TRIBUNBATAM.id, LINGGA – Deretan papan kayu tua yang masih kokoh berdiri selama puluhan tahun itu kini tampak porak-poranda.
Atap seng yang dulunya melindungi keluarga, beterbangan diterjang angin puting beliung, menyisakan rangka rumah panggung Melayu yang sarat kenangan di Pasir Kuning, Desa Tanjung Harapan, Kecamatan Singkep, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau, Senin (6/4/2026).
Rumah panggung berwarna kuning dan hijau itu bukan sekadar tempat tinggal bagi Hadijah (61) dan suaminya Hamidi (63).
Bangunan tersebut adalah warisan keluarga yang sudah ditempati sejak sekitar tahun 1960, sekaligus menjadi salah satu ikon rumah Melayu lama yang kini semakin jarang ditemukan di Dabo Singkep.
“Ini rumah peninggalan orangtua kami. Sekarang kami yang menempatinya,” ujarnya kepada Tribunbatam.id.
Rumah panggung tersebut dibangun dengan arsitektur khas Melayu, berdiri di atas tiang-tiang kayu yang tinggi, mirip dengan rumah tradisional yang banyak dijumpai di kawasan pesisir Malaysia.
Cat kuning dan hijau yang melekat pada dindingnya juga menjadi simbol identitas budaya Melayu, yang masih dipertahankan hingga kini.
Menurut cerita keluarga, rumah itu dibangun oleh ayah mereka yang bekerja sebagai karyawan perusahaan timah pada masa itu.
Dengan penghasilan yang cukup baik, orang tua mereka mampu mendirikan rumah panggung yang pada zamannya tergolong megah.
Berdiri sekitar 100 meter dari bibir pantai dan dikelilingi pohon kelapa serta pepohonan rindang lainnya, rumah tersebut selama ini dikenal warga sebagai salah satu bangunan klasik, yang membawa nostalgia suasana perkampungan Melayu tempo dulu.
Tak heran, keberadaannya menjadi salah satu penanda sejarah kecil bagi warga sekitar.
“Sekarang sudah jarang rumah seperti ini. Paling hanya ada di beberapa tempat seperti Kampung Boyan, Sekop Laut, dan Sekop Darat,” kata salah seorang keluarga.
Namun, ketenangan rumah yang selama puluhan tahun berdiri kokoh itu berubah dalam hitungan menit saat angin puting beliung datang.
Terjangan angin kencang sekira pukul 01.30 WIB, membuat atap rumah terlepas dan beberapa bagian bangunan mengalami kerusakan.
Kini keluarga hanya bisa berharap untuk memperbaiki rumah yang penuh kenangan tersebut.
Sementara itu, Kepala Desa Tanjung Harapan, Irwansyah mengatakan pihaknya telah mendata rumah warga yang terdampak bencana untuk dilaporkan kepada instansi terkait.
“Saat ini kami sudah mendata rumah korban untuk disampaikan ke BPBD dan Dinas Sosial. Bersama masyarakat dan pihak terkait juga dilakukan gotong royong untuk membersihkan puing-puing,” kata Irwansyah.
Ia juga mengimbau warga agar tetap sabar menghadapi musibah tersebut serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana cuaca ekstrem.
“InsyaAllah pemerintah desa tidak akan tinggal diam. Kami akan berupaya mencari solusi terbaik untuk membantu warga yang terkena musibah,” ujarnya.
Irwansyah juga mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap perubahan cuaca yang tidak menentu, mengingat bencana seperti puting beliung bisa datang secara tiba-tiba. (Tribunbatam.id/Febriyuanda)