SURYA.co.id – Kejahatan keji yang menimpa Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan, Andrie Yunus, masih jadi perhatian publik.
Ia menjadi korban penyiraman air keras oleh orang tak dikenal.
Namun alih-alih terpuruk dan meratapi nasib, Andrie justru muncul dengan pernyataan yang menggetarkan nurani publik.
Di tengah perawatan intensif akibat luka bakar kimia yang serius, Andrie memilih untuk tidak menjadi korban yang pasif.
Ia berdiri tegak secara mental dan menyampaikan pesan penuh keberanian kepada publik melalui rekaman suara yang diunggah di akun Instagram KontraS.
"Halo kawan-kawan, terima kasih atas segala bentuk dukungan yang telah diberikan kepada saya untuk menghadapi teror dari orang-orang yang pengecut," kata Andrie, dikutip SURYA.co.id, Minggu (5/4/2026)
"Saya akan tetap kuat, akan tetap tegar, tentu dengan segala dukungan penuh dari kawan-kawan sekalian. A luta continua, panjang umur perjuangan," sambung Andrie.
Pesan suara itu direkam pada 1 April 2026 dan diunggah sehari kemudian saat Andrie masih menjalani perawatan intensif di ruang High Care Unit (HCU).
Dari ruang perawatan itulah, sebuah “kemenangan mental” ditunjukkan kepada publik, fisiknya mungkin diserang, tetapi mentalnya tidak pernah runtuh.
Baca juga: Suara Perlawanan Andrie Yunus yang Jadi Korban Teror Air Keras: Panjang Umur Perjuangan
Kata “pengecut” yang disampaikan Andrie bukan sekadar luapan emosi.
Kata itu menjadi tamparan moral yang keras bagi pelaku penyiraman air keras.
Serangan menggunakan air keras dikenal sebagai kejahatan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, menyerang dari dekat, dan bertujuan merusak wajah serta masa depan korban secara permanen.
Kejahatan seperti ini bukan hanya melukai fisik, tetapi juga berusaha menghancurkan mental korban.
Namun dalam kasus ini, Andrie justru menunjukkan hal sebaliknya. Mentalnya tidak hancur. Ia tetap berdiri dan melawan secara moral.
"Saya tetap kuat, tegar. Kalian hanya orang-orang pengecut."
Pernyataan tersebut menjadi simbol bahwa pelaku boleh saja menyerang tubuh seseorang, tetapi tidak semua orang bisa dikalahkan secara mental.
Selama menjalani perawatan di ruang HCU, Andrie tidak sendiri.
Dukungan dari keluarga, sahabat, rekan aktivis, hingga masyarakat luas terus mengalir.
Kunjungan ke Andrie saat ini memang dibatasi oleh pihak rumah sakit, keluarga, dan kuasa hukum.
Pembatasan dilakukan agar Andrie bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, serta menjaga privasi dan ketenangannya selama proses pemulihan.
Hak pasien untuk mendapatkan perlindungan tersebut juga dijamin oleh undang-undang.
Meski demikian, dukungan publik terus mengalir melalui media sosial dan berbagai aksi solidaritas.
Ketegaran Andrie justru memicu gelombang simpati yang luas.
Banyak masyarakat yang memberikan doa dan dukungan moral, yang secara tidak langsung menjadi “obat” bagi pemulihan mentalnya.
Sementara itu, kondisi fisiknya saat ini masih dalam penanganan intensif.
Kepala Divisi Pemantauan Impunitas KontraS, Jane Rosalina, mengungkapkan bahwa Andrie telah menjalani tiga kali operasi, termasuk operasi pada bagian mata.
"Per 28 Maret kemarin sudah operasi yang ketiga kalinya dan Andrie ditemukan bahwa kornea matanya mengalami penipisan. Kemudian juga dinding bola matanya mengalami dugaan jebol," ucap Jane.
"Yang akhirnya mata Andrie sudah dioperasi dan sudah ditambal dan juga sudah mengalami beberapa kali penanganan medis lainnya," jelas Jane.
Tim dokter dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo juga melakukan penambahan amnion pada jaringan mata, pengangkatan jaringan luka bakar yang rusak, serta tindakan cangkok kulit karena luka bakar yang dialami tergolong cukup tebal di beberapa bagian tubuh.
Namun di tengah semua luka fisik itu, satu hal yang tetap kuat adalah mental Andrie.
Ketegaran Andrie bukan hanya menjadi inspirasi, tetapi juga menjadi pengingat bahwa kasus ini tidak boleh berhenti pada simpati semata.
Penegak hukum didesak untuk segera mengungkap dan menangkap pelaku penyiraman air keras tersebut.
Sosok yang sudah berjuang sekuat Andrie layak mendapatkan keadilan secepatnya.
Keberaniannya melawan rasa sakit dan trauma menjadi simbol bahwa masa depan Andrie tidak berhenti di titik ini.
Sebaliknya, keberanian itu justru membuka lembaran baru: Andrie kini tidak hanya dikenal sebagai aktivis, tetapi juga sebagai simbol ketegaran melawan teror dan ketidakadilan.
Kisah Andrie Yunus menyampaikan satu pesan kuat, kejahatan mungkin bisa melukai fisik seseorang, tetapi kejahatan akan gagal jika korbannya menolak untuk menyerah.
Andrie Yunus telah menang secara moral. Ia tidak tunduk pada teror, tidak kalah oleh luka, dan tidak diam terhadap ketakutan.
Kini, tinggal tugas aparat penegak hukum untuk memastikan para “pengecut” itu mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum.
Kepala Divisi Pemantauan Impunitas KontraS, Jane Rosalina, mengungkapkan Andrie telah menjalani tiga kali operasi.
Kornea matanya mengalami penipisan, dan dinding bola mata diduga jebol. Kondisi ini ditangani oleh tim dokter RSCM yang terdiri dari berbagai spesialis.
“Per 28 Maret kemarin sudah operasi yang ketiga kalinya dan Andrie ditemukan bahwa kornea matanya mengalami penipisan. Kemudian juga dinding bola matanya mengalami dugaan jebol,” ucap Jane dikutip dari Tribunnews.
Tim medis melakukan tindakan darurat berupa operasi mata, penambalan jaringan, penambahan amnion, pengangkatan jaringan rusak, hingga cangkok kulit.
Kondisi disebut mulai menunjukkan perbaikan meski luka bakar yang dialami cukup tebal di beberapa bagian tubuh.
“Yang akhirnya mata Andrie sudah dioperasi dan sudah ditambal dan juga sudah mengalami beberapa kali penanganan medis lainnya,” jelas Jane.
Selain itu, dokter melakukan rekonstruksi wajah dan bedah kulit untuk menangani luka bakar. Proses ini menunjukkan betapa seriusnya dampak serangan tersebut terhadap kondisi fisik Andrie.