Pemulihan Pascabencana Aceh, Safrizal ZA: Data Progres Selalu Bergerak Mengikuti Dinamika Lapangan
Muhammad Zulfikar April 08, 2026 01:32 AM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kepala Posko Wilayah Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PPR) Aceh, Safrizal ZA, menyatakan bahwa Aceh kini bersiap memasuki tahap rekonstruksi permanen pascabencana.

Hal itu seiring dengan penyusunan rencana induk (renduk) rehabilitasi dan rekonstruksi yang kini telah memasuki tahap final. Di mana, dokumen tersebut nantinya akan menjadi acuan bersama bagi seluruh pihak dalam membangun kembali wilayah terdampak secara menyeluruh.

Baca juga: Kasatgas PRR Tito Karnavian Ajak Praja IPDN Kerja Keras Bersihkan Aceh Tamiang

“Dasar rencana induk lah yang dijadikan dasar untuk rehabilitasi dan rekonstruksi secara permanen,” kata Safrizal, saat diwawancarai usai kegiatan Media Gathering bersama awak media di Ballroom Hotel The Padee, Aceh Besar, Selasa (7/4/2026).

Dalam media gathering tersebut, ia menegaskan bahwa capaian rehabilitasi terus dilakukan percepatan, dengan sejumlah aspek layanan publik hampir pulih.

Baca juga: Kasatgas Tito Kunjungi Aceh Tamiang, Penanganan Pengungsi Jadi Prioritas

Safrizal menjelaskan bahwa pada aspek pelayanan pemerintahan, dari 18 kabupaten/kota terdampak, 10 wilayah sudah kembali normal.

Upaya pembersihan lumpur juga dilaporkan menunjukkan hasil signifikan dengan 92 persen lokasi berhasil ditangani. 

Untuk lokasi yang masih membutuhkan penanganan terus dikoordinasikan dalam penyiapan alat berat dan sumber daya pendukung lainnya.

Untuk infrastruktur jembatan darurat, TNI telah menyelesaikan 97 unit, sementara Polri merampungkan 95 persen dari target yang ditetapkan.

Sektor kesehatan pun berangsur pulih, dengan seluruh 23 RSUD dan 309 Puskesmas kembali berfungsi penuh, serta 99,6 persen Puskesmas Pembantu sudah beroperasi.

Begitu pula di sektor pendidikan, sebanyak 3.120 sekolah terdampak telah kembali melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara normal.

Sedangkan pada aspek hunian, pembangunan Huntara telah rampung 91 persen, sementara Huntap mulai direalisasikan dengan dukungan lintas lembaga.

Ia menekankan bahwa perkembangan pemulihan ini sangat dinamis. 

“Data progres selalu bergerak mengikuti dinamika lapangan. Ada jembatan yang baru dilaporkan selesai, namun karena keadaan tertentu bisa kembali rusak, dan pada waktu berikutnya sudah selesai dikerjakan lagi. Begitu pula dengan aspek lain, sehingga capaian persentase bisa berubah dari hari ke hari,” ujarnya.

Safrizal menjelaskan, pemulihan yang dilakukan saat ini masih bersifat darurat, dengan tujuan memastikan akses dan kebutuhan dasar masyarakat terdampak bencana tetap terpenuhi.

“Tetapi rekonstruksi permanennya akan kita mulai setelah rencana induk. Rencana induk final kemarin sudah dipaparkan di hadapan dewan pengarah,” ujarnya.

Baca juga: Kunjungi Desa Lubuk Sidup, Mendagri Tito Pastikan Warga Segera Tempati Huntara

“Satu kali pertemuan lagi menunggu persetujuan, kemudian kita ajukan kepada bapak Presiden untuk pengesahan,” tambah Safrizal.

Lebih lanjut, Mantan Pj Gubernur Aceh ini juga memastikan proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Aceh menunjukkan progres positif. Setelah berjalan sekitar empat bulan, penanganan darurat hingga masa transisi dinilai berlangsung baik dan lancar.

Capaian tersebut diketahui berdasarkan hasil evaluasi dewan pengarah dalam rapat yang digelar di Jakarta baru-baru ini.

“Berdasarkan penilaian dari dewan pengarah kemarin rapat di Jakarta, proses penanganan darurat dan sekarang masa transisi berjalan dengan baik, lancar, banyak progres-progres yang kita capai,” katanya.

Ia mengungkap, sejumlah indikator menunjukkan kemajuan signifikan, mulai dari indikator pemerintahan, akses layanan publik, hingga sektor pendidikan, sosial, dan penyediaan hunian bagi masyarakat terdampak.

Namun, Safrizal mengingatkan bahwa proses pemulihan belum sepenuhnya selesai dan akan berlanjut ke tahap yang lebih besar.

“Tetapi pekerjaan tentu belum selesai. Pekerjaan belum berhenti, ini baru tahap sampai dengan masa transisi,” jelasnya.

Media gathering ini turut dihadiri oleh jajaran Posko Satgas PRR Wilayah Aceh, perwakilan Kementerian/Lembaga, instansi teknis, serta puluhan jurnalis dari PWI, AJI, IJTI, AMSI, SMSI, dan berbagai media lokal maupun nasional.

Saat ini Aceh masih dalam tahap pemulihan pascabencana hidrometeorologi (banjir dan longsor) yang melanda berbagai kabupaten sejak akhir 2025.

Kondisi Terkini di Aceh

  • Wilayah terdampak: 18 kabupaten/kota, dengan 10 daerah sudah kembali menjalankan fungsi pemerintahan secara normal.
  • Korban: BNPB mencatat 780 orang meninggal dan 564 hilang akibat banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara (Desember 2025).
  • Hunian sementara (huntara): Ratusan unit sudah diserahkan di Aceh Tengah dan Aceh Utara untuk menampung keluarga terdampak.

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.