TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Ahli dan peneliti menyebut Uni Emirat Arab (UEA) tengah serangan udara Iran yang tiada henti terhadap infrastruktur industrinya, dengan memperketat jalur ekonomi untuk Teheran.
UEA minggu ini diam-diam melarang sebagian besar warga Iran memasuki negara itu atau transit melalui bandara-bandaranya.
Negara Teluk ini dihuni lebih dari setengah juta warga Iran, banyak di antaranya terhubung dengan elite penguasa di Teheran.
Dilansir dari SCMP, Sabtu (4/4/2026), menurut pengumuman di situs web maskapai penerbangan milik UEA, yaitu Emirates, FlyDubai, dan Etihad pada Selasa (31/3/2026) malam, hanya warga Iran tertentu yang dikecualikan dalam kebijakan tersebut.
Mereka adalah warga dengan visa residensi jangka panjang bagi pemilik bisnis dan properti, para profesional terampil, serta pasangan dan anak-anak warga negara Emirat.
Ahli dan peneliti di Geneva Graduate Institute, Farzan Sabet, mengatakan bahwa langkah UEA untuk melarang masuk dan transit sebagian besar warga Iran akan berdampak besar pada elite ekonomi dan kelas menengah atas di Iran.
Terutama yang berafiliasi dengan rezim, atau setidaknya yang tidak secara aktif menentangnya.
Di sisi lain, Pemerintah UEA menghadapi tekanan domestik untuk memutuskan hubungan ekonomi dengan Iran sebagai tanggapan atas serangan yang diterima.
Meskipun terdapat risiko politik yang terkait dengan pemutusan jalur ekonomi utama UEA ke Iran, aliran keuangan tersebut tidak signifikan secara ekonomi bagi Abu Dhabi.
“Mengingat kekayaan Abu Dhabi dan seberapa jauh Dubai telah berkembang sebagai pusat Asia Barat, UEA mampu dengan mudah memutus hubungan dengan Iran,” kata Sabet.
Baca juga: Abaikan Ancaman Donald Trump, Iran Malah Bikin Aturan Baru Soal Operasional di Selat Hormuz
Selain itu, Otoritas Emirat juga mulai menindak perusahaan cangkang milik Iran yang berbasis di zona perdagangan bebas UEA.
Perusahaan-perusahaan tersebut digunakan oleh Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) untuk memperdagangkan minyak dan petrokimia dengan pembeli di China daratan, melalui perantara di Singapura dan Hong Kong.
Para ahli mengatakan bahwa perusahaan cangkang yang berbasis di UEA telah lama digunakan untuk mencuci hasil ekspor minyak dan petrokimia, kemudian menyalurkan dollar AS dan euro ke kas Iran yang kekurangan devisa dengan kedok impor.
Hal ini menjadikan mereka target sanksi Departemen Keuangan AS sejak 2018, ketika Washington secara sepihak menarik diri dari kesepakatan Dewan Keamanan PBB tahun 2015.
Itu mewajibkan Iran untuk membatasi aktivitas pengayaan uraniumnya sebagai imbalan atas pencabutan sanksi.
Namun, beberapa tahun sejak itu, perdagangan sah antara Iran dan UEA berkembang pesat.
Upaya “serangan” balasan ini merupakan bentuk tindakan tegas UEA dalam sikapnya terhadap Iran, tetapi masih dalam posisi defensif.
Menurut Robert Mogielnicki, ekonom politik dan spesialis Teluk, langkah-langkah UEA baru-baru ini adalah bukti bahwa otoritas Emirat tidak puas dengan situasi saat ini, dan sedang menjajaki bagaimana mereka dapat merespons dengan langkah-langkah terukur.
Seperti diketahui, UEA menjadi target sekitar setengah dari semua rudal balistik dan drone yang diluncurkan oleh Iran sejak perang Timur Tengah meletus pada 28 Februari.
Sumber: Kompas.com