Imbas Konflik Timur Tengah, Harga Plastik Naik di Tana Tidung, Pedagang Es Bingung Naikkan Harga
Miftah Aulia Anggraini April 07, 2026 06:09 PM

TRIBUNKALTIM.CO, TANA TIDUNG – Kenaikan harga plastik yang dipicu gangguan rantai pasok global akibat konflik di Timur Tengah mulai berdampak ke daerah.

Di Kabupaten Tana Tidung, pelaku usaha kecil, khususnya pedagang minuman, mulai kebingungan menentukan langkah di tengah lonjakan biaya produksi.

Kenaikan harga plastik secara nasional disebut mencapai 30 hingga 40 persen per April 2026.

Kondisi ini dipicu terganggunya distribusi bahan baku nafta melalui Selat Hormuz akibat konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.

Baca juga: Harga Plastik Naik, UMKM di Tanjung Selor Keluhkan Untung Menipis

Di tingkat daerah, dampaknya mulai dirasakan para pedagang yang bergantung pada bahan plastik untuk menunjang usaha mereka.

Salah satu pedagang es di pinggir Jalan Padat Karya, Tideng Pale Timur, Kecamatan Sesayap, Biah mengaku telah mendengar informasi kenaikan harga plastik yang cukup signifikan.

“Dengar-dengar infonya lumayan tinggi naiknya harga plastik ini, bukan cuma kantong plastik tapi semua yang berbahan plastik mulai sedotan, gelas dan sejenisnya itu ngaruh semua,” ujar Biah kepada TribunKaltara.com, Selasa (7/4/2026).

Ia mengatakan, penggunaan plastik menjadi kebutuhan utama dalam usahanya, terlebih selama ini plastik diberikan secara gratis kepada pembeli.

Baca juga: Curhat Pelaku UMKM soal Harga Plastik Naik Imbas Perang Iran vs Amerika: Porsi Produk akan Dikurangi

“Pastinya kita merasa terbebani karena plastik ini kan gratis kita kasih ke pembeli, biar mereka beli satu pun tetap kita pakaikan plastik,” katanya.

Saat ini, Biah mengaku belum sepenuhnya terdampak karena masih menggunakan stok lama yang dibeli dengan harga sebelumnya.

Namun, ia telah mendapat informasi dari penjual bahwa harga plastik akan ikut naik pada pembelian berikutnya.

“Kalau yang saya pakai sekarang ini saya beli di tokonya masih stok lama jadi masih harga lama, tapi bilangnya ke saya kalau dia belanja lagi setelah ini ikut berubah juga sudah harga plastik dia belikan,” jelasnya.

Baca juga: Penjual Es Buah Segar di IKN Keluhkan soal Harga Plastik yang Alami Kenaikan

Ia memperkirakan kenaikan harga tersebut akan mulai dirasakan dalam waktu dekat, mengingat beberapa toko sudah lebih dulu menaikkan harga plastik.

“Jadi untuk beberapa hari ini masih belum terdampak lah kita, walaupun sudah ada beberapa toko yang naik harga plastiknya, di tempat saya beli itu masih aman, tapi bisa jadi minggu depan atau beberapa hari ke depan ikut naik juga,” ungkapnya.

Biah mencontohkan, harga gelas plastik yang biasa ia beli satu dus sekitar Rp300 ribu, kini dikabarkan akan naik hingga lebih dari Rp500 ribu.

“Biasanya saya beli gelas plastik untuk es begitu satu dos kurang lebih Rp300 ribu, tapi infonya ini mau naik jadi Rp500 ribu lebih, jadi memang jauh betul naiknya,” tuturnya.

Baca juga: Kenapa Harga Plastik Naik? Ini Penyebab Utamanya Menurut Inaplas

Kondisi tersebut membuatnya mulai menghitung ulang biaya produksi, mengingat harga jual minuman yang relatif murah.

“Makanya saya bingung, jualan es ini kan pakai gelas plastik, belum lagi kantong plastiknya, sedotan, hitung gula, air sama es batunya lagi, kalau kita jual Rp5 ribu mana ada untungnya,” ucapnya.

Ia juga mengaku telah berdiskusi dengan sesama pedagang terkait kemungkinan penyesuaian harga jual.

“Makanya sempat juga ngobrol sama teman yang jualan es teh kayak saya begini, sama-sama bingung gimana supaya dapat untung. Kalau penjual lain mau kasih naik harga es mereka, bisa juga kita ikut kasih naik, kalau tidak ya tidak mungkin kita kasih naik sendiri,” katanya.

Baca juga: Pedagang Mengeluh Harga Plastik di Kutim Meroket Tajam, Andalkan Pasokan dari Samarinda

Menurutnya, terdapat dua opsi yang dipertimbangkan, yakni menaikkan harga atau mengurangi porsi minuman.

“Kalau biasanya kami di sini jual es teh itu Rp5 ribu, kalau plastik naik ini masih berpikir kita supaya dapat untung, entah kita kasih naik jadi Rp7 ribu,” ujarnya.

“Atau tidak apa-apa harga tetap Rp5 ribu tapi kita kurangi porsinya, pakai gelas plastik yang 18 oz, kalau selama ini kan kami pakai yang 22 oz,” sambungnya.

Di sisi lain, ia juga menilai penggunaan alternatif non-plastik bisa menjadi solusi jangka panjang, meski belum mudah diterapkan saat ini.

Baca juga: Pedagang di Kaltim Terhimpit Harga Plastik, Lonjakan Harga Bahan Kemasan Menekan Laba

“Sebenarnya alangkah bagusnya kalau kita pakai tas belanja atau wadah begitu, suruh pembeli yang bawa sendiri jadi bisa mengurangi sampah plastik juga kan, saya sebenarnya senang juga kalau seandainya ada kebijakan seperti itu,” tuturnya.

Namun demikian, ia mengakui kondisi di lapangan masih mengharuskan pedagang menyediakan plastik untuk kenyamanan pembeli.

“Kalau sekarang kan tidak bisa juga kita tidak kasih plastik ke pembeli, tidak mungkin mereka kita suruh pegang langsung, apalagi macam es jadi pasti kita pakai plastik,” pungkasnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.