Kisah Suriwati, Penyuara Kehadiran Bagi Komunitas Tuli di Bali, Menembus Sunyi di Tengah Riuh Berita
Putu Dewi Adi Damayanthi April 07, 2026 12:22 PM

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Di balik bidikan kamera wartawan dan pernyataan tegas para pejabat dalam berbagai konferensi pers di Bali seperti di Polda Bali, terselip sebuah pemandangan yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut informasi di Pulau Dewata.

Di sudut panggung, jemari Luh Made Suriwati bergerak lincah, menari mengikuti ritme kata-kata yang keluar dari meja konferensi pers.

Melalui ekspresi wajah yang total dan gerakan tangan yang presisi, ia memastikan bahwa deretan informasi penting tersebut tidak hanya berhenti di telinga mereka yang bisa mendengar, tetapi juga sampai ke hati dan pikiran komunitas tuli.

Perempuan hebat ini memiliki latar belakang akademik yang sangat mumpuni, yang mencerminkan dedikasinya pada dunia pendidikan dan kemanusiaan.

Baca juga: Kisah Heroik Berakhir Tragis Di Gianyar Bali, Usai Selamatkan Nyawa Orang, Agus Kehilangan Nyawa

Luh Made Suriwati, S.Si., M.Si., M.Pd., mengawali perjalanan intelektualnya di S1 FMIPA Kimia Universitas Udayana pada tahun 2001 hingga 2005.

Tidak berhenti di sana, ia melanjutkan studi magisternya di Program Studi Lingkungan Unud dengan fokus pada Oceanography & Remote Sensing pada 2007-2009.

Sebelum akhirnya mendalami Penilaian dan Evaluasi Pendidikan di Undiksha pada 2014-2016.

Pendidikan lintas disiplin ini membentuk sosoknya menjadi pribadi yang analitis namun tetap humanis.

Keterlibatannya dalam dunia bahasa isyarat bermula dari tugas kesehariannya di SLB N 2 Denpasar, tempat ia mengabdi sejak akhir tahun 2008.

Sebagai guru dengan spesifikasi tuna rungu wicara, Suri begitu ia akrab disapa, merasa bahwa komunikasi adalah kunci utama untuk melayani murid-muridnya.

"Dari tahun 2008 itu, dari saya ngajar kan saya harus bisa komunikasi dengan anak-anak. Jadi saya mulai belajar, kita disekolahkan juga untuk itu," ujarnya mengenang masa awal ia mulai menekuni bahasa isyarat saat dijumpai Tribun Bali di Denpasar, pada Selasa 7 April 2026.

Dunia konferensi pers mulai ia rambah sekitar sepuluh tahun terakhir, tepatnya sejak pemilihan wali kota pada tahun 2016.

Bagi Suri, setiap gerakan tangan yang ia peragakan adalah bentuk filantropi sosial. 

Ia tidak sekadar menerjemahkan kata demi kata, melainkan melakukan apa yang ia sebut sebagai "Komunikasi Total".

"Kalau saya sih lebih senangnya menyebutnya itu kita total ya komunikasi yang total gitu kita manfaatkan semua kayak mimik, ekspresi, masa kalau misalnya kita ketawa ekspresinya sedih kan nggak nyambung nanti ya," jelas perempuan kelahiran Jegu, Tabanan ini.

Ia menekankan bahwa tantangan terbesar dalam menerjemahkan secara real-time adalah stamina dan kemampuan mengolah informasi di kepala dengan sangat cepat.

"Dengar, diedit di kepala, baru harus cepat dikeluarkan," bebernya.

Dedikasi Suri melampaui panggung-panggung formal kepolisian atau pemerintahan. 

Di sekolahnya, ia mengemban amanah sebagai Waka Humas SLB N 2 Denpasar.

Ia juga aktif sebagai Tim Kurikulum SLB Provinsi Bali, Fasilitator Guru Pembimbing Khusus (GPK), Instruktur Sekolah Penggerak, hingga Duta Guru Sahabat Keluarga.

Bahkan, ia juga menguasai teknologi terkini sebagai Trainer AI serta memimpin organisasi sebagai Ketua KKG SLB Provinsi Bali dan aktif di IGPKhI Provinsi Bali.

Meski sering kali menjadi "suara yang terlihat namun tak terdengar", Suri tetap teguh dengan prinsip ikhlasnya.

Baginya, setiap tantangan seperti suara yang menggema di lokasi konferensi atau istilah-istilah sulit adalah bagian dari perjuangan mewujudkan inklusivitas.

Ia sering kali turun tangan langsung mencarikan lapangan pekerjaan bagi lulusan SLB agar mereka bisa mandiri.

"Sukanya sih saya bisa membantu mereka, saya lebih dekat dengan mereka. Pokoknya kita harus selalu positif saja gitu, kita lakukan dengan hati yang bersih gitu dengan ikhlas," ungkap Suri dengan senyum hangat.

Di balik kelincahan gerak tangan Suri, tersimpan keletihan fisik dan mental yang jarang tersorot kamera.

Menjadi juru bahasa isyarat bukan sekadar menerjemahkan kata, melainkan sebuah pertarungan melawan waktu, stamina, hingga hambatan teknis yang sering kali menguji profesionalismenya.

Perempuan kelahiran 19 Februari 1983 ini mengakui bahwa tantangan terbesar muncul saat ia harus menerjemahkan secara real-time tanpa naskah.

Proses kognitif yang ia lalui sangatlah berat; ia harus menangkap pesan, mengolahnya dalam sekejap, lalu menyampaikannya kembali dalam bentuk isyarat.

"Kalau misalnya durasinya lama, kita kalau menerjemahkan itu kan kita dengarkan, kita di kepala kita mengedit baru kita kan harus cepat tuh ya. Jadi kadang-kadang ya perlu stamina yang fit aja sih," ungkap Suri menggambarkan beban kerja otaknya saat bertugas.

Tak jarang, kendala teknis di lapangan menjadi musuh utamanya. Ruangan yang luas dengan gema yang memekakkan telinga atau sistem suara yang tidak memadai sering kali menghambat pendengarannya.

"Kadang-kadang saya nggak dengar suaranya menggaung kan ya. Kadang suara panggung-panggungnya gema di sini, kadang suaranya kecil gitu, itu pengaruh sih juga," tuturnya.

Hambatan ini memaksa Suri untuk berkonsentrasi ekstra keras agar tidak ada informasi vital yang terlewatkan bagi komunitas tuli.

Selain faktor teknis, keragaman latar belakang komunitas tuli di Indonesia memberikan tantangan tersendiri.

Sebagai pengajar di SLB N 2 Denpasar sejak akhir 2008, Suri sangat memahami bahwa tidak semua penyandang disabilitas rungu memiliki pemahaman bahasa yang sama.

"Pemahaman teman tuli tidak semua itu memahami bahasa dan istilah. Kalau yang sudah total (ketunaannya) itu yang perbendaharaan bahasa dan persepsinya itu susah, itu yang sebenarnya tantangan sih," jelasnya.

Ia harus mampu menyesuaikan isyaratnya agar bisa dimengerti baik oleh mereka yang bersekolah maupun yang hanya menggunakan bahasa komunitas atau kedaerahan.

Dedikasi luar biasa ini ia jalankan di tengah jadwalnya yang padat sebagai Waka Humas SLB N 2 Denpasar dan Tim Kurikulum SLB Provinsi Bali.

Namun, perjuangannya tidak selalu berbuah manis di mata semua orang. Suri kerap menghadapi dinamika sosial berupa sikap pro dan kontra terhadap kehadirannya.

"Kadang ada yang suka ada yang tidak suka gitu dengan apa yang kita lakukan, ada kadang yang pro kadang ada yang kontra gitu itu kan hal yang manusiawi ya dalam kita hidup," katanya dengan nada tenang.

Baginya, cibiran atau ketidaksukaan adalah bagian dari kerikil tajam yang harus dilewati dengan hati yang bersih.

Kata Suri, segala lelah dan keringat di atas panggung konferensi pers adalah bentuk pelayanan tulus.

Sebagai penganut Hindu yang taat, ia memandang tugas ini sebagai jalan untuk memposisikan teman-teman tuli secara sejajar dengan masyarakat umum.

"Perlakukan mereka sama karena dengan sama itu inklusivitas akan tercapai, jangan pernah mengeksklusifkan," tegas Suri.

Harapan terbesarnya adalah agar masyarakat tidak lagi memandang sebelah mata atau bahkan mengeksklusifkan penyandang disabilitas.

Baginya, kesetaraan bukan berarti memberikan perlakuan istimewa yang membedakan, melainkan memberikan kesempatan yang sejajar.

"Mari kita memposisikan teman-teman tuli khususnya disabilitas tuli itu mungkin sejajar. Kita berikan mereka kesempatan bukan berarti kita mengeksklusifkan mereka. Perlakukan mereka sama karena dengan sama itu inklusivitas akan tercapai," pungkasnya.

Melalui tangan-tangannya, perempuan yang tinggal di Jalan Tangkuban Perahu, Denpasar ini terus merajut jembatan informasi, memastikan tak ada lagi sunyi yang membatasi hak setiap manusia untuk tahu dan mengerti.

Meski memiliki kapasitas sebagai Trainer AI, Instruktur Sekolah Penggerak, hingga Ketua KKG SLB Provinsi Bali, ia tetap memilih untuk setia menjadi pendamping dan penerjemah bagi komunitas tuli. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.