SRIPOKU.COM, PALEMBANG – Melambungnya harga kedelai impor mulai mencekik para perajin dan pedagang tahu tempe di Pasar 10 Ulu, Palembang.
Kenaikan harga bahan baku utama ini ditengarai sebagai dampak rentetan konflik geopolitik global antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang belum kunjung mereda.
Pantauan di lapangan pada Selasa (7/4/2026) menunjukkan harga kedelai yang sebelumnya berada di kisaran Rp 9.000 per kilogram, kini telah menyentuh angka Rp 11.000 per kilogram.
Kondisi ini memaksa para pedagang mengambil langkah dilematis, menaikkan harga jual atau memperkecil ukuran produk demi menjaga daya beli masyarakat.
Aini, salah satu pedagang tahu di Pasar 10 Ulu, mengungkapkan bahwa kenaikan harga ini sudah berlangsung selama hampir sepekan.
Untuk menjaga kualitas, ia memilih untuk menaikkan harga jual daripada mengurangi ukuran.
"Sekarang untuk tahu ukuran besar (10x10) saya jual Rp 2.500, sebelumnya Rp 2.000. Sedangkan untuk ukuran kecil (5x5) naik menjadi Rp 1.000 dari harga biasanya Rp 600," ujar Aini saat melayani pembeli.
Sementara pedagang lainnya Udi, mengatakan, terpaksa memotong tempe yang ukuran 450 gram menjadi 250 gram demi menjaga daya beli masyarakat.
“Harga tempe yang 450 gram itu sekarang sudah Rp 10.000 ribu, sebelumya harganya hanya Rp 7.000-8.000 ribu setelah saya potong ini saya jual untuk ukuran Rp 250 gram ini Rp 6000 ribu,” ujar Udin.
Ia berharap agar perang antara Iran melawan Amerika dan Israel cepat selesai karena tidak hanya berdampak kepada pemerintahan dunia namun berdampak ke pedagang kecil yang pemasokannya dari berjualan tempe dan tahu.
“Kita harapkan harga kedelai juga cepet turunlah karena ini sangat berdampak sekali dengan kami pedagang tahu dan tempe,” tutupnya.