TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Kenaikan harga plastik di pasaran dalam sepekan terakhir mulai dirasakan para pedagang tradisional di Kota Semarang.
Pedagang menyebut, lonjakan terjadi hingga hampir sekitar 50 persen, membuat pedagang harus memutar otak agar tetap bertahan tanpa membebani pelanggan.
Seorang pedagang di Pasar Peterongan, Karni (62) mengungkapkan, harga plastik ukuran kecil yang biasa ia gunakan mengalami kenaikan signifikan.
Baca juga: Ikut Terdampak Perang AS Vs Iran, Harga Plastik Naik Hampir 2 Kali Lipat, Sampai Kapan?
"Kalau dulu plastik ukuran 1kg sekitar Rp3.000 (per pack), sekarang sudah Rp5.500," kata Karni ditemui Tribun Jateng di tokonya, Minggu (5/4/2026).
Dia memaparkan, kenaikan ini terjadi secara tiba-tiba dan baru berlangsung sekitar satu minggu.
Meski demikian, dampaknya langsung terasa pada margin keuntungan pedagang.
Karni mengaku tidak menaikkan harga barang dagangannya, sehingga keuntungan yang diperoleh semakin menipis.
"Pendapatan jadi berkurang. Mau tidak mau harus ditanggung sendiri, karena kalau dibebankan ke pembeli rasanya tidak enak," katanya.
Sebagai pedagang sembako, hampir seluruh barang yang dijual Karni menggunakan plastik sebagai kemasan.
Namun, ia tidak membatasi pemberian plastik kepada pelanggan meski harga sedang naik.
Menurutnya, menjaga kenyamanan pembeli tetap menjadi prioritas.
"Kalau pelanggan dibatasi plastiknya, nanti tidak enak. Yang penting jangan sampai rugi saja," tambahnya.
Dijelaskan, kenaikan harga plastik juga beriringan dengan naiknya sejumlah kebutuhan pokok lain, seperti minyak goreng.
Karni menyebut harga minyak goreng kemasan naik dari Rp17.000 menjadi Rp20.000 per unit.
Selain itu, beberapa produk tidak mengalami kenaikan harga, tetapi jumlah isinya dikurangi.
"Kopi-kopian kemasan harganya ndak naik cuman dikurangi gramnya," katanya.
Di sisi lain, di tengah kenaikan jarga plastik ini menurutnya kesadaran konsumen untuk membawa wadah sendiri dinilai masih rendah, terutama di pasar tradisional.
"Kalau di toko besar biasanya gitu-gitu, bawa sendiri malah. Kalau toko seperti pakai plastik (dari pedagang)," ungkapnya.
Kenaikan harga plastik tidak hanya dirasakan pedagang di pasar tradisional, tetapi juga pelaku usaha kecil berbasis penjualan daring.
Dampak serupa kini dirasakan oleh penjual produk kemasan seperti madu.
Wulandari, seorang penjual madu mengungkapkan, harga botol plastik yang ia gunakan sebagai kemasan mengalami kenaikan sekitar Rp2.000 per unit.
Sebelumnya, botol tersebut dibeli seharga Rp1.500, namun kini naik menjadi Rp2.000.
Kenaikan biaya kemasan ini memaksa Wulandari untuk menyesuaikan harga jual produknya. Namun, langkah tersebut bukan tanpa risiko. Ia mengaku khawatir kenaikan harga justru membuat pelanggan berkurang.
"Khawatir berimbas pelanggan jadi sepi. Terus penurunan omzetnya, misal untung Rp50 ribu jadi Rp48 ribu," sebutnya.
Menurutnya, penurunan tersebut memang masih relatif kecil jika dibandingkan dengan biaya lain seperti administrasi platform e-commerce.
Namun, jika tren kenaikan harga bahan terus berlanjut, dampaknya dikhawatirkan bisa semakin signifikan terhadap keberlangsungan usaha.
Baca juga: "Tolong Dimakamkan Anakku" Geger Bayi Ditemukan Meninggal Terbungkus Plastik di Depan Masjid
Sebagai langkah mitigasi, Wulandari menyebut kenaikan harga jual menjadi satu-satunya opsi yang realistis saat ini.
Meski demikian, ia tetap berhati-hati dalam menentukan harga agar tidak kehilangan pelanggan.
"Antisipasinya ya menaikkan harga," imbuhnya. (idy)