Dari Desa Namang ke Panggung Dunia, Alwan Nabil Angkat Film Lokal Babel ke Level Internasional
Asmadi Pandapotan Siregar April 06, 2026 10:39 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Dari sebuah desa di Kabupaten Bangka Tengah, mimpi besar itu tumbuh perlahan. Tak banyak yang menyangka, seorang pemuda bernama Alwan Nabil Ramadhan, akrab disapa Abil, mampu membawa karya filmnya menembus panggung nasional, bahkan mulai dilirik di kancah internasional.

Kepada Bangkapos.com, Senin (6/4/2026), Abil bercerita, kecintaannya terhadap dunia film berangkat dari hal sederhana. Tanpa latar pendidikan perfilman formal, ia memulai segalanya secara otodidak, berbekal kamera sederhana dan rasa ingin tahu yang besar.

"Saya awalnya hanya suka menonton film pendek dan mencoba-coba. Dari situ belajar sendiri, pelan-pelan memahami bagaimana membuat film," ujarnya kepada Bangkapos.com, Senin (6/4/2026).

Berangkat dari Desa Namang, Abil tak berjalan sendiri. Ia justru merangkul lingkungan sekitarnya, anak-anak muda hingga masyarakat desa, untuk ikut terlibat dalam proses produksi film. Baginya, film bukan sekadar karya, tetapi juga ruang kolaborasi dan pemberdayaan.

Tekad itu kini berbuah hasil. Film pendek garapannya berjudul Tujuh Hari Setelah Bapak Berpulang sukses mencuri perhatian di tingkat nasional. Film tersebut bahkan mendominasi penghargaan dalam ajang Santri Film Festival (SANFFEST) 2025 yang digelar Kementerian Agama.

Menariknya, film ini merupakan hasil kolaborasi bersama Pondok Pesantren Bahrul Huda, di Sungai Selan, tempat Abil pernah menimba ilmu saat masih duduk di bangku SMP. Keterlibatan pesantren tersebut menjadi bagian penting dalam proses kreatif, sekaligus memperkuat nuansa santri dalam cerita yang diangkat.

Alwan Nabil Ramadhan saat proses produksi film Tujuh Hari Setelah Bapak Berpulang.
Alwan Nabil Ramadhan saat proses produksi film Tujuh Hari Setelah Bapak Berpulang. (Istimewa/ dok Nabil)

Dalam festival yang diikuti 125 film dari 115 pesantren di 20 provinsi itu, karya Abil meraih sejumlah penghargaan bergengsi, termasuk Sinematografi Terbaik dan Pemeran Putra Terbaik. Tak hanya itu, film tersebut juga meraih sejumlah posisi runner-up di berbagai kategori, mulai dari Film Cerita Terbaik hingga Pengarah Artistik.

Film ini sendiri mengangkat kisah Ilham, seorang santri dari keluarga sederhana yang harus menghadapi duka kehilangan ayahnya. Cerita tersebut dipadukan dengan kearifan lokal Bangka Belitung, yakni tradisi nganggung, yang sarat makna kebersamaan dan solidaritas sosial.

Abil mengungkapkan, ide besar di balik film ini adalah keinginannya menyuarakan isu sosial yang masih terjadi di masyarakat.

"Saya ingin mengangkat bagaimana keluarga yang sedang berduka juga dihadapkan pada tuntutan tradisi yang membutuhkan biaya tidak sedikit. Tapi di sisi lain, ada nilai budaya dan kebersamaan yang justru sangat indah di situ," jelasnya.

Karya tersebut tak berhenti di tingkat nasional. Film ini juga telah menembus festival internasional, dengan menjadi official selection di Lift-Off Global Network 2026 dan The Sixth Borough Film Festival 2026.

SANTRI FILM FESTIVAL -- Alwan Nabil Ramadhan saat peanugrahan sinematografi terbaik dan pemeran putra terbaik dalam penghargaan dalam ajang Santri Film Festival (SANFFEST) 2025 yang digelar Kementerian Agama. 
SANTRI FILM FESTIVAL -- Alwan Nabil Ramadhan saat peanugrahan sinematografi terbaik dan pemeran putra terbaik dalam penghargaan dalam ajang Santri Film Festival (SANFFEST) 2025 yang digelar Kementerian Agama.  (Istimewa/ dok Nabil)

Bagi Abil, capaian ini menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk bersaing.

"Walaupun kita dari daerah kepulauan seperti Bangka Belitung, bukan dari kota besar, bukan lulusan perfilman ternama, tapi kalau punya tekad, kita bisa bersaing," tegasnya.

Saat ini, Abil tercatat sebagai mahasiswa Universitas Terbuka jurusan Ilmu Komunikasi. Ia mengakui, perjalanan yang ia tempuh memberikan pelajaran penting tentang konsistensi dan keberanian untuk mencoba.

Lebih dari sekadar prestasi, Abil menyimpan harapan besar. Ia ingin film yang dibuatnya tidak hanya menghibur, tetapi juga mengedukasi serta memperkenalkan budaya Bangka Belitung ke khalayak luas.

"Saya ingin orang-orang di luar sana tahu bahwa budaya kita itu indah dan punya nilai. Film ini jadi salah satu cara untuk memperkenalkannya," ungkapnya.

Ke depan, Abil dan timnya tengah berupaya menembus pasar global yang lebih luas. Ia percaya, karya lokal dengan identitas kuat justru memiliki daya tarik tersendiri di mata dunia.

Dari desa kecil di Namang, langkah itu kini semakin mantap. Abil membuktikan, mimpi besar tak harus lahir dari tempat besar, cukup dari keyakinan yang tak pernah padam. (Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.