Menjaga Tradisi Kupatan Kadilangu Pati, 11 Gunungan Ketupat-Lepet Diperebutkan Warga
raka f pujangga April 05, 2026 08:55 PM

TRIBUNJATENG.COM, PATI – Suasana di area Masjid Jami' Kadilangu, Desa Kadilangu, Kecamatan Trangkil, Kabupaten Pati, tampak riuh dan penuh warna, Minggu sore (5/4/2026). 

Ribuan warga tumpah ruah ke jalanan desa untuk merayakan Festival Kupatan Kadilangu 1447 H. 

Festival yang memasuki tahun kedua ini menjadi ajang pelestarian budaya sekaligus penguat tali silaturahmi antarwarga pasca-Lebaran.

Baca juga: Menikmati Keseruan Camping dengan View Pegunungan Muria di Desa Wisata Jrahi Pati

Hal ini sesuai tema kegiatan, "Kadilangu Nyawiji: Nguri-uri Budaya, Ngraketke Silaturahmi".

Kemeriahan dimulai dengan Parade Gunungan Ketupat.

Terdapat 11 gunungan besar yang diarak oleh warga. 

Gunungan-gunungan tersebut disusun artistik dari ribuan ketupat, lepet, hasil bumi seperti terong, kacang panjang, dan buah-buahan, hingga hiasan uang kertas mainan. 

Sebanyak 10 gunungan berasal dari partisipasi swadaya tiap RT, sementara satu gunungan utama yang berukuran paling besar disiapkan oleh Pemerintah Desa.

Kepala Desa Kadilangu, Arif Heru Prasetyo, menjelaskan bahwa kegiatan ini digelar bertepatan dengan 15 Syawal. Menurutnya, antusiasme tahun ini mengalami peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

"Agenda ini disiapkan untuk meningkatkan kebersamaan dan persatuan, serta menjaga kelestarian budaya. Semuanya mayoritas swadaya dari warga," ujar Arif di sela-sela acara.

Puncak acara yang paling dinantikan adalah momen berebut isi gunungan.

Setelah doa selesai dipanjatkan di depan masjid setempat dan gunungan usai diarak keliling desa, warga langsung merangsek maju untuk berebut isi gunungan. Meski harus berdesak-desakan, wajah gembira terpancar dari para warga yang berhasil mendapatkan "berkah" dari gunungan tersebut.

Salah satu warga, Sri Murniyati, mengaku sangat senang bisa berpartisipasi dalam keramaian ini. Ia bersama rekannya, Nanik, bahkan berhasil membawa pulang beberapa buah ketupat dan sayuran hasil rebutan.

"Sangat menyenangkan dan meriah sekali karena semua RT ikut berpartisipasi. Saya dapat tiga ketupat dan satu lepet. Ini kan sudah didoakan, mudah-mudahan berkah dan tambah sehat," ungkap Sri dengan penuh semangat.

Setelah prosesi arak-arakan dan rebutan selesai, warga kemudian duduk bersama untuk menikmati hidangan ketupat dan lepet dalam acara makan bersama atau "Kenduri Kupatan".

Baca juga: Ngaku Disantet, Pria di Pati Todongkan Sajam ke Seorang Ibu di Desa Blaru

Arif Heru Prasetyo menegaskan bahwa acara makan bersama ini terbuka bagi siapa saja, termasuk warga dari luar desa yang ingin merasakan kehangatan tradisi Kadilangu.

Kegiatan Tahtimul Qur'an bil Ghoib dan bin Nahdor juga menjadi bagian dari rangkaian acara festival ini.

Melalui festival ini, Desa Kadilangu membuktikan bahwa tradisi lokal tetap mampu menjadi magnet pemersatu masyarakat di tengah modernitas. (mzk)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.