Bayang-Bayang PHK Massal Menghantui Buruh Indonesia Imbas Perang AS-Israel VS Iran
Glery Lazuardi April 06, 2026 05:38 PM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Rangkaian serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel yang berlangsung ke Iran sejak 28 Februari 2026 hingga hari ini yang menyebabkan serangan balasan dari Iran telah berdampak pada harga minyak dunia saat ini.

Di tengah kecamuk perang yang masih berlangsung hingga hari ini Senin (6/4/2026), situasi keamanan di Selat Hormuz yang menjadi jalur lintas pengiriman sekira 20 persen minyak dan gas alam cair dunia masih tak pasti.

Untuk mengantisipasi situasi itu, sejumlah negara ASEAN telah berupaya dengan berbagai cara untuk melakukan efisiensi konsumsi bahan bakar minyak.

 

Di Indonesia sendiri, Pemerintah di antaranya telah memberlakukan kebijakan Work Form Home (WFH) satu hari dalam sepekan.

Di Indonesia, situasi itu pun menimbulkan bayang-bayang ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran.

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) sekaligus Presiden Partai Buruh Said Iqbal mengungkapkan telah menerima laporan dari anggotanya terkait situasi itu.

Hal itu disampaikannya saat konferensi pers secara daring pada Senin (6/4/2026).

"BBM bersubsidi memang tidak dinaikkan oleh pemerintah, tetapi BBM industri kan naik. BBM industri tidak bersubsidi. Oleh karena itu, panjangnya perang ini akan memberikan tekanan pada biaya produksi di bahan bakar untuk menggerakkan mesin-mesin, turbin-turbin, listrik, dan biaya-biaya energi lainnya bagi pengusaha," ujar dia.

Baca juga: Planet Labs Blokir Citra Perang Iran atas Permintaan AS, Akses Satelit Ditutup Tanpa Batas

Selain itu, kata Iqbal, situasi itu juga diperburuk dengan adanya kebijakan impor 160 ribu mobil dari Jepang, India, dan China yang dikonfirmasi oleh PT Agrinas Pangan Nusantara.

Menurutnya kebijakan yang ditujukan untuk mendukung program strategis pemerintah yakni Koperasi Desa Merah Putih itu berpotensi berdampak pada penyerapan tenaga kerja di Indonesia.

Berdasarkan perhitungan yang dilakukan bagian Penelitian dan Pengembangan (Litbang) KSPI dan Partai Buruh seharusnya kebijakan itu bisa menyerap tenaga kerja berkisar 20 ribu hingga 50 ribu orang.

Ia pun menegaskan pihaknya menentang keras kebijakan impor itu meskipun mendukung kebijakan Koperasi Desa Merah Putih yang dicanangkan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

"Apa hubungannya impor mobil dari India kok ada ancaman PHK? Ya jelas ada. Kan di dalam pabrik mobil itu ada karyawan tetap ada karyawan kontrak. Kalau pekerjaan berkurang, order berkurang otomatis karyawan kontrak di-PHK tidak diperpanjang kontraknya," ucap dia.

"Kalau ada mobil impor yang dari India tadi dikerjakan di Indonesia maka akan memperpanjang kontrak juga menambah tenaga kerja yang baru. Itulah maksudnya," ujarnya.

"Di tengah ancaman perang ini, ancaman PHK akan terjadi besar-besaran dalam tiga bulan ke depan yang kami mendapatkan informasi tersebut," lanjut Iqbal.

Bagi Iqbal dengan kebijakan impor itu, pemerintah mungkin bisa mendapatkan biaya yang sedikit lebih rendah.

 

Namun menurutnya, soal penyerapan tenaga kerja juga perlu diperhatikan.

"Kalau harganya lebih tinggi sedikit enggak ada masalah kan penyerapan tenaga kerja," pungkasnya.

Situasi Terkini di Selat Hormuz

Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan situasi di Selat Hormuz telah mengalami perubahan strategis yang tidak dapat diubah dan tidak akan pernah kembali ke status sebelumnya khususnya bagi Amerika Serikat dan rezim Israel.

Dilansir dari Press TV pada Minggu (5/4/2026), pasukan militer Iran tengah menyelesaikan persiapan operasional untuk tatanan keamanan baru di wilayah Teluk Persia.

Komando Angkatan Laut IRGC menyatakan era hegemoni asing atas jalur air internasional yang penting tersebut telah berakhir dalam pernyataan resmi pada Minggu (5/4/2026) lewat akun X. 

Angkatan Laut IRGC juga menekankan perkembangan regional baru-baru ini telah menciptakan realitas baru di mana kekuatan ekstra-regional yang dipimpin oleh AS tidak lagi dapat mendikte persyaratan atau memproyeksikan pengaruh tanpa batas di lingkungan maritim Iran.

Mereka juga menyatakan Selat Hormuz tidak akan pernah kembali ke status sebelumnya, terutama bagi AS dan rezim Israel.

Angkatan Laut IRGC juga menegaskan kembali komitmen Iran untuk mempertahankan kedaulatannya dan keamanan Teluk Persia terhadap campur tangan yang dapat menggoyahkan stabilitas.

Baca juga: AS Babak Belur! Biaya Perang Melawan Iran Membengkak, Kerugian Militer Capai Miliaran Dolar

Harga Minyak Dunia Terkini

Harga minyak dilaporkan melonjak pada hari perdagangan pertama pekan ini usai Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman terhadap Iran.

Lewat akun Truth Social-nya, Trump mengatakan jika Iran tidak membuka Selat Hormuz pada Selasa (7/4/2026), AS akan menargetkan pembangkit listrik dan jembatan di Iran.

Dilansir dari Businessinsider.com, harga minyak mentah Brent sempat melonjak 2,6 persen sebelum kemudian turun dan diperdagangkan 0,7 persen lebih tinggi pada USD109,65 per barel pada pukul 00:02 dini hari Waktu Timur (ET) pada Senin (6/4/2026).

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS tercatat turun 0,3 persen menjadi USD111,17 setelah sempat naik hingga 3,5 persen menjadi USD115,48 per barel.

Disebutkan, penutupan Selat Hormuz dan guncangan terkait perang lainnya telah menghancurkan ekonomi global.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.