TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Wings Air memutuskan menyesuaikan operasional penerbangan dari Bandara Husein Sastranegara untuk rute Semarang dan Yogyakarta Kulonprogo.
Kebijakan ini diambil setelah perusahaan melihat tingkat keterisian penumpang yang belum memenuhi ekspektasi bisnis.
Hal tersebut disampaikan Manajemen Wings Air melalui Corporate Communications, Danang Mandala Prihantoro.
Danang menjelaskan bahwa keputusan tersebut merupakan hasil evaluasi menyeluruh terhadap performa rute.
Ia mengindikasikan bahwa efisiensi menjadi pertimbangan utama, mengingat maskapai perlu menjaga keseimbangan antara biaya operasional dan pendapatan.
“Penyesuaian ini kami lakukan untuk memastikan operasional tetap efisien dan berkelanjutan, sekaligus menjaga kualitas layanan kepada pelanggan,” ujar Danang, kepada Tribunjabar.id, Selasa (7/4/2026).
Baca juga: Sepi Penumpang, Penerbangan Wings Air di Bandara Husein Sastranegara Rute Bandung-Yogyakarta Ditutup
Ia juga menegaskan bahwa langkah ini bersifat sementara dan tidak menutup kemungkinan rute akan kembali dibuka jika permintaan pasar menunjukkan peningkatan.
Wings Air, kata dia, tetap berkomitmen mendukung konektivitas udara, khususnya di wilayah Jawa Barat.
Di tengah penyesuaian tersebut, aktivitas penerbangan di Bandara Husein masih terbatas.
Saat ini, rute yang beroperasi dilayani oleh Susi Air yang menghubungkan Bandung dengan Halim Perdanakusuma melalui Pangandaran.
Sementara itu, pengamat transportasi dari ITB, Sony Sulaksono, menilai langkah Wings Air merupakan keputusan yang sepenuhnya berbasis kalkulasi bisnis.
Ia melihat bahwa maskapai swasta akan sangat bergantung pada tingkat permintaan dan kelayakan finansial dalam menentukan keberlanjutan sebuah rute.
"Rute ini pun sebenarnya cukup menarik karena langsung menghubungkan pusat kota masing-masing, yaitu dari Bandung (Bandara Husein Sastranegara) dan Yogyakarta (Bandara Adi Sucipto), tidak harus dari Bandara Bandara Internasional Jawa Barat (Kertajati) atau Bandara Internasional Yogyakarta (Kulonprogo)," katanya.
Dikatakannya, sebelum pandemi, demand Bandung - Yogya cukup tinggi namun kemudian terjadi penurunan yang cukup setelahnya.
"Bandara Husein resmi ditutup dan dialihkan ke Kertajati tahun 2023. Saat itu ada 7 rute penerbangan dari Bandung yang kemudian dialihkan sepenuhnya ke Kertajati," imbuhnya.
Ia menjelaskan bahwa sejumlah faktor turut memengaruhi kondisi tersebut, mulai dari penurunan jumlah penumpang secara umum hingga hadirnya alternatif transportasi lain.
"Sebagai entitas bisnis, maskapai punya perhitungan finansial tersendiri apakah akan pindah ke Kertajati atau mengalihkan rutenya menjadi via Halim atau Soekarno Hatta," ujarnya.
Kehadiran kereta cepat, misalnya, dinilai telah mengubah preferensi masyarakat karena memberikan kemudahan akses dari Bandung ke Halim.
"Dari Halim, penumpang memiliki lebih banyak pilihan penerbangan dengan frekuensi yang lebih tinggi menuju berbagai kota, termasuk Yogyakarta," imbuhnya.
Selain itu, peningkatan layanan dari Bandara Soekarno-Hatta juga turut menarik pergerakan penumpang dari Bandung.
Sony juga menyinggung faktor eksternal lain seperti kenaikan harga avtur yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah.
Kondisi ini membuat maskapai harus semakin selektif dalam mengoperasikan rute.
“Salah satu alasan ditutupnya rute Wings Air Bandung–Jogja kemungkinan besar kombinasi dari penurunan demand, persaingan moda transportasi, hingga kenaikan biaya operasional,” ujarnya.
Dia menilai pemulihan permintaan penerbangan dari Bandung juga berkaitan erat dengan daya tarik kota itu sendiri sebagai destinasi.
Salah satu yang disorot adalah kondisi Pasar Baru yang dulu menjadi magnet wisata belanja, termasuk bagi turis mancanegara.
"Pasar baru bahkan bisa menarik kunjungan dari mancanegara seperti Brunei dan Malaysia. Ini yang pemerintah Kota Bandung yang harus dihidupkan kembali. Saat ini Pasarbaru sedang mengalami kisruh manajemen dan sempat beberapa kali terjadi demo pedagang di sana," katanya.
Dia menambahkan, tanpa itu, arus kunjungan berpotensi tetap stagnan dan berdampak pada sektor transportasi, termasuk penerbangan. (*)