Harga Plastik Meroket, HIPMI Lampung Dorong Pelaku UMKM Terapkan Strategi Adaptif
Noval Andriansyah April 07, 2026 11:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Melonjaknya harga plastik di Bandar Lampung, dalam beberapa hari terakhir, membuat banyak pelaku usaha mikro kecil menengah ( UMKM ) merasa tertekan.

Pelaku UMKM di Bandar Lampung yang didominasi pengusaha muda tersebut, harus mulai berpikir siasat lain untuk menghadapi kenaikan harga plastik.

Pantauan di sejumlah tempat penjualan plastik, lonjakan harga berkisar 30 sampai 40 persen, terutama pada jenis plastik bening atau plastik klip.

Satu di antaranya yakni produk plastik jenis PE yang sebelumnya dijual seharga Rp38 ribu, kini melonjak menjadi Rp58 ribu.

Menyikapi kenaikan harga plastik tersebut, Ketua Umum BPD HIPMI Lampung, Gilang Ramadhan mendorong para pelaku UMKM untuk menerapkan strategi adaptif.

Baca juga: Harga Plastik Naik, UMKM di Lampung Diimbau Manfaatkan Bioplastik

Di antaranya, seperti meningkatkan efisiensi operasional, melakukan diversifikasi pemasok, serta mengoptimalkan desain kemasan agar lebih hemat bahan.

Selain itu, Gilang juga mendorong penggunaan bahan alternatif sebagai bagian dari praktik bisnis berkelanjutan.

Menurut Gilang, ada beberapa opsi yang dinilai realistis, antara lain kemasan berbasis kertas, bahan biodegradable, hingga inovasi material ramah lingkungan lainnya.

Meski demikian, lanjut Gilang, tetap perlu mempertimbangkan aspek biaya dan ketersediaan.

Di sisi lain, Gilang menekankan, pentingnya peran pemerintah dalam menjaga stabilitas harga melalui kebijakan fiskal dan perdagangan.

Hal ini mencakup pengendalian impor bahan baku, pemberian insentif bagi industri hulu, serta penguatan regulasi untuk menciptakan keseimbangan pasar (market equilibrium).

Untuk jangka panjang, HIPMI mendorong penguatan industri substitusi dalam negeri guna mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor.

Langkah ini dinilai penting sebagai bagian dari upaya membangun ketahanan industri (industrial resilience) dan kemandirian ekonomi nasional.

"Harapannya ada sinergi antara pelaku usaha dan pemerintah dalam membangun rantai pasok yang lebih tangguh, transparan, dan adaptif terhadap dinamika global," ucap Gilang, Selasa (7/4/2026).

Ia juga menilai, di tengah tantangan tersebut terdapat peluang besar untuk mendorong inovasi, khususnya dalam pengembangan ekonomi hijau (green economy).

Langkah nyata untuk mengurangi ketergantungan pada plastik sekali pakai.

Pengusaha muda diharapkan mampu memanfaatkan momentum ini untuk menghadirkan produk yang lebih berkelanjutan, inovatif, dan bernilai tambah tinggi di pasar.

( Tribunlampung.co.id / Dominius Desmantri Barus )

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.