TRIBUNJATIM.COM - Jesica nenek yang jasadnya ditemukan di dasar jurang di Sumatera Barat itu diketahui meninggal dipicu omongan pedasnya.
Jesica dibunuh oleh seorang anak tetangganya yang ternyata dendam kesumat dengan ucapannya 10 tahun yang lalu.
Orang tuanya dituding Jesica mencuri emas, Aldes tak terima hingga akhirnya menghabisi nyawa si nenek tua.
Jesica (76), ditemukan terkubur di dasar jurang di Jorong Pasar Palembayan, Nagari Ampek Koto Palembayan, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat pada Selasa (31/3/2026) pagi sekitar pukul 07.00 WIB.
Jasadnya terkubur di kedalaman tanah pada kawasan jurang sedalam 15–20 meter yang berada tepat di belakang rumahnya.
Kapolsek Palembayan AKP Alwizi Safriadi mengonfirmasi bahwa pihak kepolisian telah mengamankan tersangka berinisial Aldes (30).
Tersangka merupakan tetangga dekat yang tinggal di lingkungan yang sama dengan korban.
"Pelaku sudah kita amankan. Dia masih satu lingkungan dengan korban," ujar Alwizi, Selasa.
Berdasarkan pemeriksaan kepolisian, aksi nekat Aldes dipicu oleh dendam lama yang telah terpendam selama 10 tahun.
Pelaku mengaku sakit hati karena pada tahun 2016, orangtuanya pernah dituduh mencuri emas oleh korban.
Kepada penyidik, pelaku mengklaim bahwa luka lama tersebut kembali muncul setelah dirinya bermimpi bertemu dengan orangtuanya yang telah meninggal dunia.
Dalam mimpi tersebut, pelaku mengaku diminta untuk membalas perbuatan korban di masa lalu.
"Motifnya dendam lama. Pelaku mengaku bermimpi bertemu orangtuanya dan disuruh membalas perbuatan korban," kata Alwizi, dikutip TribunJatim.com via Tribun Bogor, Senin (6/4/2026).
Dalam pandangan pakar kejiwaan, tindakan pembunuhan yang dipicu oleh dendam lama misalnya karena penghinaan terhadap orang tua biasanya tidak terjadi secara tiba-tiba.
Tindakan tersebut dipicu dari akumulasi proses psikologis yang panjang.
Dalam kajian psikologi, dendam dipahami sebagai emosi yang tersimpan (resentment) yang terus dipelihara dalam ingatan dan emosi seseorang.
Ketika seseorang tidak mampu mengolah rasa sakit hati atau penghinaan secara sehat, emosi tersebut dapat mengendap dan berubah menjadi kemarahan kronis.
Dalam kondisi ini, korban cenderung terus mengulang kembali peristiwa menyakitkan dalam pikirannya (rumination), sehingga luka emosional terasa seolah-olah masih terjadi di masa kini, meskipun kejadian aslinya sudah lama berlalu.
Dari sudut pandang klinis, pakar juga mengaitkannya dengan konsep trauma psikologis, terutama jika penghinaan tersebut menyentuh nilai yang sangat mendasar seperti harga diri keluarga atau kehormatan orang tua.
Dalam banyak budaya, termasuk masyarakat yang menjunjung tinggi nilai kekeluargaan, penghinaan terhadap orang tua bisa dirasakan sebagai serangan terhadap identitas diri.
Jika individu tersebut tidak memiliki mekanisme coping yang sehat—seperti kemampuan memaafkan, mencari dukungan sosial, atau menyalurkan emosi secara konstruktif—maka dendam dapat berkembang menjadi obsesi yang menetap.
Lebih jauh, pakar juga menjelaskan bahwa dalam beberapa kasus, dendam yang berkepanjangan dapat memengaruhi cara seseorang memandang dunia dan orang lain.
Individu bisa mengalami distorsi kognitif, yaitu cara berpikir yang tidak proporsional, seperti membesar-besarkan kesalahan orang lain atau merasa bahwa balas dendam adalah satu-satunya cara memulihkan harga diri.
Dalam kondisi ekstrem, hal ini dapat berkaitan dengan gangguan seperti gangguan kepribadian atau ledakan emosi yang tidak terkendali.
Pada titik tertentu, ketika ada pemicu (trigger) yang mengingatkan kembali pada penghinaan lama, individu dapat kehilangan kontrol diri dan melakukan tindakan impulsif atau bahkan terencana seperti kekerasan.
Peristiwa pembunuhan tersebut terjadi pada Selasa subuh sekitar pukul 04.30 WIB.
Saat itu, korban keluar rumah dengan maksud mencari kucing peliharaannya.
Namun, tanpa disadari, pelaku sudah mengintai di sekitar lokasi sejak dini hari.
Dilansir dari KompasTV, Senin (6/4/2026), rekaman CCTV di sekitar tempat kejadian perkara (TKP) memperlihatkan gerak-gerik mencurigakan pelaku yang sudah mondar-mandir sejak pukul 00.30 WIB.
Bahkan, pelaku sempat dua kali berganti pakaian, dari semula berbaju merah menjadi kuning.
Baca juga: Alasan Honorer PUPR Divonis Bebas Meski Terbukti Melakukan Pembunuhan Berencana
Sekitar pukul 05.00 WIB, pelaku melancarkan aksinya hingga korban meninggal dunia.
Untuk menutupi perbuatannya, pelaku menyeret jenazah ke belakang rumah dan menguburkannya di area jurang.
Terungkapnya kasus ini bermula dari laporan warga yang mendengar teriakan minta tolong sekitar pukul 05.00 WIB.
Selepas shalat subuh, saksi melaporkan kejadian tersebut ke kantor wali nagari.
Warga yang mendatangi rumah korban menemukan bercak darah di halaman depan, sementara Jesica tidak ditemukan di dalam rumah.
Baca juga: Pelaku Pembunuhan Wanita dengan Tangan Terikat di Malang Berhasil Ditangkap, Motif Masih Diselidiki
Pencarian massal kemudian dilakukan hingga warga menemukan gundukan tanah bekas galian di jurang belakang rumah.
"Setelah ditemukan, wali nagari langsung melaporkan ke pihak kepolisian dan menyerahkan rekaman CCTV," tutur Alwizi.
Hal yang mengejutkan, pelaku sempat bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
Ia bahkan ikut berbaur di tengah kerumunan warga yang menyaksikan proses evakuasi jasad korban.
"Pelaku sempat ikut berkerumun melihat penemuan mayat. Kita amankan dari tengah massa," tambah Alwizi.
Baca juga: Sempat Disebut Bakal Disidangkan di Ponorogo, Eks Bupati Sugiri Sancoko Belum Diadili PN
Proses hukum selanjutnya Polisi berhasil menangkap pelaku dalam waktu kurang dari tiga jam setelah laporan resmi diterima pada pukul 09.30 WIB.
Selain rekaman CCTV, kesaksian seorang garin masjid yang melihat pelaku di lokasi dengan alasan mencari anjing juga menjadi bukti pendukung kuat.
Tersangka Aldes beserta barang bukti telah dilimpahkan ke Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Agam untuk penyidikan lebih lanjut terkait pasal pembunuhan berencana yang mungkin disangkakan.