TRIBUNNEWS.COM - Inter Milan akhirnya memberikan jawaban berkelas setelah hanya mampu mengais dua poin dari tiga laga terakhir lewat kemenangan telak atas AS Roma, Senin (6/3/2026).
Hasil manis tim besutan Cristian Chivu ketika menjami AS Roma di San Siro Stadium dibuktikan dengan skor mencolok 5-2.
Kemenangan ini bukan sekadar raihan tiga poin, melainkan pernyataan tentang dominasi dan kematangan mental Inter.
Chivu selaku juru taktik tidak bisa menyembunyikan rasa puasnya atas transformasi yang ditunjukkan para pemainnya, terutama setelah jeda babak pertama.
Inter sejatinya sempat kesulitan meladeni permainan AS Roma di babak pertama. Tapi keadaan berubah di babak kedua.
Kembalinya sang kapten, Lautaro Martinez, menjadi pemicu utama.
Penyerang asal Argentina itu membuktikan kelasnya dengan torehan dua gol meski baru saja pulih dari cedera betis.
Pesta gol Inter kian lengkap lewat aksi Marcus Thuram, Nicolo Barella, dan gol ciamik Hakan Calhanoglu.
"Saya sangat senang Lautaro kembali, melihat Marcus mencetak gol dan assist, melihat Barella mencetak gol, hingga performa apik Denzel Dumfries," ujar Chivu mengutip DAZN Italia.
Chivu mengungkapkan bahwa kunci kemenangan ini adalah perubahan pendekatan taktis dan mentalitas di ruang ganti.
Menurutnya, Inter tidak lagi mau terjebak dalam kesalahan lama dengan bermain pasif saat unggul.
"Itulah yang kami minta saat jeda, pendekatan yang tepat sejak peluit babak kedua dibunyikan untuk menghabisi lawan. Kami menunjukkan tanda-tanda kematangan."
"Sebelumnya, kami sering goyah karena mencoba 'duduk manis' menjaga hasil, dan malam ini kami memilih untuk mendominasi dan membunuh permainan," tegas Chivu.
Baca juga: Play-off Piala Dunia 2026 - Bomber Inter Milan Memikul Janji untuk Timnas Italia
Roma sempat memberikan perlawanan sengit melalui pergerakan wingback mereka. Chivu mengakui timnya sempat khawatir dengan ancaman Malen dan dominasi Pisilli di lini tengah.
Namun, di babak kedua, Inter bermain lebih berani dengan mendorong garis pertahanan lebih tinggi dan mempercepat alur bola.
"Kami menunjukkan keberanian lebih besar di babak kedua, memutus lini mereka, dan mendorong pengatur serangan kami ke peran yang lebih maju."
"Saat Anda memberi ruang bagi pemain Roma, mereka sangat berbahaya. Kami meningkatkan intensitas dan memenangkan duel-duel kunci," tambah sang pelatih.
Di balik pesta gol tersebut, momen emosional mewarnai kemenangan Inter saat Alessandro Bastoni ditarik keluar.
Publik San Siro memberikan standing ovation yang merupakan bentuk dukungan nyata bagi sang bek yang tengah karena dihujani kritik tajam media akibat insiden di tim nasional dan rumor kepindahannya ke Barcelona.
Menanggapi atmosfer negatif yang sering menyelimuti sepak bola Italia, Chivu memberikan pesan bijak.
Ia mengingatkan bahwa sepak bola seharusnya tetap menjadi olahraga yang dicintai, bukan ladang kebencian.
"Kita semua bertanggung jawab karena negativitas seringkali lebih mendapat perhatian. Kita harus ingat bahwa sepak bola adalah permainan."
"Kita harus mengubah pendekatan terhadap olahraga indah ini seperti, dukunglah tim Anda, jangan hanya berharap buruk atau melontarkan hinaan kepada lawan," pungkasnya.
(Tribunnews.com/Niken)