TRIBUNNEWSMAKER.COM - Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah Iran dilaporkan melancarkan serangan besar-besaran terhadap sejumlah fasilitas energi di Arab Saudi.
Serangan tersebut disebut-sebut sebagai salah satu eskalasi paling serius dalam beberapa waktu terakhir, memicu kekhawatiran global terhadap stabilitas pasokan energi dunia.
Target utama dalam serangan ini bukan hanya infrastruktur minyak dan gas, tetapi juga perusahaan-perusahaan yang memiliki keterkaitan dengan Amerika Serikat.
Serangan ini diduga sebagai bentuk respons geopolitik yang semakin memperuncing konflik berkepanjangan antara kedua negara, sekaligus memperluas dampaknya ke sektor ekonomi global.
Beberapa sumber menyebutkan bahwa serangan dilakukan secara terkoordinasi dan menyasar titik-titik vital yang memiliki peran penting dalam distribusi energi internasional. Akibatnya, aktivitas operasional di beberapa lokasi dilaporkan mengalami gangguan serius.
Pemerintah Arab Saudi langsung meningkatkan status siaga dan memperketat pengamanan di seluruh fasilitas energi strategisnya.
Di sisi lain, Amerika Serikat juga mulai memantau situasi dengan ketat, mengingat adanya potensi ancaman terhadap aset dan kepentingannya di kawasan tersebut. Kondisi ini membuat pasar energi global bergejolak, dengan harga minyak yang mulai menunjukkan tren kenaikan.
Para pengamat menilai bahwa insiden ini berpotensi memicu reaksi berantai yang lebih luas jika tidak segera diredam melalui jalur diplomasi.
Dunia kini menanti langkah selanjutnya dari berbagai pihak, di tengah kekhawatiran akan eskalasi konflik yang dapat berdampak pada stabilitas ekonomi dan keamanan internasional.
Baca juga: Ultimatum Donald Trump ke Iran Guncang Dunia, Harga Minyak Melonjak Tembus 113 Dolar AS per Barel
Iran telah menyerang kompleks petrokimia Jubail di Arab Saudi, jantung sektor energi hilir, kata Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) pada Selasa (7/4/2026).
Jubail merupakan kota industri yang menjadi lokasi usaha patungan besar-besaran antara raksasa minyak yang didukung negara, Saudi Aramco, dan anak perusahaan petrokimianya, SABIC, serta perusahaan-perusahaan energi besar Barat.
Menurut laporan Al Jazeera, Selasa (7/4/2026), IRGC mengatakan bahwa serangan tersebut merupakan balasan atas serangan Israel sebelumnya terhadap fasilitas petrokimia milik Iran.
Para pejabat Iran telah berulang kali memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap pembangkit listrik dan jembatan Iran akan dibalas dengan serangan serupa terhadap infrastruktur di seluruh kawasan Teluk.
IRGC menyatakan bahwa mereka menargetkan perusahaan-perusahaan Amerika Sertikat (AS) di Jubail dengan rudal dan drone, termasuk Sadra, ExxonMobil, dan Dark Chemical.
Pasukan itu juga mengatakan telah menargetkan kompleks petrokimia di Juaymah milik perusahaan AS Shourdan Phillips dengan rudal jarak menengah dan drone.
Dilansir Reuters, Selasa (7/4/2026), IRGC mengatakan bahwa serangan itu merupakan respons atas serangan yang menghantam pabrik petrokimia Asaluyeh Iran.
Belum jelas fasilitas mana yang terkena serangan di Arab Saudi. Rekaman video yang diverifikasi oleh Reuters menunjukkan asap dan api membubung dari arah Jubail.
IRGC menyatakan bahwa mereka secara efektif menargetkan kompleks Sadara dengan rudal jarak menengah dan beberapa drone bunuh diri.
Lokasi itu merupakan sebuah usaha patungan senilai 20 miliar dollar AS (Rp 341 triliun) antara Aramco dan Dow, serta fasilitas lain di Jubail termasuk salah satu milik ExxonMobil.
Kementerian Pertahanan Arab Saudi sebelumnya mengatakan bahwa pertahanan udara mencegat dan menghancurkan tujuh rudal balistik yang diluncurkan ke arah wilayah timur kerajaan. Puing-puing dari rudal yang dicegat jatuh di dekat fasilitas energi.
Sementara itu, Aramco menolak berkomentar mengenai laporan serangan di Jubail dan Juaymah.
Begitu pula Kantor Komunikasi Pemerintah Saudi dan SABIC yang tidak segera menanggapi permintaan komentar dari Reuters.
Sebelumnya, Israel telah melakukan serangan dahsyat terhadap kompleks petrokimia terbesar Iran, pada Senin (6/4/2026).
"Militer baru saja melakukan serangan dahsyat terhadap fasilitas petrokimia terbesar Iran, yang terletak di Asaluyeh, target utama yang bertanggung jawab atas sekitar 50 persen produksi petrokimia negara itu", kata Menteri Pertahanan Israel dalam pernyataan video dilansir AFP, Senin (6/4/2026).
Sebelum itu, Israel juga melakukan serangan serupa terhadap Zona Khusus Petrokimia Mahshahr di provinsi Khuzestan barat daya pada Sabtu (4/4/2026).
“Saat ini, kedua fasilitas tersebut, yang secara bersama-sama menyumbang sekitar 85 persen dari ekspor petrokimia Iran, telah dinonaktifkan dan tidak lagi berfungsi,” jelas Katz.
“Ini merupakan pukulan ekonomi yang berat senilai puluhan miliar dolar bagi rezim Iran,” sambungnya.
Dalam beberapa hari terakhir, Israel diketahui telah menargetkan sektor-sektor industri utama milik Iran sebagai bagian dari kampanye militer.
(TribunNewsmaker.com/Kompas.com)