Cara Membuat Ecoenzyme dari Sampah Organik Dibagikan Akademisi UHO ke Warga Anggoeya Kendari
Sitti Nurmalasari April 06, 2026 09:47 PM

TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Jurusan Ilmu Lingkungan, Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan (FHIL) Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari bersama Universitas Jember memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai cara membuat ecoenzyme dari sampah organik, Senin (6/4/2026).

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan dosen dan mahasiswa ini bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sulawesi Tenggara (Sultra). 

Adapun sasaran kegiatan, yakni anggota dasa wisma di Kelurahan Anggoeya, Kecamatan Poasia, Kota Kendari, Provinsi Sultra.

Kegiatan bertajuk Edukasi dan Pendampingan Produksi Ecoenzyme Berbasis Komunitas untuk Mendukung Ekonomi Sirkular ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan limbah untuk mengurangi sampah organik.

Sekaligus memberikan pengetahuan praktis tentang pemanfaatan limbah organik menjadi produk yang bernilai guna.

Baca juga: Cara Membuat Pupuk Pestisida Nabati ala Dosen Pertanian UHO Kendari, Cocok Tanaman Hortikultura

Ecoenzyme merupakan cairan hasil fermentasi limbah organik seperti kulit buah dan sayuran.

Produk ini memiliki berbagai manfaat, antara lain sebagai pembersih alami, pupuk cair, hingga pengendali hama yang ramah lingkungan.

Ketua Tim Pengabdian, Prof Kahirun, mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen perguruan tinggi dalam mendukung pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat.

Melalui edukasi tersebut, warga Anggoeya diharapkan dapat mengurangi volume sampah organik sekaligus memanfaatkannya secara produktif.

Dalam pelatihan ini, tim pengabdian mempraktikkan langsung proses pembuatan ecoenzyme menggunakan bahan sederhana, yakni 3 kilogram kulit buah, 1 kilogram gula merah, dan 15 liter air bersih. 

“Wadah yang digunakan berupa galon bekas untuk proses fermentasi serta botol bekas berukuran 330 mililiter untuk penyimpanan,” ujarnya.

Baca juga: Cara Membuat Kerupuk Ampas Tebu Dibagikan Mahasiswa KKN Reguler IAIN Kendari Sulawesi Tenggara

Adapun proses pembuatannya, kulit buah dipotong kecil agar proses fermentasi lebih cepat, sedangkan gula merah dihancurkan supaya mudah larut.

Selanjutnya, air bersih dituangkan ke dalam galon, kemudian gula merah dimasukkan dan diaduk hingga larut. 

Setelah itu, potongan kulit buah ditambahkan ke dalam larutan tersebut.

Campuran bahan kemudian ditutup rapat dan disimpan di tempat teduh yang tidak terkena sinar matahari langsung. 

Selama proses fermentasi, tutup galon perlu dibuka secara berkala untuk mengeluarkan gas yang terbentuk.

Baca juga: Cara Daftar Kerja ke Taiwan Lewat Program KemenP2MI, Warga Sulawesi Tenggara Bisa Ikut Seleksi

Pada pekan pertama, tutup wadah dibuka setiap hari. Memasuki pekan kedua hingga ketiga, pembukaan dilakukan setiap dua hingga tiga hari sekali.

Kemudian, cukup dilakukan sepekan sekali hingga proses fermentasi selesai.

Proses fermentasi ecoenzyme berlangsung sekitar tiga bulan. 

Setelah itu, larutan disaring untuk memisahkan cairan dari ampas kulit buah. 

Cairan hasil penyaringan itulah yang disebut ecoenzyme, sedangkan sisa ampas dapat dimanfaatkan sebagai kompos.

Baca juga: Syarat dan Cara Daftar Mahasiswa Baru UHO Kendari Jalur SNBT 2026, Batas Akhir Pendaftaran 7 April

“Ecoenzyme yang berhasil umumnya berwarna cokelat kekuningan dan memiliki aroma asam segar menyerupai cuka. Jika berbau busuk, kemungkinan proses fermentasi tidak berjalan dengan baik,” jelasnya.

Perwakilan DLH  Sultra, Yusnani, mengapresiasi kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat dalam kegiatan ini.

Menurutnya, sinergi lintas sektor menjadi kunci untuk mewujudkan pengelolaan sampah yang efektif dan berkelanjutan.

Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mulai menerapkan pengelolaan sampah organik secara mandiri di lingkungan rumah tangga.

“Ke depan, program edukasi serupa direncanakan akan terus dikembangkan dan diperluas ke wilayah lain di Sulawesi Tenggara. Kelurahan Anggoeya diharapkan dapat menjadi contoh penerapan pengelolaan sampah organik berbasis masyarakat yang ramah lingkungan,” jelasnya. (*)

(TribunnewsSultra.com/Dewi Lestari)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.