Benda Mirip Torpedo di Gili Trawangan Diamankan di Lanal Mataram
Wahyu Widiyantoro April 07, 2026 07:20 PM

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Ahmad Wawan Sugandika

TRIBUNLOMBOK.COM, KOTA MATARAM - Sebuah benda logam berbentuk tabung diduga menyerupai torpedo kini telah diamankan di Markas Komando (Mako) Lanal Mataram.

Benda yang diperkirakan berbobot 2 ton tersebut kini dipasangkan garis polisi militer di Markas Komando (Mako) Lanal Mataram, Selasa (7/4/2026).

Selain untuk melindungi material benda dari korosi cuaca yang lebih parah, penutupan ini dilakukan guna menjaga sterilitas area pengamanan sebelum dilakukan pemeriksaan teknis oleh tim ahli. 

Pada tubuh benda berbentuk silinder panjang ini terpampang aksara China.

Hanya terlihat siluet bentuknya yang memanjang berwarna hitam.

Baca juga: Benda Mirip Torpedo di Gili Trawangan Teridentifikasi sebagai Alat Observasi Laut

Kapolres Lombok Utara AKBP Agus Purwanta memastikan bahwa benda tersebut tidak mengandung bahan peledak maupun radioaktif, meski asal-usul dan fungsinya masih dalam penyelidikan lebih lanjut.

“Begitu informasi diterima, kami bergerak cepat melakukan pengamanan dan olah TKP bersama Tim Gegana. Hasil awal memastikan benda tersebut steril dari bahan peledak dan radioaktif,” kata Agus.

Sementara itu, Tim Gegana Sat Brimob Polda NTB bersama Sat Reskrim Polres Lombok Utara sebelumnya juga sudah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) sekitar pukul 13.00 WITA dengan menggunakan alat deteksi bahan peledak Kerber T dan detektor radioaktif RIIDEye X. Hasilnya, tidak ditemukan indikasi ancaman langsung.

“Langkah berikutnya, benda ini kami amankan dan diserahkan ke Lanal TNI AL Mataram untuk penanganan lebih lanjut, termasuk identifikasi teknis secara mendalam,” ujar Agus.

Pihak kepolisian menegaskan bahwa penanganan dilakukan secara terukur dengan melibatkan lintas instansi guna mengantisipasi berbagai kemungkinan, termasuk aspek keamanan dan kedaulatan wilayah.

Selain itu, garis pengamanan telah dipasang di lokasi penemuan dan koordinasi intensif terus dilakukan dengan pihak terkait.

“Kami mengimbau masyarakat tetap tenang, tidak berspekulasi, dan segera melapor apabila menemukan benda mencurigakan. Setiap informasi akan kami tindak lanjuti secara profesional,” pungkas Agus.

Belum Diobservasi Menyeluruh

Berdasarkan penelusuran TribunLombok.com, benda tersebut dievakuasi dari perairan Gili Trawangan, Lombok Utara, Senin (6/4/2026). 

Benda ini kini ditempatkan di area khusus yang dipasangi garis polisi militer.

Perwira Lanal Mataram mengungkap pengamanan benda ini sangat krusial, utamanya dilakukan agar tidak mengganggu jalur navigasi pelayaran.

Selain itu, pemasangan garis polisi militer dilakukan karena kandungan di dalam benda tersebut masih belum diketahui secara pasti. 

“Biar enggak ada yang (mendekat) karena kita kan enggak tahu itu kandungan di dalamnya itu apa,” ucap perwira Lanal Mataram saat ditemui TribunLombok.com.

Pemeriksaan awal yang dilakukan oleh Lanal Mataram mengindikasikan bahwa benda tersebut kemungkinan besar adalah alat observasi laut. 

Hal ini terlihat dari instrumen-instrumen yang terpasang pada alat tersebut. 

Meski terdapat tulisan berbahasa asing pada komponennya, pihak Lanal Mataram belum bisa memastikan apakah alat ini buatan perusahaan asing atau dalam negeri. 

Selain itu, hingga saat ini, belum ada pihak yang mengeklaim kepemilikan atau memberikan komplain terkait temuan tersebut. 

Mengenai asal-usulnya, pihak Lanal Mataram menyebutkan berbagai kemungkinan karena letak geografis wilayah temuan. 

“Kalau asal barang itu dari mana kita masih belum bisa memastikan. Bisa juga dia lepas dari Australia, bisa jadi utara, semua bisa,” jelasnya. 

Langkah selanjutnya adalah melakukan pemeriksaan mendalam oleh pihak yang kompeten, yaitu Dinas Penelitian dan Pengembangan (Dislitbangal) atau Pusat Oseanografi Angkatan Laut (Pusidrosal) yang berbasis di Surabaya dan Jakarta. 

Saat ini, pihak Lanal sedang memproses administrasi surat-menyurat untuk mendatangkan tim ahli tersebut.

Mengingat bobot benda tersebut yang sangat berat, diperkirakan pemindahannya akan memerlukan bantuan Kapal Perang Republik Indonesia (KRI).

“Kalau sudah ada respons dari pimpinan, mungkin dikirim KRI ke sini karena berat,” pungkasnya.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.