Murka! Teheran Ancam Balasan Berlipat Jika Warga Sipil Diserang
Joanita Ary April 07, 2026 12:35 PM

WARTAKOTALIVE.COM — Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran melontarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat dan Israel terkait potensi serangan terhadap warga sipil. 

Teheran menegaskan, setiap bentuk serangan yang menyasar penduduk sipil akan dibalas dengan kekuatan yang lebih besar dan dalam skala yang lebih luas.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh juru bicara Markas Pusat Khatam Al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, yang menegaskan bahwa Iran telah menyiapkan skenario respons militer yang jauh lebih keras jika garis batas itu dilanggar.

Dalam keterangannya, ia menyebut bahwa fase berikut dari operasi ofensif Iran tidak hanya bersifat defensif, tetapi juga akan mencerminkan eskalasi signifikan dalam strategi militer negara tersebut.

“Jika serangan terhadap sasaran sipil diulangi, fase berikut dari operasi ofensif dan pembalasan kami akan dilakukan dengan lebih kuat dan dalam,” ujar Zolfaghari, menegaskan posisi negaranya di tengah meningkatnya ketegangan regional.

Ultimatum ini muncul di tengah situasi yang kian memanas menyusul rangkaian insiden yang melibatkan Iran dan Israel, serta keterlibatan tidak langsung Amerika Serikat dalam dinamika konflik tersebut.

Sejumlah analis menilai, pernyataan terbuka seperti ini mencerminkan perubahan pendekatan Iran yang kini lebih eksplisit dalam menyampaikan garis merahnya kepada lawan.

Khatam Al-Anbiya sendiri dikenal sebagai pusat komando militer strategis Iran yang berperan dalam koordinasi operasi pertahanan udara dan berbagai operasi gabungan.

Pernyataan dari institusi ini dinilai memiliki bobot serius karena mencerminkan posisi resmi militer Iran, bukan sekadar retorika politik.

Di sisi lain, peringatan ini juga memperlihatkan meningkatnya kekhawatiran Iran terhadap potensi serangan yang berdampak pada warga sipil, yang dalam beberapa konflik terakhir sering menjadi korban tidak langsung dari operasi militer.

Dengan menegaskan ancaman balasan berlipat ganda, Iran berupaya menciptakan efek gentar sekaligus menahan langkah lawannya.

Para pengamat hubungan internasional menilai, eskalasi retorika semacam ini berpotensi mempersempit ruang diplomasi.

Ketika ancaman disampaikan secara terbuka dan tegas, risiko salah kalkulasi di lapangan menjadi lebih besar, terutama di kawasan yang telah lama menjadi titik panas geopolitik global.

Meski demikian, hingga kini belum ada tanggapan resmi dari pihak Amerika Serikat maupun Israel terkait ultimatum terbaru dari Iran tersebut.

Namun, dalam sejumlah pernyataan sebelumnya, kedua negara kerap menegaskan hak mereka untuk mempertahankan diri dari ancaman yang dianggap membahayakan kepentingan nasional.

Situasi ini menempatkan kawasan Timur Tengah kembali dalam bayang-bayang eskalasi konflik yang lebih luas.

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.