Sosok Pelukis Hamid Nabhan, Terinspirasi Vincent van Gogh Rela Jelajah Eropa Demi Seni
Wiwit Purwanto April 05, 2026 09:32 PM

SURYA.CO.ID, SURABAYA — Di balik kanvas-kanvas penuh warna yang hidup, ada perjalanan panjang seorang pelukis yang tak pernah berhenti mencari makna.

Selama 27 tahun, Hamid Nabhan setia menapaki jalan sunyi seni lukis, menggali kedalaman aliran Impresionisme yang menjadi napas karyanya.

Melukis Adalah Panggilan Jiwa

Bagi Hamid, melukis bukan sekadar aktivitas, melainkan panggilan jiwa. Ia terus bereksperimen dengan berbagai medium, mulai dari pensil, crayon, cat air, akrilik hingga cat minyak, bahkan kerap memadukan teknik untuk melahirkan karakter visual yang unik.

“Objek yang saya pilih beragam, dari pemandangan alam, figur, hingga kehidupan sehari-hari,” ujarnya, Minggu (5/4/2026).

Namun, alam tetap menjadi “rumah” bagi sebagian besar karyanya. Lanskap di musim kemarau justru menjadi favoritnya. Bukan tanpa alasan, di sanalah ia menemukan kontras warna yang kuat—daun mengering kecokelatan, tanah merah terbuka, hingga langit biru yang tajam.

“Di musim kemarau, warna lebih kaya. Ada kontras estetik yang tidak kita dapat saat musim hujan,” tuturnya.

Baca juga: Kisah Imam Pria Surabaya Bertahan Hidup sebagai Pelukis Jalanan, Pernah Lukis Artis hingga Pejabat

Perburuan objek pun membawanya melanglang. Dari Madura, Gresik, Trawas, Banyuwangi, Bali, Jawa Barat, hingga ke luar negeri seperti Swiss. Baginya, setiap perjalanan adalah laboratorium hidup untuk mengasah rasa dan teknik.

Tak hanya berhenti di kanvas, Hamid juga mengekspresikan diri lewat tulisan. Ia aktif menulis cerpen, puisi, hingga catatan perjalanan. Namun satu hal yang tak pernah berubah—melukis tetap menjadi pusat hidupnya.

“Melukis dari hati itu seperti obat. Ada kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan,” ungkapnya.

Perjalanannya bahkan membawanya ke Eropa, menyusuri jejak sang maestro Vincent van Gogh. Di Paris hingga Belanda, ia mengunjungi museum dan makam Van Gogh sebagai bagian dari riset buku yang tengah ia tulis.

Dari sana, lahir pula karya-karya baru—puisi, lagu, hingga catatan perjalanan yang memperkaya perspektifnya sebagai seniman.

Baca juga: Surat Untuk Walikota Surabaya: Jangan Biarkan Rumah Seniman Kita Hilang

Di tengah perjalanan panjang itu, Hamid memegang satu prinsip teguh: menghargai karyanya sendiri sebelum orang lain melakukannya. Ia tidak pernah menjual lukisannya secara sembarangan. Namun di sisi lain, ia juga membuka ruang keikhlasan.

“Kalau ada yang benar-benar ingin memiliki tapi tidak mampu, saya bisa memberikannya. Asal dijaga dan dihargai,” katanya.

Bagi Hamid Nabhan, seni bukan sekadar tentang nilai ekonomi, tetapi tentang rasa, perjalanan, dan kejujuran hati. Dan selama itu masih ia jaga, kanvasnya akan terus bercerita.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.