TRIBUNJAKARTA.COM, SAWAH BESAR - Suara pukulan bedug di sisi Masjid Istiqlal berganti menjadi suara lonceng gereja ketika kaki sudah menapaki anak tangga menuju arah Gereja Katedral.
Perubahan suara itu terjadi tepat di sisi tengah terowongan silaturahim, simbol baru yang kian menunjukkan hangatnya toleransi dan keberagaman di Indonesia, khususnya di Jakarta.
Di momen Paskah ini, terowongan silaturahim kembali hidup mengantar jemaat yang memarkirkan kendaraanya di basement Masjid Istiqlal menuju Gereja Katedral Jakarta untuk beribadah.
Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya soal akses dan kemudahan. Namun bagi Vincentius Adi Prasojo, Sekretaris Jenderal Keuskupan Agung Jakarta, terowongan ini menyimpan makna yang jauh lebih dalam.
“Terowongan Silaturahim bukan hanya simbol toleransi,” ujarnya sebagaimana dikutip dari tayangan Youtube Sisi Lain Metropolitan, TribunJakarta.com Minggu (5/4/2026).
“Ini adalah pesan kepada dunia internasional, kepada bangsa kita sendiri, hingga anak cucu kita, bahwa Indonesia diwariskan dengan nilai-nilai kebangsaan dan toleransi yang luhur dan itu harus dijaga," sambung Romo Adi.
Menurut Romo Adi, potret hangat Istiqlal dan Katedra; sesungguhnya telah dirancang sejak lama.
Presiden pertama Indonesia, Soekarno, menempatkan Masjid Istiqlal berhadapan langsung dengan Gereja Katedral bukan tanpa alasan.
Ada visi kebangsaan yang melampaui zamannya yakni tentang dialog, tentang hidup berdampingan.
“Pilihan Bung Karno itu ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia punya kualitas dialog dan toleransi yang tinggi,” kata Romo Adi.
Indonesia memang dikenal sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim. Namun di ruang-ruang seperti inilah wajah lain Indonesia terlihat jelas—di mana umat Katolik, dan juga pemeluk agama lain, dapat beribadah dengan rasa aman dan nyaman.
Bahkan, menurut Romo Adi, hal ini kerap mengundang kekaguman tamu-tamu dari luar negeri.
Para kepala negara hingga pejabat asing sering kali melontarkan pertanyaan sederhana, namun penuh rasa heran yakni apakah umat minoritas bisa beribadah dengan baik di Indonesia?
“Bagi mereka itu sesuatu yang luar biasa. Tapi bagi kita, ini sudah seperti napas sehari-hari,”