Setelah Selat Hormuz, Iran Ancam Penutupan Bab al-Mandeb, Jalur Perdagangan Minyak Global
Ansari Hasyim April 07, 2026 01:33 AM

SERAMBINEWS.COM – Seorang penasihat utama Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, mengancam bahwa sekutu-sekutu Teheran dapat menutup jalur pelayaran strategis Bab al-Mandeb, menyusul penutupan efektif Selat Hormuz.

Bab al-Mandeb merupakan selat vital yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi salah satu jalur terpenting bagi perdagangan minyak global.

Kepentingannya semakin meningkat setelah Selat Hormuz yang pada masa damai dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia mengalami penutupan efektif oleh Iran.

Ancaman tersebut disampaikan Ali Akbar Velayati, mantan menteri luar negeri Iran dan penasihat senior pemimpin tertinggi, melalui unggahan di platform X pada Minggu.

Baca juga: Iran Tolak Proposal Gencatan Senjata Terbaru, Serukan Pengakhiran Perang Permanen

Ia menyatakan bahwa “komando terpadu Front Perlawanan” memandang Bab al-Mandeb sama strategisnya dengan Selat Hormuz.

“Jika Gedung Putih berani mengulangi kesalahan bodohnya, mereka akan segera menyadari bahwa aliran energi dan perdagangan global dapat terganggu hanya dengan satu langkah,” tulis Velayati. Media pemerintah Iran, Press TV, kemudian mengonfirmasi pernyataan tersebut.

Peringatan ini muncul setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengancam akan membom pembangkit listrik dan jembatan Iran mulai Rabu pekan ini jika Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz.

Iran menyatakan bahwa selat tersebut tetap terbuka bagi kapal dari negara-negara yang menegosiasikan jalur aman, kecuali Amerika Serikat dan Israel. Sebelumnya, Trump juga mengancam akan menargetkan pabrik desalinasi Iran.

Penutupan Bab al-Mandeb dinilai akan berdampak jauh lebih luas dibandingkan konflik yang sedang berlangsung saat ini.

Langkah tersebut berpotensi memperparah krisis pasokan energi global, memicu lonjakan harga, serta memperdalam gejolak ekonomi yang dirasakan hingga ke pabrik, dapur rumah tangga, dan pompa bensin di berbagai negara.

Di Mana Bab al-Mandeb?

Selat Bab al-Mandeb terletak di antara Yaman di sisi timur laut serta Djibouti dan Eritrea di kawasan Tanduk Afrika di barat daya. Selat ini menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden yang bermuara ke Samudra Hindia.

Dengan lebar hanya sekitar 29 kilometer di titik tersempit, lalu lintas kapal terbatas pada dua jalur masuk dan keluar. Secara de facto, kawasan ini berada di bawah pengaruh kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran.

Houthi merupakan bagian penting dari apa yang disebut “Poros Perlawanan”, yakni koalisi kelompok yang secara ideologis atau taktis bersekutu dengan Iran—yang tampaknya dirujuk Velayati dalam pernyataannya.

Bab al-Mandeb juga menjadi rute vital bagi Arab Saudi untuk mengekspor minyak ke Asia. Selain itu, selat ini berperan penting bagi negara-negara Teluk lainnya dalam menyalurkan minyak mentah, gas, dan bahan bakar ke Eropa melalui Terusan Suez atau pipa Suez–Mediterania di pesisir Laut Merah Mesir.

Pada 2024, sekitar 4,1 miliar barel minyak mentah dan produk olahan melewati Bab al-Mandeb, setara dengan sekitar 5 persen dari total pasokan global. Jika Bab al-Mandeb dan Selat Hormuz sama-sama ditutup, sekitar 25 persen atau seperempat pasokan minyak dan gas dunia akan terblokir.

Bukan hanya energi, sekitar 10 persen perdagangan global—termasuk pengiriman kontainer dari China, India, dan negara-negara Asia lainnya ke Eropa—melintasi selat ini.

Ketergantungan Saudi dan Jalur Alternatif

Dengan meningkatnya risiko di Selat Hormuz, Arab Saudi semakin mengandalkan pelabuhan Yanbu di Laut Merah untuk mengekspor minyak melalui Bab al-Mandeb. Untuk itu, Riyadh memanfaatkan Pipa Timur–Barat sepanjang sekitar 1.200 kilometer yang menghubungkan fasilitas pengolahan Abqaiq di Teluk dengan Yanbu.

Pipa yang dioperasikan Saudi Aramco ini sebelumnya menyalurkan rata-rata 770.000 barel per hari pada Januari–Februari. Namun pada Maret, seiring penutupan Hormuz, alirannya melonjak hingga mencapai kapasitas maksimal sekitar 7 juta barel per hari.

Bagaimana Bab al-Mandeb Bisa Ditutup?

Kelompok Houthi telah menunjukkan kemampuan mereka untuk mengganggu pelayaran di Bab al-Mandeb. Selama perang Gaza, mereka memblokir selat tersebut terhadap kapal-kapal yang disebut terkait Israel atau Amerika Serikat. Akibat serangan berulang, perusahaan asuransi menolak menanggung risiko, sehingga lalu lintas pelayaran menurun drastis.

Pada Mei 2025, Amerika Serikat dan Houthi menyepakati gencatan senjata, yang membuka kembali jalur pelayaran. Namun, perkembangan terbaru menunjukkan betapa mudahnya gangguan kembali terjadi.

Sejak akhir Maret, Houthi meluncurkan rudal dan drone ke Israel, menandai keterlibatan mereka dalam konflik, meski masih terbatas.

Menurut mantan diplomat AS, Nabeel Khoury, serangan tersebut lebih bersifat simbolis. “Ini adalah partisipasi simbolik, bukan keterlibatan penuh,” ujarnya kepada Al Jazeera. Namun ia menegaskan, jika Houthi benar-benar ingin masuk perang secara penuh, penyumbatan Bab al-Mandeb akan menjadi langkah kunci.

“Mereka hanya perlu menargetkan beberapa kapal. Itu akan menghentikan seluruh pelayaran komersial di Laut Merah,” kata Khoury. “Itu akan menjadi garis merah dan kemungkinan memicu serangan cepat terhadap Yaman.”

Dampak Global

Pakar Timur Tengah dan Presiden Girton College, Universitas Cambridge, Elisabeth Kendall, menyebut penutupan Bab al-Mandeb sebagai skenario “mimpi buruk” bagi dunia.

“Jika pembatasan di Selat Hormuz terjadi bersamaan dengan gangguan di Bab al-Mandeb, perdagangan menuju Eropa bisa terganggu parah, bahkan lumpuh,” ujarnya. “Situasinya sangat genting dan bergantung pada langkah selanjutnya.”

Meski demikian, Kendall menilai Houthi mungkin berhitung ulang, karena eskalasi penuh berisiko memicu respons keras dari Arab Saudi maupun kekuatan internasional yang lebih luas. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.