Burung Paok Sangihe dan Siau Kini Masuk Subspesies Erythropitta Celebensis, Ini Penjelasan CDBI
Alpen Martinus April 05, 2026 11:22 PM

TRIBUNMANADO.CO.ID,SANGIHE– Burung paok Sangihe dan Siau kini berubah status.

Sudah masuk dalam subspesies paok sulawesi.

Pembaruan terbaru daftar burung di Indonesia menunjukkan dinamika penting dalam dunia keanekaragaman hayati. 

Baca juga: PHRG 2026 di Minahasa, Jemaat GMIM Matuari Werot Gelar Pembukaan dengan Pelepasan Burung Merpati

Hingga Januari 2026, jumlah spesies burung di Tanah Air tercatat mencapai 1.834 spesies, dengan 538 di antaranya merupakan spesies endemis yang hanya ditemukan di Indonesia.

Sebaran burung endemis tertinggi tercatat di wilayah Sulawesi dengan 159 spesies, disusul Maluku (117), Jawa dan Bali (80), Papua (75), Nusa Tenggara (62), Sumatra (54), dan Kalimantan dengan lima spesies.

Data ini menegaskan posisi Indonesia sebagai negara dengan kekayaan burung endemis terbesar di dunia.

Di sisi lain, laporan tersebut juga mengungkap kondisi keterancaman sejumlah spesies.

Sebanyak 159 spesies burung Indonesia kini berstatus terancam punah secara global. 

Rinciannya, 29 spesies masuk kategori Kritis (CR), 49 spesies Genting (EN), dan 81 spesies Rentan (VU).

Perubahan status ini dipengaruhi oleh pembaruan data ilmiah yang memberikan gambaran lebih akurat tentang kondisi populasi di alam.

Secara jumlah, tidak terdapat lonjakan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Namun, perubahan penting terjadi dalam aspek kajian ilmiah dan taksonomi.

Lima spesies baru ditambahkan ke dalam daftar, sementara enam spesies lainnya dikeluarkan setelah melalui peninjauan ulang identitas dan batas antarspesies.

Salah satu contoh perubahan terjadi pada kelompok kangkok di Kalimantan.

Kangkok gelap (Hierococcyx bocki) kini dipisahkan menjadi dua spesies setelah ditemukan perbedaan vokal yang signifikan.

Populasi di Kalimantan ditetapkan sebagai spesies baru, yaitu kangkok tiga-nada (Hierococcyx tiganada).

Perubahan serupa juga ditemukan pada kelompok myzomela di Kepulauan Banda.

Berdasarkan kajian terbaru, populasi di Pulau Tanimbar dan Pulau Babar memiliki perbedaan suara yang jelas dan tidak saling merespons, sehingga kini diklasifikasikan sebagai dua spesies terpisah, yakni Myzomela annabellae dan Myzomela babarensis.

Selain itu, puyuh-siul dulit (Rhizothera dulitensis) turut dimasukkan ke dalam daftar burung Indonesia setelah penelitian menunjukkan kemungkinan habitatnya mencakup wilayah Kalimantan, meskipun catatan perjumpaan masih terbatas.

Sebaliknya, beberapa spesies justru diturunkan statusnya menjadi subspesies.

Paok Sangihe dan paok Siau, misalnya, kini digabung kembali sebagai subspesies dari paok Sulawesi (Erythropitta celebensis).

Empat takson lain, seperti myzomela rote dan burung-madu wakatobi, juga tidak lagi dianggap sebagai spesies mandiri karena masih membutuhkan bukti ilmiah tambahan.

Tekanan terhadap populasi burung di Indonesia pun masih menjadi perhatian serius.

Perubahan penggunaan lahan yang berdampak pada hilangnya habitat, serta perburuan untuk perdagangan burung peliharaan, menjadi ancaman utama bagi kelangsungan berbagai spesies.

Head of Conservation & Development Burung Indonesia, Adi Widyanto, menegaskan bahwa publikasi status burung ini memiliki peran penting dalam praktik konservasi.

Dokumen ini menjadi rujukan bagi berbagai pihak, mulai dari pemerintah hingga organisasi konservasi, dalam menyusun program perlindungan, survei, hingga identifikasi satwa. 

"Data ini juga menjadi dasar dalam penilaian Daftar Merah IUCN serta penentuan kawasan penting bagi keanekaragaman hayati,” ujarnya.

Sebagai bagian dari upaya global, penyelarasan daftar burung dunia kini mengacu pada AviList yang diluncurkan pada 11 Juni 2025.

Kehadiran daftar ini bertujuan menyatukan perbedaan taksonomi global, sehingga data burung Indonesia dapat dibandingkan secara lebih konsisten di tingkat internasional.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.