TRIBUNJOGJA.COM - Lonjakan harga kebutuhan tidak hanya terjadi pada bahan baku pangan. Bagi para pelaku usaha mikro, meroketnya harga kemasan plastik dan wadah pelengkap makanan kini menjadi beban tersendiri yang harus disiasati dengan penuh kehati-hatian.
Menjaga asa pembeli agar tetap mau merogoh kocek untuk jajan, terkadang harus dibayar dengan kerelaan pedagang memangkas margin keuntungan.
Realitas ini dirasakan betul oleh Yanti, seorang pedagang makanan dan minuman yang sehari-hari menjajakan dagangannya berkeliling dari satu instansi pemerintahan ke instansi lainnya di Kota Yogyakarta. Belakangan ini, ia harus memutar otak lebih keras setelah mendapati harga modal kemasannya melambung tak terkendali.
Berdasarkan perhitungannya, kenaikan harga kemasan sangat bervariasi, menembus angka 40 persen. Plastik kemasan ukuran 1 kilogram yang biasanya ia beli seharga Rp 3.000, kini melonjak tajam menjadi Rp 6.000. Kenaikan drastis juga terjadi pada wadah makan jenis thinwall isi 25 buah, dari yang sebelumnya Rp 24.000 kini menjadi Rp 37.000.
Beban modal semakin berat saat ia menengok harga kantong plastik belanja (kresek). Plastik ukuran kecil yang awalnya hanya Rp 4.000 kini menjadi Rp 8.000, sedangkan ukuran besar naik dari Rp 7.000 menjadi Rp 12.000.
Bahkan, untuk plastik kemasan berukuran paling besar, harga satuannya kini menembus Rp 2.200. Puncak lonjakan paling memberatkan ada pada kemasan botol jus. Satu kotak berisi 90 botol yang sebelumnya dibanderol Rp 108.000, melompat jauh ke angka Rp 158.000.
Menghadapi tekanan rantai pasok ini, membebankan seluruh kenaikan modal kepada konsumen bukanlah pilihan yang masuk akal bagi Yanti. Ia harus memilah dengan cermat, mana produk yang harganya terpaksa disesuaikan, dan mana yang harus ia tanggung sendiri selisihnya. Kemasan dasar seperti plastik bungkus makanan, menurutnya, adalah layanan mendasar yang tidak pantas jika dibebankan ke pembeli.
"Beda-beda. Kalau plastik buat makanan 1 kg sama plastik (kresek) itu hak pembeli, masa harus dinaikkan? Enggak mungkin, ya. Masa beli enggak dikasih tempat, enggak mungkin," tuturnya.
Strategi penyesuaian harga jual akhirnya hanya ia terapkan pada beberapa menu dengan kemasan spesifik yang harga modalnya benar-benar tak lagi bisa dikompromikan. Meski begitu, ia bersikukuh menahan harga pada produk-produk tertentu, seperti jus buah, demi menjaga minat beli pelanggannya.
Ia merinci perhitungannya tersebut secara utuh, sembari menegaskan filosofi sederhana usahanya untuk terus bertahan tanpa harus memberatkan para pembeli di lingkungan perkantoran tempatnya mencari nafkah.
"Untuk yang thinwall naik, saya naikkan Rp 1.000 karena harga dari sana. Untuk cup plastik saya naikkan Rp 500 karena bahan baku yang mepet. Untuk botol jus enggak saya naikkan. Kalau semua naik, pembeli nanti mikir buat jajan juga. Masa semua naik? Kita mengurangi untung, sing penting ada pemasukan tidak rugi. Intinya itu saja," ujarnya.
Bagi pedagang seperti Yanti, memastikan roda usaha tetap berputar setiap harinya jauh lebih berharga daripada memaksakan margin keuntungan yang tinggi namun berisiko kehilangan pelanggan.