Jakarta (ANTARA) - Sampah di saluran pembuangan vertikal atau trash chute Rusunawa Tambora, Jakarta Barat menumpuk hingga lantai enam gedung pada Selasa.

Penumpukan itu terjadi imbas terhambatnya pengangkutan sampah ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang. Hal itu membuat pengangkutan sampah dari pintu keluar trash chute lantai satu ikut terhambat.

Pantauan di lokasi pada Selasa siang, trash chute itu terintegrasi dengan gedung dari lantai satu sampai dengan lantai 16.

Saluran pembuangan vertikal itu memiliki lorong dengan lebar kurang lebih 30x60 sentimeter dan berfungsi untuk menjatuhkan sampah rumah tangga dari lantai 16 hingga ke lantai dasar.

Adapaun setiap lantai memiliki satu pintu trash chute yang bisa dibuka tutup untuk menjatuhkan sampah ke pembuangan di lantai dasar.

Namun, penampungan sampah di area lantai dasar tampak sudah penuh dan belum diangkut karena terbatasnya armada truk sampah.

Kondisi itu membuat sampah yang baru dibuang dari atas pun mampet di dalam saluran hingga menumpuk, terutama saluran buang Tower B dan C.

Pada saluran pembuangan di Tower B, sampah sudah mampet selama kurang lebih satu bulan dan berujung menumpuk hingga ke lantai tiga rusun.

Sementara, kondisi lebih parah terjadi di Tower C yang sampahnya telah menumpuk hingga ke lantai enam.

Imbasnya, warga yang tinggal di lantai bawah tak bisa lagi membuang sampahnya melalui shaft dan harus turun membawa sampahnya secara langsung ke lantai dasar.

Pengelola Rusunawa Tambora UPRS I, Gatot Nurferianto mengonfirmasi kondisi tersebut. Menurutnya, masalah sampah memang belum terselesaikan di Rusun Tambora.

"Kita kan pakai sistem ruang shaft, jadi warga jatuhin dari atas ke bawah langsung ke titiknya itu. Jadi kalau semakin menumpuk, ya makin nyampe atas. Mampet dia jatuhnya, sampah itu tidak bisa keluar, kondisinya saat ini seperti itu," kata Gatot saat ditemui di Rusunawa Tambora, Selasa.

Di seluruh Jakarta, kata dia, Rusunawa Tambora merupakan satu-satunya area tower yang menggunakan sistem pembuangan sampah melalui saluran shaft, berbeda dengan rusun lain yang warganya harus membuang sendiri sampah ke lantai dasar.

Total terdapat tiga titik pembuangan shaft yang tersedia di Rusunawa Tambora.

Namun, imbas dari penumpukan sampah yang kian tak terkendali ini membuat pengelola rusun harus menutup sementara dua titik shaft sehingga hanya ada tiga area TPS yang saat ini beroperasi.

Sebelumnya, Suku Dinas Lingkungan Hidup (Sudin LH) Jakarta Barat menerapkan strategi pengangkutan bertahap merespons pembatasan kuota pembuangan sampah sebanyak 38 persen ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang.

Kasudin LH Jakarta Barat, Achmad Hariadi mengatakan, pengangkutan bertahap berarti sampah pada lima unit pengangkut berkapasitas kecil akan dipadatkan ke satu truk pengangkut berkapasitas besar.

"Jadi truk-truk kecil tidak kita operasikan ke Bantar Gebang, tapi sampah truk-truk kecil itu dipadatkan ke truk besar untuk diangkut ke Bantar Gebang," kata Hariadi saat dihubungi di Jakarta, Senin (30/3) malam.

Menurut Hariadi, dikuranginya kuota pembuangan sampah Jakbar ke Bantar Gebang dari 308 menjadi 190 truk per hari dapat diakali dengan strategi tersebut.

"Kita kirim dua rit. Yang biasa satu rit jadi dua rit. Satu rit truk besar mengangkut yang sudah rutin, satu rit lagi kumpulan dari beberapa truk kecil," tutur Hariadi.

Lebih lanjut, pihaknya mengutamakan penanggulangan tumpukan sampah di jalan-jalan protokol.

"Sampah-sampah jalan protokol itu kita selesaikan dulu, memastikan tidak ada penumpukan. Adapun untuk TPS-TPS tertentu itu kita tangani dengan kendaraan yang ada," ucap dia.