan Yesus yang mencurahkan darah dan menyerahkan nyawa demi menebus dosa manusia merupakan kasih yang tak ternilai.
“Kalau Tuhan sudah melakukan begitu besar untuk kita, seharusnya kita juga bisa melakukan lebih untuk Tuhan,” tambahnya.
Persiapan Panjang dan Puasa 18 Jam
Di balik penampilan yang menyentuh, terdapat proses panjang yang telah dipersiapkan sejak Oktober 2025.
Sang pelatih yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan, tahap awal dilakukan dengan pemilihan pemeran sesuai karakter.
Kemudian dilanjutkan dengan pendalaman peran, pembacaan naskah, hingga proses dubbing.
“Bahkan musik yang digunakan dibuat secara original oleh art director. Setelah itu masuk tahap editing, sinkronisasi dengan musik pendukung, lalu beberapa kali revisi,” jelasnya.
Latihan intensif digelar di Taman Budaya Ambon sejak awal Februari 2026 hingga gladi resik pada 1 April 2026.
Para pemeran harus menjalani latihan panjang demi menghadirkan pementasan yang maksimal dan menyentuh.
Tak hanya aspek teknis, para pemeran juga dibekali persiapan spiritual.
Khusus pemeran Yesus menjalani pergumulan bersama pendeta sehari sebelum pementasan, kemudian dilanjutkan dengan doa bersama seluruh tim.
Sebagai bentuk penghayatan iman, seluruh pemeran bahkan menjalani puasa selama 18 jam sebelum tampil.
“Kesan saya luar biasa. Mereka punya kemauan belajar yang tinggi dan benar-benar mendalami setiap peran,” ujar pelatih tersebut.
Ribuan Warga Larut dalam Suasana Haru
Drama Jalan Salib ini merupakan bagian dari rangkaian prosesi yang diselenggarakan Jemaat GPM Syaloom Batu Meja bersama Paduan Suara Ora Et Labora.
Prosesi dimulai dari Gereja Maranatha sekitar pukul 01.00 WIT dan berakhir di depan Gapura Syaloom Batu Meja sekitar pukul 02.45 WIT, setelah melewati rute Jalan Pattimura.
Sepanjang jalur Via Dolorosa, suasana berlangsung dramatis. Sekitar 59 pemeran terlibat dalam pementasan yang dirancang sedetail mungkin untuk menggambarkan kisah penyaliban.
Puncak emosi terjadi saat adegan cambukan diperagakan. Teriakan dan tangisan penonton pecah, mencerminkan kuatnya penghayatan yang dibangun dari setiap adegan.
Bukan Sekadar Pertunjukan
Ketua Paduan Suara Ora Et Labora, Non Tatipikalawan, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar pertunjukan, melainkan bentuk kontemplasi iman.
“Ini bukan cerita fiktif, tetapi kisah nyata yang dihadirkan kembali. Harapannya tidak hanya ditonton, tetapi juga dirasakan,” ujarnya.
Menurutnya, setiap adegan menjadi pengingat akan besarnya pengorbanan Yesus Kristus bagi keselamatan manusia, sekaligus mengajak umat untuk terus menghidupkan nilai-nilai iman dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan ini juga menjadi yang pertama kali digelar oleh Ora Et Labora, hasil kolaborasi bersama Panitia Hari-Hari Besar Gerejawi (PHBG) Jemaat GPM Syaloom Batu Meja.
Di akhir kegiatan, umat diajak tidak hanya merenungkan penderitaan, tetapi juga merayakan kemenangan melalui kebangkitan Yesus Kristus.
“Selamat merayakan Paskah. Biarlah kebangkitan-Nya menjadi kemenangan bagi kita semua umat Kristen,” tutup Non.
Pesan itu menegaskan bahwa Jalan Salib bukan sekadar kisah penderitaan, melainkan juga tentang harapan, kemenangan, dan kehidupan baru melalui kebangkitan.(*)