TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Rak-rak plastik di toko milik Budi di wilayah Tridadi, Kabupaten Sleman kini tampak berbeda bagi para pelanggannya. Wadah cup es yang biasanya ditebus dengan lembaran belasan ribu rupiah, kini melesat menyentuh angka Rp22.000 per renceng.
Kenaikan yang terjadi pasca-idulfitri ini bukan sekadar angka, melainkan hantaman bagi rantai ekonomi usahanya, mulai dari distributor yang menuntut bayaran tunai, hingga pembeli yang terpaksa memangkas jumlah belanjaannya.
Pedagang plastik di Sleman, Budi Utomo mengungkapkan bahwa kenaikan harga plastik terjadi hampir di semua jenis namun paling signifikan pada wadah plastik jenis cup atau gelas plastik yang ramai pembeli. Satu renceng isi 50 cup yang semula dijual seharga Rp14.500, kini melambung menjadi Rp22.000. Begitu juga dengan wadah kantong kresek yang melonjak naik dari Rp8.000 menjadi Rp10.000 per pack.
"Hampir semua plastik naik. Dari segi omzet jelas berpengaruh banget. Pengeluaran untuk modal sekarang juga jauh lebih besar dari biasanya," keluh Budi, ditemui di tokonya, Senin (6/4/2026).
Selain lonjakan harga, pedagang kini dihadapkan pada sistem pembayaran yang memberatkan. Jika sebelumnya beberapa barang bisa dibayar dengan sistem tempo, kini distributor mewajibkan pembayaran tunai atau cash karena keterbatasan stok.
Budi tidak tahu pasti mengapa harga plastik melambung tinggi. Namun berdasarkan informasi dari distributor, kenaikan ini dipicu oleh terhambatnya pengiriman biji plastik impor akibat dampak perang global yang mengganggu jalur logistik.
"Harapannya sih harga kembali ke harga semula. Misalnya, harga diturunkan supaya usaha bisa jalan. Karena saya baru merintis usaha toko plastik ini satu tahun, tapi tahu-tahu harganya naik semua. Pusing toh," ujarnya
Kenaikan harga ini juga mengubah pola konsumsi pelanggan. Kata Budi, banyak pembeli yang biasanya memborong 2-3 renceng plastik cup, kini hanya membeli satu renceng. Ia juga mengatur strategi belanja sedikit demi sedikit. Hal ini terpaksa harus diambil untuk menyiasati modal yang terbatas.
Di sisi lain, dampak kenaikan ini mulai merembet ke pelaku UMKM kuliner. Nando, seorang pedagang es rasa buah yang menggunakan kemasan cup, mengaku mulai merasakan kenaikan biaya operasional. Meskipun cup selama ini disuplai dari juragannya. Dalam sehari, ia menghabiskan sedikitnya 50 cup plastik. Saat ini meski harga wadah plastik naik tajam, Nando mengaku belum menaikkan harga jual dagangannya.
"Saat ini harga masih stabil. Belum ada arahan untuk menaikan harga," katanya.(*)