Kantin Ibu Tatang, Kantin Penyelamat Mahasiswa di Bandung, ''Kalau Belum Ada Uang, Makan Saja Dulu''
Seli Andina Miranti April 05, 2026 09:27 PM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Usai momen Lebaran, banyak mahasiswa yang kembali ke perantauan mulai merindukan hangatnya masakan rumahan. 

Di saat yang sama, tak sedikit yang harus berhadapan dengan kiriman orang tua yang belum juga tiba.

Di situlah, sebuah kantin sederhana di Jalan Sekeloa Tengah No.7, Lebakgede, Kecamatan Coblong, Kota Bandung,  menjadi jawaban. 

Tempatnya memang tidak begitu strategis, diantara pemukiman padat penduduk. Kendati demikian, bagi ribuan mahasiswa lintas generasi, Kantin Ibu Tatang adalah tempat penyelamat saat kiriman orang tua telat datang, namun perut tak bisa diajak kompromi.

Baca juga: Kantin Kontainer Dompet Dhuafa Yogyakarta Dorong Mahasiswa Berjiwa Entrepreneur

 Sejak dirintis pada 1990, warung ini telah menjadi tempat singgah untuk mengisi perut, mulai dari mahasiswa S1 hingga S3.

Kawasan ini memang tersohor berdirinya bebedapa universitas negeri hingga swasta. 

Menurut Dede (54), putra Ibu Tatang, awalnya kantin ini hanyalah warung kecil yang melayani mahasiswa di sekitar Sekeloa, di masa ketika pilihan tempat makan masih terbatas.

Seiring waktu, jumlah pelanggan terus bertambah. Kantin pun berkembang menjadi bangunan dua lantai, namun tetap mempertahankan konsep rumahan yang sederhana dan hangat membuat siapa pun yang datang merasa seperti makan di rumah sendiri.

Namun, daya tarik utama Kantin Ibu Tatang bukan hanya pada masakannya, melainkan pada nilai kepercayaan yang dipegang teguh. 

Dede mengatakan, di sini, mahasiswa tetap diperbolehkan makan meski belum memiliki uang.

“Kalau belum ada uang, makan saja dulu. Bayarnya nanti kalau kiriman dari orang tua sudah datang,” kata dia, saat berbincang dengan Tribunjabar.id, Minggu (5/4/2026). 

Kantin ini buka setiap hari dari pukul 08.00 hingga 14.00 WIB. Meski ramai, Ibu Tatang memilih tidak memperpanjang jam operasional. 

Baca juga: Libur Lebaran, Wisatawan Bisa Berburu Kuliner Unik dan Viral di Roadshow Kuliner di Bandung

Menurut Dede, sang ibu berpegang pada prinsip bahwa kesehatan lebih utama dan rezeki akan selalu ada jalannya.

Intan Anisa (22) mahasiswa semester akhir di Universitas Komputer, mengaku sudah menjadi pelanggan Kantin Ibu Tatang sejak awal kuliah.

 Baginya, tempat ini bukan sekadar warung makan, tetapi sudah seperti bagian dari keseharian.

“Dari mahasiswa baru sudah sering ke sini. Menu favorit aku telur daging, harganya murah meriah, rasanya enak, apalagi sambal dadaknya,” ujar Intan.

Menurutnya, untuk ukuran warung nasi di kawasan kampus, harga yang ditawarkan Kantin Ibu Tatang tergolong sangat terjangkau.

 Bahkan, ia kerap menyiasati jam operasional kantin yang tidak buka hingga malam dengan membeli lauk lebih awal.

“Biasanya aku masak nasi di kos, terus lauknya beli dari sini siang-siang. Nanti malam tinggal dihangatkan lagi, jadi tetap hemat,” tambahnya.

Sementara itu, Indra (19) mahasiswa dari Universitas Pendidikan Indonesia, mengaku rela datang dari Gegerkalong demi mencicipi masakan di kantin tersebut. 

Ia mengetahui Kantin Ibu Tatang dari media sosial sebelum akhirnya memutuskan datang langsung.

“Saya dari UPI, awalnya tahu dari TikTok. Lihat konten orang, terus tanya teman yang kuliah di daerah sini, katanya memang rekomendasi dan enak,” kata Indra.

Baca juga: 350 Pelaku UMKM Kuliner di Bandung Gabung dalam Food Bank, Bersama Tingkatkan Kualitas Produk

Ia menilai, selain rasa masakan yang memuaskan, sistem kepercayaan yang diterapkan juga menjadi daya tarik tersendiri bagi mahasiswa.

“Menurut saya sangat worth it. Apalagi bisa makan dulu, bayarnya nanti. Jarang ada yang seperti itu sekarang,” ujarnya.

Indra juga melihat bahwa popularitas Kantin Ibu Tatang tidak lepas dari rekomendasi antar mahasiswa.

“Kayaknya memang ramai karena word of mouth juga. Mahasiswa saling cerita, jadi banyak yang akhirnya datang ke sini,” tuturnya. (*) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.