Wamena (ANTARA) - Wamena adalah pusat pemerintahan Provinsi Papua Pegunungan dan Kabupaten Jayawijaya serta kota modern yang berada di ketinggian 1.600-1.800 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Daerah itu memiliki segudang keunikan adat istiadat yang telah dipertahankan turun temurun, dari generasi sebelumnya oleh masyarakat asli Wamena, hingga saat ini, yakni keindahan alam serta masyarakatnya yang religius.
Masyarakat di dataran tinggi Pegunungan Tengah Papua itu sangat memegang teguh adat istiadat dan ritual agama.
Daerah dan masyarakatnya yang terisolasi dari dunia luar, ratusan hingga ribuan tahun lamanya, sebelum adanya pemerintahan, baik Belanda di kurun Waktu 1950-an, hingga Indonesia, mulai 1960-an memiliki kepercayaan dan keyakinan yang kuat kepada Sang Pencipta.
Wamena adalah kata yang berasal dari bahasa Dani, Lembah Baliem, yakni Wam (babi) dan ena (tempat). Kata ini diucapkan pertama kali oleh masyarakat asli Wamena kepada orang Belanda yang pertama datang ke daerah itu. Kata tersebut langsung diartikan oleh orang Belanda bahwa daerah itu bernama Wamena dan terus dipergunakan, bahkan, setelah integrasi dengan Indonesia, hingga kini. Wamena dikelilingi deretan pegunungan yang puncak tertingginya bernama Trikora.
Masyarakat asli Wamena yang religus, dengan agama mayoritas Kristen 93,62 persen (Protestan 69,81 persen, Katolik 23,81 persen), sementara Islam 6,30 persen, Hindu 0,04 persen, serta 0,04 persen kepercayaan leluhur.
Pemerintah Kabupaten Jayawijaya, pada 2016 membangun Tugu Salib Wio Silimo setinggi kurang lebih 54 meter, dengan biaya Rp150 miliar, dan diresmikan pada Desember 2020.
Angka 54 meter bukan sekadar nilai matematika tentang tinggi sebuah bangunan, melainkan pertanda masuknya Injil pertama kali di Lembah Baliem, sebutan lain Kota Wamena, oleh misionaris pada tahun 1954. Dua angka belakang itu yang digunakan untuk memastikan tinggi dari bangunan Tugu Salib Wio Silimo.
Tugu Salib Wio Silimo adalah bangunan modern di daerah pedalaman Papua yang dilengkapi dengan lift atau elevator untuk membawa pengunjung dapat sampai ke puncak tertingginya.
Tugu Salib Wio Silimo berada tepat di tengah Kota Wamena, berhadapan langsung dengan Kantor Bupati Jayawijaya, menyimbolkan keagungan bagi masyarakatnya yang percaya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Dengan bangunan yang menjulang tinggi, maka dapat dilihat dari jauh, bahkan dari daerah ketinggian pegunungan yang mengelilingi Kota Wamena. Wamena ibarat kuali raksasa karena dikelilingi oleh deretan pegunungan dan seperti pagar hidup bagi seluruh aktivitas yang ada di dalamnya.
"Daerah ini sangat indah karena berada di pedalaman Pegunungan Tengah Papua," kata Bupati Jayawijaya Atenius Murib.
Tugu Salib Wio Silimo Wamena menjadi simbol daerah, spiritual masyarakatnya, kerukunan, toleransi antarumat beragama yang terpupuk erat dalam setiap perilaku dan tindakan yang dilakukan orang-orang yang tinggal di daerah itu.
"Keberadaan tugu ini harus dijaga dan dilestarikan dengan baik oleh masyarakat," ujar Bupati Jayawijaya Atenius Murib.
Pancaran lampu di Tugu Salib Wio Silimo Wamena menjadi simbol harapan bagi daerah itu untuk dapat terus maju dan berkembang seperti daerah lainnya di Tanah Air.
Kunjungan pejabat-pejabat negara ke Wamena kerap dimanfaatkan untuk melihat secara dekat bangunan Tugu Salib Wio Silimo. Biasanya mereka mengabadikan berswafoto dengan tugu salib itu sebagai latar belakangnya.
Aktivitas
Tugu Salib Wio Silimo dijadikan tempat berkumpul dan melakukan aktivitas kawula muda dan orang tua di Kota Wamena, sejak sore hingga malam hari. Tugu salib menjadi tempat hiburan dan berkumpul di daerah yang dijuluki "Kota Kulkas" itu, dengan suhu udara dingin bisa mencapai 12-14,5 derajat Celcius.
Karena itu, pemerintah daerah mengingatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan indah dan bersih, khususnya di sekitar lokasi tugu itu berdiri.
"Kami harap masyarakat untuk dapat menjaga kebersihan di lingkungan Tugu Salib Wio Silimo," kata Wakil Bupati Jayawijaya Ronny Elopere.
Pemerintah Kabupaten Jayawijaya bersama TNI-Polri selalu menggelar razia di beberapa tempat di Kota Wamena, termasuk Tugu Salib Wio Silomo, untuk memastikan masyarakat tidak menjadikan tempat itu untuk aktivitas yang kurang baik.
"Kami juga berpesan supaya masyarakat dapat menjaga simbol salib ini dengan baik, dengan tidak melakukan aktivitas negatif," ujarnya.
Tugu Salib Wio Silimo bukan sekadar simbol daerah dan objek wisata rohani, tetapi sebagai titik awal, tempat dilaksanakannya berbagai kegiatan keagamaan di daerah itu.
Awal dirancang Tugu Salib Wio Silimo, sebagai sarana utama dalam membantu meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) serta simbol daerah untuk dapat menarik minat wisatawan berkunjung ke tempat itu.
Dari atas ketinggian Tugu Salib Wio Silimo, mata pengujung dapat menikmati keindahan Wamena, ketika dilihat dari atas ketinggian di pusat kota.
Harapan sama juga disampaikan oleh Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Kabupaten Jayawijaya Herman Doga yang meminta masyarakat ikut menjaga Tugu Salib Wio Silimo.
Tugu Salib Wio Silimo sebagai dasar kerja Bupati dan Wakil Bupati Jayawijaya Atenius Murib-Ronny Elopere dalam menyukseskan Program Damai, Aman, Nyaman dan Indah atau "DANI".
Sebagai daerah dengan mayoritas penganut Kristen, diharapkan Kota Wamena tetap aman dari segala gangguan keamanan, serta masyarakat dapat melaksanakan segala aktivitas dengan aman dan nyaman.
Sebagai daerah yang didasari oleh keimanan, maka kebersihan lingkungan dapat menggenapi program besar yang diistilahkan dengan "DANI" untuk membawa Kota Wamena menjadi kawasan modern di lembah Pegunungan Tengah Papua.





