BAZNAS Kota Yogya Punya Pimpinan Baru, Siapkan Program Pemberdayaan Berbasis Jemaah
Yoseph Hary W April 07, 2026 12:01 AM

TRIBUNJOGJA.COM - Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, melantik jajaran pimpinan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Yogyakarta periode 2026-2031 di Grha Pandawa, Balai Kota Yogyakarta, Senin (6/4/26). 

Dalam pelantikan tersebut, Abdul Samik terpilih sebagai ketua, didampingi empat wakil ketua, yaitu Abdul Halim, Wiwik Tri Wahyuningsih, Muhammad Fikron Washly Arifuddin, dan Mamba’ul Bahri.

Jaga integritas

Hasto Wardoyo menekankan kepada pimpinan BAZNAS Kota Yogyakarta yang baru dilantik, terkait pentingnya menjaga integritas dan transparansi dalam pengelolaan dana umat. 

Ia pun menyinggung filosofi "Teko Okeh, Metu Okeh, Teko Meneh", atau datang banyak, keluar banyak, dan datang lagi, sebagai strategi membangun kepercayaan publik.

"Publikasi terhadap penyaluran (pentasyarufan) zakat secara rutin adalah bagian dari membangun trust. Bukan untuk riya, tapi untuk menunjukkan bahwa BAZNAS hadir menyelesaikan masalah krusial di masyarakat secara cepat," ujarnya.

Proaktif

Kedepannya, ia pun meminta BAZNAS Kota Yogyakarta proaktif menemukan sasaran yang tepat untuk mengubah kondisi hidup warga dari tidak layak menjadi layak.

Hasto lantas menyodorkan teori "Self-Limited Poverty", sebuah konsep di mana kemiskinan dapat diatasi jika warga miskin bergerak bersama-sama menguasai pasar dan produksi melalui sistem koperasi, bukan korporasi.

"Harus ada program-program pemberdayaan yang mungkin kita bisa membangun ekonomi yang kerakyatan, bisa bersama-sama masyarakat secara berjamaah, kemudian bisa sejahtera bersama," terangnya.

"Ini menjadi suatu hal yang sangat penting kalau kita lihat dari pengalaman membangun ekonomi masyarakat yang tumbuh dengan kebersamaan itu sangat tidak mudah," tambah Wali Kota.

Perbarui sistem digitalisasi zakat 

Sementara, Ketua BAZNAS Kota Yogyakarta, Abdul Samik, menyatakan kesiapannya untuk menyelaraskan program BAZNAS dengan RPJMD Kota Yogyakarta. 

Salah satu agenda utamanya adalah mengevaluasi dan memperbarui sistem digitalisasi zakat yang selama ini dinilai masih cukup tertinggal.

"Kami akan melakukan evaluasi program digital agar lebih efisien dan menguntungkan masyarakat. Kami ingin menekan biaya-biaya tinggi yang tidak seharusnya ada di lembaga sosial," ujarnya.

Komitmen pemberdayaan

Terkait upaya-upaya pengentasan kemiskinan, BAZNAS pun berkomitmen memperkuat program pemberdayaan berbasis jemaah masjid. 

Samik meyakini, penguatan ekonomi akan bergulir lebih efektif ketika dilangsungkan melalui jamaah yang sudah solid karena pengawasannya cenderung mudah.

"Belajar dari pengalaman, titik lemah bantuan ekonomi adalah pada soliditas jamaahnya. Ke depan, kami akan memperbanyak kerjasama dengan masjid yang jamaahnya sudah solid," ucapnya. (aka)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.