Itera Sebut Benda Asing di Langit Lampung adalah Sampah Antariksa
Daniel Tri Hardanto April 05, 2026 04:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Observatorium Astronomi Institut Teknologi Sumatera (OAIL Itera) menyatakan fenomena benda asing yang berada di langit Lampung adalah peristiwa masuknya kembali sampah antariksa (re-entry) ke atmosfer Bumi.

Warga Lampung, termasuk di wilayah Sumatera bagian selatan hingga Jawa Barat, mendadak digegerkan dengan penampakan fenomena cahaya merah di langit yang diiringi dengan suara dentuman keras.

Banyak spekulasi beredar mengenai asal-usul benda bercahaya tersebut, mulai dari komet, meteroit, hingga rudal salah sasaran.

Kepala Pusat OAIL Itera Annisa Novia Indra Putri mengatakan, pihaknya telah menganalisis benda tersebut.

Hasilnya, benda asing tersebut diduga merupakan bekas badan roket CZ-3B R/B milik China.

"Objek CZ-3B R/B tersebut merupakan bagian dari roket peluncur Long March 3B milik China yang diterbangkan pada 23 Januari 2025 lalu," kata Annisa, Minggu (5/4/2026).

Setelah menjalankan tugasnya mengantar satelit ke luar angkasa, terus Annisa, badan roket ini tertinggal dan melayang di orbit rendah Bumi (kow earth orbit/LEO). 

Seiring berjalannya waktu, roket ini mengalami penurunan ketinggian karena tertahan oleh gaya hambat atmosfer bumi (atmospheric drag), hingga akhirnya jatuh menembus langit Lampung semalam.

Ciri-ciri fisik saat kejadian terekam jelas oleh masyarakat dan kamera pemantau. 

Berbeda dengan meteor atau komet alami yang melesat sangat cepat, Annisa menuturkan bahwa sampah antariksa buatan manusia ini memiliki karakteristik khusus.

"Durasinya terlihat lebih panjang, kecepatannya cenderung agak lambat. Terlihat pecahan-pecahan cahaya yang terpisah namun tetap bergerak searah (fragmentasi), dan arah lintasannya cenderung datar atau horizontal," jelasnya.

Terkait identifikasi bahwa benda asing di langit Lampung tersebut adalah sampah roket China, Annisa membeberkan hal tersebut diketahui berdasarkan dokumen prediksi dari pusat studi sampah antariksa dunia, yakni Center for Orbital and Reentry Debris Studies (CORDS) dari The Aerospace Corporation.

Dari data tersebut, lanjut Annisa, terdapat 4 kandidat sampah antariksa yang diprediksi jatuh pada 4 April 2026, yaitu Satelit Starlink-4461 (ID 53503), Satelit Starlink-4404 (ID 53195), Badan Roket CZ-4B R/B (ID 67301), dan Badan Roket CZ-3B R/B (ID 62805).

"Mengingat ukuran cahaya yang sangat besar, peneliti langsung mengerucutkan pilihan pada roket CZ-4B atau CZ-3B," jelas dia.

Untuk memastikannya, tim OAIL Itera menggunakan kamera khusus pemantau seluruh langit (all-sky camera). 

Dari rekaman kamera tersebut, terukur arah jatuh benda berada di kemiringan lintasan (inklinasi) sekitar 30 derajat.

"Data ini sangat cocok dengan sifat orbit roket CZ-3B yang memiliki kemiringan lintasan kecil, yaitu sekitar 28 derajat. Sementara roket CZ-4B langsung dicoret dari daftar karena memiliki lintasan yang hampir melewati kutub dengan kemiringan ekstrem mencapai 97,3 derajat," jelasnya.

Terkait kabar yang beredar di masyarakat bahwa benda asing tersebut telah jatuh di wilayah Tulangbawang, Lampung, Annisa memastikan informasi tersebut tidak berdasar.

"Kalau info yang jatuh di Tulangbawang hoaks. Itu bukan dari benda angkasa yang terlihat semalam," tegas Annisa.

Mengenai ancaman potensi bahaya yang ditimbulkan dari fenomena benda asing yang jatuh tersebut, OAIL memastikan bahwa peristiwa masuknya sampah antariksa itu tidak membahayalan keselamatan masyarakat bumi.

Pasalnya, saat benda luar angkasa jatuh menembus atmosfer Bumi dengan kecepatan tinggi, gesekan udara yang sangat kuat akan menciptakan panas ekstrem yang membakar benda tersebut.

"Oleh karena itu, sebagian besar badan roket sudah hangus terbakar di langit," kata dia.

Kalaupun ada sisa potongan kecil yang berhasil bertahan dan jatuh sampai ke permukaan Bumi, potensinya jatuh di area padat penduduk sangatlah kecil. 

Hal ini mengingat sebagian besar wilayah planet Bumi kita ditutupi oleh lautan luas.

Annisa menegaskan, masyarakat tidak perlu khawatir karena fenomena ini tidak berbahaya.

"Tidak bahaya karena benda jatuh yang turun ke Bumi sudah berinteraksi dengan atmosfer dan terbakar, dan biasanya hanya sisa-sisa saja yang sampai ke permukaan Bumi," beber Annisa.

(Tribunlampung.co.id/Hurri Agusto)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.