Agroeduwisata Mata Air, Inisiatif Sinode GMIT Bangun Kemandirian Pangan Jemaat
Oby Lewanmeru April 06, 2026 10:41 PM

Laporan Reporter POS-KUPANG. COM, Alexandro Novaliano Demon Paku

POS-KUPANG. COM, OELAMASI - Di tengah tantangan krisis pangan global dan ketidakpastian ekonomi, Sinode GMIT mengambil langkah strategis dengan mengembangkan Agroeduwisata GMIT di Desa Mata Air, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang. 

Inisiatif ini menjadi wujud diakonia transformatif gereja dalam memperkuat kemandirian pangan dan ekonomi jemaat.

Pengembangan kawasan ini merupakan hasil kolaborasi antara Sinode GMIT bersama Politeknik Pertanian Negeri Kupang, Pemerintah Provinsi NTT, Pemerintah Kabupaten Kupang, Bank Indonesia, dan Bulog NTT.

Ketua Majelis Sinode GMIT, Semuel B. Pandie, menegaskan bahwa langkah ini merupakan bentuk nyata keberpihakan gereja kepada jemaat melalui penguatan sektor pertanian.

Baca juga: Wapres Gibran Apresiasi Sinergi Politani Kupang dan Sinode GMIT Bangun Agroeduwisata Mata Air

“Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat sinergi kolaborasi menuju misi pelayanan diakonia transformatif bagi jemaat. Damparit yang dibangun merupakan wujud keberpihakan gereja untuk menjadikan pertanian sebagai penyanggah utama kehidupan,” ujarnya.

Pendampingan teknis dalam pengelolaan kawasan dilakukan secara intensif oleh pihak akademisi. 

Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) Politani Kupang, Cardial L.O. Leo Penu, menjelaskan bahwa fokus pengabdian masyarakat diarahkan pada pengembangan agro-eduwisata berbasis pemberdayaan komunitas.

Pendekatan ini diwujudkan melalui penerapan praktik pertanian ilmiah, seperti sistem tanam legowo dan penggunaan pupuk hayati ramah lingkungan guna meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan.

Di kawasan tersebut, lahan sawah seluas 5,38 hektare dikelola oleh 32 anggota Kelompok Tani Sulamanda yang dipimpin Matheus Ukat.

 Untuk mengatasi kendala air saat musim kemarau, dibangun damparit sepanjang 30 meter dan lebar 15 meter yang juga dimanfaatkan sebagai kolam pemancingan dengan berbagai jenis ikan seperti nila, patin, mas, dan lele.

Matheus mengungkapkan, hasil produksi menunjukkan angka yang cukup menjanjikan.

“Hasil panen mencapai 9,3 ton gabah kering giling, dan estimasi tiga kali musim tanam bisa mencapai sekitar 150 ton,” jelasnya.

Selain pengelolaan sawah, lahan seluas 30 are juga dimanfaatkan oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) Cinta Kasih untuk budidaya sayuran seperti kangkung, sawi, bayam, dan bawang.

Panen Simbolis 

Puncak pengembangan kawasan ini ditandai dengan peresmian oleh Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, pada Senin (6/4/2026), yang dirangkaikan dengan panen simbolis serta pembukaan kolam pemancingan sebagai tanda dimulainya operasional kawasan agroeduwisata.

Dalam kesempatan tersebut, Wapres juga mendorong keterlibatan aktif generasi muda dalam sektor pertanian sebagai bagian dari upaya mencapai swasembada pangan dan energi nasional.

“Saya titip kepada pendeta, tokoh agama, dan masyarakat, mari kita dorong anak-anak muda untuk bisa terlibat di sektor pertanian. Fokus Bapak Presiden adalah swasembada pangan dan energi, jadi produksi harus benar-benar kita genjot,” kata Gibran Rakabuming Raka.

Sekretaris Sinode GMIT, Lay Abdi K. Wenyi, mengatakan momentum ini tidak hanya berbicara tentang aspek spiritual, tetapi juga kebangkitan ekonomi berbasis sektor riil.

“Pada perayaan Paskah, kita berbicara tentang kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan pertanian, perikanan, dan peternakan di tengah kondisi ekonomi masyarakat. Ini pesan yang ingin kita sampaikan kepada dunia,” ujarnya.

Saat ini, kawasan Agroeduwisata GMIT Tarus juga dimanfaatkan sebagai lokasi praktik lapangan bagi siswa SMA Kristen Tarus Tengah. 

Dengan adanya rumah pertemuan sebagai pusat edukasi, kawasan ini diharapkan mampu menekan angka kemiskinan dan stunting di Nusa Tenggara Timur, sekaligus menjadi pemasok bagi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Yayasan Alfa Omega. (nov)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.