Keuntungan Penjual Es Jeruk di Bandar Lampung Menipis Imbas Harga Plastik Naik
Robertus Didik Budiawan Cahyono April 07, 2026 03:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung– Aroma segar jeruk peras seketika tercium saat melintasi gerai minuman Jeruk Peras My Limau yang berlokasi tepat di depan Indomaret Kepayang 2 Kemiling, Bandar Lampung, Selasa (7/4/2026).

Namun, di balik kesegaran es jeruk dan es teh di gerai tersebut menyimpan keresahan mendalam Siti Anisa Aprilia selaku pelaku usaha akibat melonjaknya harga plastik di pasaran.

“Dampak plastik naik ini sih ya untungnya itu lebih kecil dari sebelumnya,” tuturnya Selasa (7/4/2026).

Bagi usaha minuman seperti My Limau, plastik bukan sekadar pelengkap, melainkan komponen utama. 

Mulai dari cup, plastik press, sedotan, hingga kantong kresek, semuanya mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan.

Baca juga: Stok Plastik di Bandar Lampung Mulai Langka, Harga Naik hingga 40 Persen

Anisa mengungkapkan bahwa harga plastik kemasan per pak isi 50 yang biasanya ia beli di kisaran Rp.14.000 hingga Rp.15.000, kini melonjak drastis menyentuh angka Rp.18.000 hingga Rp.20.000.

"Kaget sih dengan kenaikan harganya, bisa dibilang mendekati 40 persen untuk beberapa jenis. Padahal satu pak isi 50 itu bisa habis dalam sehari," ujar Anisa.

Kenaikan biaya operasional ini otomatis membuat keuntungan Anisa kian menipis. Meski omzet saat ini masih mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari, ia mengaku bingung dalam menentukan langkah ke depan.

Pilihan untuk menaikkan harga jual masih terasa ragu. Dikedai miliknya, es teh dijual mulai dari Rp 5.000 dan jeruk peras mulai dari Rp 10.000.

"Bingung mau nakarnya (hitungannya) gimana. Kalau mau naikkan harga, takut pelanggan kaget. Kadang orang maunya yang murah tapi tetap berkualitas. Ada pembeli yang mengerti, tapi banyak juga yang tidak," keluhnya.

Saat ditanyai menanggapi tren penggunaan tumbler (botol minum sendiri) yang viral di media sosial seperti TikTok, Anisa mengaku belum terpikirkan untuk menjadikannya solusi utama, mengingat karakteristik pembeli di lapangan yang cenderung ingin praktis.

“Kalau diterapkan yang beli es harus bawa tumbler sepertinya orang disini belum pada mau karena terkesan ribet,” ungkapnya.

Meski sudah ada bayangan untuk menaikkan harga jika situasi terus memburuk, Anisa belum bisa memastikan kapan dan berapa besar kenaikan tersebut. 

Harapannya sebagai pelaku UMKM kecil sangatlah sederhana yaitu harga-harga bahan utama kembali normal.

"Maunya ya balik normal lagi, jangan naik terus. Penjual seperti kami ini bingung kalau harga naik, dampaknya langsung ke jumlah pelanggan dan keuntungan yang makin kecil," tutupnya.

(Tribunlampung.co.id/ Bintang Puji Anggraini)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.