TRIBUN-MEDAN.com - Seorang Wanita memutuskan untuk mengakhiri pernikahannya saat sedang mengandung anak pertama setelah menemukan fakta mengejutkan terkait kehidupan suaminya.
Keputusan tersebut diambil karena ia menilai pernikahan yang dijalaninya tidak dilandasi perasaan dan hanya akan menyiksa dirinya serta anak yang akan dilahirkan.
Dikutip dari Eva.vn, Senin (6/4/2026), Wanita tersebut mengungkapkan bahwa pernikahannya berlangsung melalui proses perkenalan.
Saat itu, ia berusia 29 tahun, sementara sang suami berusia 32 tahun dan baru kembali dari bekerja di luar negeri.
Berdasarkan informasi yang ia terima, suaminya dikenal sebagai pribadi yang bertanggung jawab karena selama bekerja di luar negeri selalu mengirimkan uang untuk membantu keluarga, termasuk membangun rumah dan membiayai pendidikan adik-adiknya.
Setelah beberapa kali pertemuan, perempuan itu menilai calon suaminya sebagai sosok yang pendiam, tidak romantis, namun terlihat dewasa dan memiliki keseriusan untuk membangun keluarga.
Di sisi lain, dorongan dari orang tua serta pertimbangan usia membuatnya tidak terlalu menuntut aspek romantisme dalam hubungan.
Ia kemudian menerima lamaran dan meyakini bahwa perasaan dapat tumbuh seiring waktu.
Namun, kondisi rumah tangga yang dijalani tidak sesuai dengan harapannya.
Beberapa hari setelah pernikahan, suaminya mengaku sibuk mengurus rencana usaha sehingga hubungan keduanya tidak berjalan hangat seperti pasangan baru pada umumnya.
Ia bahkan merasakan sikap suami yang semakin menjauh dan kerap menggunakan alasan pekerjaan untuk menghindari interaksi.
Selain itu, perempuan tersebut juga harus memikul tanggung jawab besar di rumah.
Kedua orang tua suaminya diketahui memiliki kondisi kesehatan yang kurang baik, di mana ibu mertua mengalami sakit sendi dan tidak mampu melakukan pekerjaan berat.
Akibatnya, seluruh pekerjaan rumah tangga menjadi tanggung jawabnya.
Ia mengaku merasa seperti hanya berperan sebagai menantu yang bertugas merawat orang tua suami.
Meski demikian, ia berusaha bertahan dengan meyakinkan diri bahwa suaminya tengah berupaya membangun masa depan keluarga.
Harapan itu sempat menguat ketika ia mengetahui dirinya hamil setelah enam bulan menikah. Ia menganggap kehamilan tersebut akan menjadi titik balik yang mempererat hubungan rumah tangganya.
Akan tetapi, kenyataan yang dihadapi justru berbeda. Ia menilai suaminya tidak menunjukkan antusiasme terhadap kehamilan tersebut.
Suami hanya memberikan dukungan secara finansial untuk kebutuhan pemeriksaan dan kesehatan, namun tidak pernah terlibat secara langsung, seperti mengantar kontrol kehamilan atau menanyakan kondisi kesehatannya.
Bahkan, dalam beberapa kondisi, ia harus menghadapi situasi sulit seorang diri, termasuk ketika mengalami kelelahan hingga pingsan.
Puncak permasalahan terjadi ketika ia secara tidak sengaja mengetahui isi percakapan di ponsel suaminya.
Dari situ, ia menemukan fakta bahwa suaminya pernah hidup bersama perempuan lain saat berada di Jepang dan memiliki seorang anak perempuan yang kini berusia lebih dari tiga tahun.
Berdasarkan isi percakapan tersebut, suaminya diketahui masih memiliki hubungan emosional yang kuat dengan perempuan tersebut.
Lebih lanjut, ia juga mengetahui bahwa pernikahannya diduga dilakukan atas keinginan orang tua suami, termasuk untuk memiliki anak laki-laki.
Dalam percakapan tersebut, suami disebut berencana kembali ke Jepang setelah sang istri melahirkan dan fokus merawat orang tuanya.
Mengetahui hal itu, perempuan tersebut mengaku merasa terpukul dan kehilangan kepercayaan terhadap pernikahan yang dijalaninya.
Ia menilai dirinya hanya dijadikan sebagai alat untuk memenuhi kepentingan keluarga suami.
Setelah mempertimbangkan berbagai hal, ia memutuskan untuk mengajukan perceraian.
Namun, keputusan tersebut mendapat respons tak terduga dari suaminya.
Suami disebut menawarkan dukungan finansial dengan syarat ia tetap tinggal untuk merawat orang tua serta melahirkan anak.
Meski demikian, perempuan tersebut tetap pada keputusannya untuk mengakhiri pernikahan.
Ia menyadari bahwa mempertahankan hubungan tanpa dasar kasih sayang hanya akan berdampak buruk bagi dirinya dan anak yang dikandung.
Keputusan tersebut diakui tidak mudah dan akan membawa konsekuensi berat di masa depan.
Namun, ia meyakini bahwa langkah tersebut merupakan pilihan terbaik untuk menghindari penderitaan yang lebih besar di kemudian hari.
(cr31/tribun-medan.com)