SRIPOKU.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menegaskan ultimatum agar Iran meneken kesepakatan atau membuka Selat Hormuz selambatnya pada Selasa (7/4/2026) waktu AS.
Trump menegaskan kesiapan militer Amerika Serikat untuk menghancurkan seluruh infrastruktur vital di wilayah Iran jika negara tersebut tetap menolak memenuhi rangkaian tuntutan yang diajukan Washington.
Dilansir melalui GB News (7/4/2026), dalam konferensi pers terbaru, Trump menyebut bahwa Amerika Serikat mampu “menghancurkan Iran hanya dalam beberapa jam” jika situasi tidak berubah.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan, terutama terkait tuntutan Washington agar Teheran membuka kembali Selat Hormuz.
Trump bahkan menegaskan bahwa operasi militer besar dapat dilakukan dalam waktu sangat singkat.
Baca juga: Diultimatum Donald Trump, 48 Jam Buka Selat Hormuz atau Neraka Akan Turun, Iran Sindir Kebodohan
“Iran bisa ditaklukkan dalam satu malam, mungkin besok malam,” ujar Trump, menegaskan kesiapan militer AS.
Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengungkapkan bahwa intensitas serangan yang direncanakan akan menjadi yang terbesar sejak awal operasi militer terhadap Iran. Hal ini menandakan potensi eskalasi konflik dalam waktu dekat.
Dalam kesempatan yang sama, Trump juga mengungkapkan detail dramatis terkait penyelamatan seorang awak jet tempur F-15 AS yang jatuh di wilayah Iran.
Ia menjelaskan bahwa pilot tersebut mengalami luka serius, namun berhasil bertahan hidup dengan memanjat tebing, menghentikan pendarahan sendiri, dan mengirimkan lokasi kepada pasukan penyelamat.
Trump menegaskan bahwa militer AS tidak akan meninggalkan satu pun tentaranya di medan perang, meskipun operasi penyelamatan berisiko tinggi. Ia bahkan menyebut keputusan tersebut bisa saja berujung pada korban yang lebih besar.
Selain itu, Trump juga menyoroti kebocoran informasi terkait operasi penyelamatan tersebut.
Ia mengancam akan menindak tegas pihak yang membocorkan informasi, termasuk kemungkinan memenjarakan mereka jika menolak mengungkap sumber.
Di sisi lain, Iran menyatakan keinginan untuk mengakhiri konflik secara permanen, namun menolak tekanan untuk membuka Selat Hormuz dalam skema gencatan senjata sementara.
Teheran juga tetap bersikeras bahwa penyelesaian konflik harus bersifat menyeluruh, bukan hanya penghentian sementara.
Trump sendiri menilai bahwa perang bisa segera berakhir jika Iran memenuhi tuntutan tertentu.
Ia juga mengklaim adanya komunikasi tidak langsung antara kedua pihak melalui Pakistan, meski belum membuahkan hasil konkret.
Pernyataan kontroversial lainnya muncul ketika Trump menanggapi kritik terkait potensi serangan terhadap infrastruktur sipil Iran.
Ia menolak anggapan bahwa hal tersebut merupakan kejahatan perang, dan justru menyebut kepemilikan senjata nuklir sebagai ancaman yang lebih besar.
Situasi ini semakin mempertegas ketidakpastian arah konflik, dengan ancaman militer yang meningkat di satu sisi dan upaya diplomasi yang belum menunjukkan titik terang di sisi lain.