Tribunlampung.co.id, Bali - Kisah heroik berujung duka terjadi di Gianyar, Bali setelah sosok bernama Agus Suarsa Dharma ditemukan meninggal dunia.
Agus meninggal tergulung ombak Pantai Purnama di Sukawati, Gianyar, Bali setelah menyelamatkan Kadek Raditya.
Antara Agus dan Raditya tidak saling mengenal. Namun Agus berusaha menolong Raditya yang terseret ombak yang tiba-tiba membesar, Minggu (5/4/2026) pukul 07.00 Wita.
Naas upaya menolong Raditya justru menjadi mala petaka bagi Agus. Raditya selamat sedangkan Agus menghilang di lautan. Jasad Agus ditemukan di Pantai Saba, Senin (6/4/2026) sore.
Ternyata Raditya, pemuda asal Banjar Kebalian, Desa Sukawati tidak diam saat Agus dinyatakan hilang tergulung ombak.
Di mana setelah mendapat pemeriksaan rumah sakit, meskipun kondisinya masih belum pulih total, Raditya bersama keluarganya ikut dalam proses pencarian Agus.
Ditemui di rumahnya, Selasa 7 April 2026, kondisi psikologis Kadek Raditya masih terguncang. Sorot matanya sayu, masih syok atas meninggalnya Agus sang penolongnya.
Kepada Tribun Bali ia bercerita, saat berhasil keluar dari ganasnya ombak Pantai Purnama, ia langsung dibawa ke RSU Kasih Ibu. Dirawat dari pukul 08.00 sampai 13.00 Wita.
Sehingga di Hari Minggu tersebut ia belum bisa kemana-mana. Namun saat itu keluarganya bersama teman-temannya telah pergi ke Pantai Purnama, ikut membantu pencarian Agus.
Sementara Raditya, meskipun dalam kondisi masih syok, akhirnya pada Senin, sekitar pukul 18.00 Wita, bersama orangtuanya datang ke Pantai Purnama.
Mereka melakukan persembahyangan meminta pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar Agus segera ditemukan.
Tak hanya di sana, Raditya bersama keluarganya juga bersembahyang di Pura Er Jeruk dengan tujuan sama.
Sekitar satu jam setelah bersembahyang, ia mendapatkan informasi bahwa Agus telah ditemukan di Pantai Saba. Mendapat informasi tersebut, Kadek Raditya langsung mendatangi lokasi.
"Saat saya lihat Agus terdampar, saya sangat syok. Tidak bisa ngomong apa. Saya menangis," ujarnya.
Saat jenazah Agus dievakuasi ke RSUD Sanjiwani, Raditya juga ikut ke sana, serta menggelar upacara 'memunjung' di rumah sakit.
I Made Mudiana, orangtua Kadek Raditya mengatakan, setelah Agus ditemukan, dirinya pun telah datang ke Banjar Telabah untuk menemui keluarga Agus.
"Saya sampun ke Banjar Telabah. Bertemu dengan pamannya, karena orangtuanya belum datang. Rencananya dikremasi, tapi waktunya belum ditentukan, kami sudah minta kalau sudah ditetapkan waktunya, agar kami juga diberi tahu," ujarnya.
Mudiana mengatakan, keluarganya memiliki utang yang sangat besar pada mendiang Agus.
Karena itu, iapun akan terlibat dalam proses kremasi Agus, yang sebelumnya tidak dikenalnya.
"Nanti kami pasti akan ikut proses kremasi. Saya pasti siap untuk ikut ke sana. Kami sekeluarga ikut menghaturkan kwangen agar pejalan sang Atma bagus," ujarnya.
Seorang saksi, Kadek Wahyu saat ditemui di Pantai Purnama menjelaskan, sebelum kejadian terjadi, ia bersama dua orang korban, serta sejumlah warga lainnya sempat berenang di pantai Minggu 5 April 2026 sekitar pukul 07.00 Wita.
Saat itu, kondisi ombak masih tenang. Setelah puas berenang, Wahyu pun naik ke daratan.
Saat itu ia melihat temannya, Raditya tergulung ombak. Ia juga melihat Agus berusaha menolong Raditya.
"Raditya dan Agus ini tidak saling kenal. Sementara Raditya sendiri teman saya. Saat kami berenang ombaknya tenang, tapi tiba-tiba saja ombaknya tinggi, lalu menarik teman saya, saat itu Agus berusaha menolong," ujar Wahyu.
Dijelaskan bahwa saat keduanya tergulung ombak, teman Wahyu yang lainnya berusaha menolong dengan melemparkan tali pancing.
Namun tali pancing ini hanya bisa diraih oleh Aditya. Sementara Agus yang jaraknya jauh dari tali pancing tidak bisa menggapai tali tersebut.
Karena itu, Raditya berhasil dievakuasi keluar, sementara Agus hilang tergulung ombak hingga baru ditemukan kemarin 6 April 2026 malam. (*)