Harga Kedelai dan Plastik Naik, Perajin Tempe di Boyolali Akali dengan Perkecil Ukuran
Ryantono Puji Santoso April 07, 2026 06:14 PM

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Tri Widodo 

TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI - Emak-emak jangan kaget jika tempe yang dibeli dari kang sayur ukurannya lebih kecil.

Itu siasat dari perajin agar tetap bisa bertahan.

Pasalnya, harga kedelai yang menjadi bahan baku utama melejit, dan plastik untuk membungkus juga naik.

Selama ini, para perajin di Boyolali masih sangat bergantung pada kedelai impor asal Amerika Serikat karena menghasilkan tempe paling baik.

Namun, selama dua pekan ini, harga kedelai naik setiap hari.

Kenaikan berada di kisaran Rp100 hingga Rp200. Saat ini, harga kedelai di pasaran telah menyentuh angka Rp10.500 per kilogram.

Baca juga: Dulu Penyelamat saat Krisis Pangan, Inilah Tempe Gembus, Cikal Bakal Kuliner Legendaris Khas Solo

Subandi, salah satu perajin tempe di Dukuh Bantulan, Desa Jembungan, Kecamatan Banyudono, menyebut pertengahan Maret lalu harganya masih di angka Rp9.600.

Namun, setiap hari harga kedelai impor terus mengalami kenaikan.

Dia pun sudah dua kali mengubah ukuran tempe produksinya.

"Yang sebelumnya panjang menjadi pendek, tapi harga tetap. Contohnya yang harga Rp2.500, tadinya panjang 15 cm, sekarang jadi 13 cm. Lalu yang Rp5.000, dari 27 cm menjadi 25 cm," ujar Subandi.

Harga Plastik Naik Jadi Beban

Kenaikan harga plastik pembungkus hingga 70 persen kian menambah beban.

Subandi menjelaskan bahwa satu rol plastik yang sebelumnya seharga Rp58.000, kini melonjak drastis menjadi Rp92.000.

Tri Harjianti, salah seorang pelaku UMKM kuliner, menyebutkan bahwa tempe adalah makanan bergizi pokok masyarakat.

Ia mengaku mulai merasakan ukuran tempe yang ia beli sedikit lebih pendek dari biasanya.

"Harapannya harga kedelai bisa stabil lagi. Kasihan perajinnya. Bagi masyarakat, tempe itu gizi pokok dan lebih murah dibanding daging. Jadi kalau harganya naik terus, masyarakat pasti kesulitan," harap Tri.

ILUSTRASI. Keripik tempe benguk di Lingkungan Grobog RT 2 RW 4 Kelurahan Wuryorejo Kecamatan/Kabupaten Wonogiri, Maret 2025. Ukuran tempe di Boyolali dibuat lebih kecil dampak dari harga plastik naik.
ILUSTRASI. Keripik tempe benguk di Lingkungan Grobog RT 2 RW 4 Kelurahan Wuryorejo Kecamatan/Kabupaten Wonogiri, Maret 2025. Ukuran tempe di Boyolali dibuat lebih kecil dampak dari harga plastik naik. (TRIBUNSOLO.COM/Erlangga Bima Sakti)

Kenaikan harga ini berdampak pada daya beli masyarakat.

Hermawan, seorang pedagang sayur keliling, mengeluhkan penurunan daya beli masyarakat karena kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok.

"Warga banyak yang mengeluh karena apa-apa naik. Jadinya pembeli berkurang. Rencananya besok saya terpaksa menaikkan harga jual sekitar Rp500 sampai Rp1.000 karena bahan bakunya memang naik semua, terutama plastik yang naiknya luar biasa," imbuhnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.