Sejarah Masjid Al Baitul Amien, Ikon Religi Kabupaten Jember
Dwi Prastika April 06, 2026 10:22 PM

TRIBUNMADURA.COM – Masjid Jami Al Baitul Amien Jember merupakan salah satu ikon religi di Jawa Timur yang tidak hanya berfungsi sebagai pusat peribadatan, tetapi juga menyimpan nilai sejarah panjang serta keunikan arsitektur yang khas, Senin (6/4/2026).

Terletak di sisi barat Alun-alun Kabupaten Jember, tepatnya di Jalan Raya Sultan Agung, masjid ini berdiri berdampingan dengan masjid lama yang menjadi cikal bakal pengembangannya.

Baca juga: Sejarah dan Pengertian Ludruk, Teater Rakyat Khas Jawa Timur

Sejarah Pembangunan Masjid

Berdasarkan laman disperpusip.jatimprov.go.id, Masjid Jami Al Baitul Amien merupakan masjid baru yang dibangun di sebelah utara Masjid Jami lama, dipisahkan oleh jalan raya yang membelah kawasan Alun-alun Jember.

Pembangunan masjid ini dipelopori oleh KH Ahmad Siddiq sebagai perwakilan ulama serta Mulyadi, Kepala Dinas PUD Kabupaten Jember, mewakili pemerintah daerah.

Dari kedua tokoh ini muncul gagasan pembangunan masjid dengan konsep tawaf, yakni menggambarkan pergerakan mengelilingi Kabah dalam ibadah haji.

Perencanaan arsitektur kemudian dipercayakan kepada Ir Ya Ying K Kesser, arsitek asal Bandung yang merupakan alumnus perguruan tinggi di California, Amerika Serikat.

Masjid ini dibangun di atas lahan seluas 1,75 hektare, yang merupakan gabungan dari tanah milik negara dan masyarakat.

Secara tata ruang, lokasi masjid berada di pusat pemerintahan Kabupaten Jember, dikelilingi kantor pemerintahan dan fasilitas publik lainnya.

Masjid Jami Al Baitul Amien mulai digunakan secara resmi pada tahun 1978, bersamaan dengan peresmian Pasar Besar “Tanjung.”

Sejak saat itu, masjid ini difungsikan sebagai Masjid Jami, yakni pusat pelaksanaan salat Jumat serta salat hari raya.

Pengelolaan masjid baru dan masjid lama tetap berada dalam satu manajemen, dengan pembagian fungsi.

Masjid baru difokuskan sebagai pusat peribadatan utama, sementara masjid lama dimanfaatkan untuk kegiatan penunjang seperti pendidikan, perpustakaan, serta aktivitas keagamaan lainnya.

Baca juga: Kisah 99 Relawan Genzi Layani Jemaah di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya

Keunikan Arsitektur dan Gambaran Masjid

Sementara itu, dilansir dari data albaitulamin.com, Masjid Al Baitul Amien memiliki karakter arsitektur yang berbeda dibandingkan masjid pada umumnya di Indonesia.

Bangunan utama berbentuk kubah besar (dome) dengan diameter sekitar 34 meter, ditopang oleh struktur beton berbentuk busur.

Di sekelilingnya terdapat beberapa bangunan pelengkap yang juga berbentuk kubah, digunakan untuk ruang ibadah wanita, anak-anak, serta fasilitas wudu.

Masjid ini tidak memiliki serambi seperti masjid tradisional pada umumnya.

Sebagai gantinya, terdapat teras terbuka yang berfungsi sebagai area transisi menuju ruang utama.

Di sisi selatan gerbang utama berdiri sebuah menara setinggi 33 meter, yang dilengkapi pengeras suara dan menjadi penanda visual kawasan masjid.

Dari segi interior, pencahayaan alami dimaksimalkan melalui penggunaan jendela kaca lebar yang mengelilingi bangunan.

Sistem ventilasi juga dirancang untuk memungkinkan sirkulasi udara silang, sehingga ruang tetap sejuk tanpa bergantung pada ventilasi buatan.

Selain itu, tata suara dalam ruang kubah diperhatikan dengan penggunaan material bertekstur pada langit-langit untuk meredam pantulan suara, sehingga mendukung kekhusyukan ibadah.

Dalam perkembangannya, tampilan masjid mengalami pembaruan dengan dominasi warna kuning keemasan pada kubah dan ornamen.

Warna tersebut dipilih sebagai simbol semangat dan identitas Jember sebagai daerah penghasil tembakau berkualitas, yang dikenal dengan sebutan “daun emas.”

Baca juga: Sejarah Masjid Jamik Sumenep, Mulai dari Keraton sampai Menjadi Ikon Religi

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.