Poster Film ‘Aku Harus Mati’ Heboh di Jalanan, Psikiater: Bisa Jadi Trigger Bunuh Diri
willy Widianto April 07, 2026 05:38 PM

 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kemunculan baliho bertuliskan “Aku Harus Mati” di sejumlah sudut kota belakangan ini tidak hanya menyedot perhatian publik, tetapi juga memicu kekhawatiran serius dari kalangan medis terkait dampaknya terhadap kesehatan mental masyarakat. Di tengah meningkatnya kesadaran akan pentingnya isu kesehatan jiwa, pesan visual yang mengandung narasi kematian tanpa konteks yang bijak dinilai berpotensi menjadi pemicu berbahaya, khususnya bagi individu yang sedang berada dalam kondisi psikologis rentan seperti depresi, trauma, atau memiliki kecenderungan ide bunuh diri. 

Baca juga: Kemenkes Peringatkan Poster Film ‘Aku Harus Mati’: Bisa Picu Peniruan Bunuh Diri

Alih-alih sekadar menjadi strategi promosi, konten semacam ini dikhawatirkan dapat memperkuat pikiran negatif dan memperbesar risiko krisis pada kelompok tertentu.

Psikiater Lahargo Kembaren menegaskan bahwa dari sudut pandang kesehatan jiwa, pesan tersebut tidak bisa dipandang hanya sebagai judul film atau materi pemasaran biasa.

“Bagi individu yang sedang mengalami depresi, perasaan putus asa (hopelessness), trauma, atau memiliki ide bunuh diri laten, paparan seperti ini dapat menjadi trigger psikologis yang serius,” ujarnya, Selasa (7/4/2026).

Ia menjelaskan, dalam kajian suicidologi dikenal fenomena suicide contagion atau copycat suicide, yakni perilaku bunuh diri yang dapat dipicu oleh paparan informasi atau visual terkait kematian. Fenomena ini juga dikenal sebagai Werther Effect, di mana paparan berulang terhadap pesan tertentu dapat memengaruhi individu yang sedang berada dalam kondisi rentan.

Menurut Lahargo, kalimat seperti “Aku Harus Mati” yang disajikan secara visual di ruang publik, apalagi dengan nuansa dramatis atau menyeramkan, tidak lagi sekadar berfungsi sebagai media promosi. Dalam kondisi tertentu, pesan tersebut dapat berubah menjadi isyarat psikologis yang memicu respons berbahaya.

“Banner itu tidak lagi sekadar media promosi, tapi dapat berubah menjadi cue psikologis yang berbahaya,” ungkapnya.

Ia memaparkan, terdapat beberapa mekanisme psikologis yang bisa terjadi akibat paparan tersebut. Salah satunya adalah priming effect, di mana kata atau gambar tertentu dapat mengaktifkan pikiran yang sejenis. Kalimat yang mengarah pada kematian berpotensi memicu asosiasi negatif, terutama pada individu dengan depresi atau kecemasan.

Selain itu, terdapat cognitive reinforcement, yakni penguatan terhadap pola pikir negatif yang sudah ada. Individu dengan depresi kerap memiliki pikiran otomatis seperti merasa tidak berharga atau hidupnya tidak berarti. Paparan pesan yang selaras dapat memperdalam keyakinan tersebut.

Faktor lain adalah emotional suggestibility, di mana individu—terutama remaja atau mereka yang sedang rapuh secara emosional—lebih mudah terpengaruh oleh rangsangan visual. Visual yang dramatis dapat meningkatkan risiko imitasi perilaku, terutama pada kelompok usia muda.

Lahargo menegaskan, paparan visual semacam ini memang bukan satu-satunya penyebab, tetapi dapat menjadi pemicu pada individu dengan kerentanan tertentu. Faktor risiko tersebut meliputi depresi, gangguan bipolar, psikosis, trauma atau PTSD, pengalaman perundungan (bullying), konflik keluarga, kesepian, masalah relasi, adiksi digital, impulsivitas, hingga tekanan finansial dan krisis spiritual.

Baca juga: IDAI Kritik Baliho Film Horor Aku Harus Mati, Ingatkan Dampak Psikologis pada Anak hingga Remaja

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa lebih dari 700.000 orang meninggal akibat bunuh diri setiap tahun di seluruh dunia, atau setara dengan satu orang setiap 40 detik. Angka ini menjadi gambaran nyata bahwa banyak individu yang tampak baik-baik saja di permukaan, namun sebenarnya sedang berjuang menghadapi tekanan berat secara diam-diam.

“Tidak semua yang viral aman bagi jiwa. Ada judul yang menjual rasa takut, tetapi bisa melukai mereka yang sedang berjuang untuk tetap hidup,” kata Lahargo.

Karena itu, ia mengingatkan pentingnya tanggung jawab bersama dalam menyebarkan pesan di ruang publik. Sensitivitas terhadap isu kesehatan mental perlu menjadi pertimbangan utama, tidak hanya dari sisi kreativitas, tetapi juga dari aspek keselamatan masyarakat.

Kontak Bantuan
Bunuh diri bukanlah solusi dari permasalahan hidup. Jika Anda, teman, atau anggota keluarga mengalami masa sulit, merasa tertekan, atau memiliki dorongan untuk menyakiti diri sendiri, segera cari bantuan profesional melalui layanan kesehatan jiwa di puskesmas atau rumah sakit terdekat. Dukungan yang tepat dapat membantu melewati masa sulit dengan lebih aman.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.