- Mengintip suasana Kampung Tenun Sulaa, Kecamatan Betoambari, Kota Baubau, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).
Kampung Tenun Sulaa terletak di dalam lorong dekat Dermaga Topa, tempat kapal penyeberangan menuju Siompu dan Kadatua.
Jaraknya dengan Pelabuhan Murhum sekitar 10,1 kilometer (km), dengan waktu tempuh 24 menit berkendara menggunakan motor atau mobil.
Galeri tenun ini berdiri di atas pantai berpasir putih, sehingga tidak hanya dapat digunakan untuk berwisata melihat tenun, tetapi juga menikmati keindahan laut yang biru kehijauan.
Jika sedang pasang, galeri ini berdiri tepat di atas air, sementara jika surut berada di atas hamparan pasir putih.
Para penenun adalah ibu-ibu Kelurahan Sulaa yang mendapatkan keahlian secara turun-temurun.
Seorang penenun, Musida, mengatakan dirinya mendapatkan keahlian tersebut setelah belajar dari ibunya.
“Saya bisa karena turun dari ibu, karena mama dulu menenun, jadi saya belajar,” ujarnya, Minggu (26/10/2025).
Ia mengatakan aktivitas menenun di galeri berlangsung setiap hari dan dibagi dalam beberapa kelompok.
“Kami dikelompokkan dalam Kelompok Pesona Nirwana. Anggota kami masih utuh, produksi masih lancar, serta melakukan aktivitas menenun mulai pukul 08.00 hingga 16.00,” jelasnya.
Berkunjung ke Kampung Tenun Sulaa, wisatawan akan disuguhkan atraksi langsung pembuatan tenun.
Cara tradisional masih digunakan oleh para penenun.
“Untuk motif sudah ada pengembangan dari hasil pelatihan. Dulu hanya motif lurik, sekarang sudah ada motif seperti ikan dole dan lainnya,” ucap Musida.
Ia mengatakan mereka masih menyediakan motif tradisional seperti Akhirina Ashara, Baralu, Bhuncana Kaluku, Bulamalaka, Buruna Gola, Dalima Mabongko, Jempaka Biru, dan lainnya.
“Kurang lebih ada sekitar 40 macam motif tradisional yang namanya juga sudah diberikan secara turun-temurun,” ujarnya.
Dalam sarung tradisional terdapat perbedaan motif lurik, yakni untuk laki-laki menggunakan garis mendatar, sementara perempuan membentuk kotak-kotak.
Kampung Tenun Sulaa tidak hanya sebagai tempat wisata. Sarung yang dipajang dapat dibeli dengan harga mulai Rp800 ribu untuk nonkatun, sementara bahan katun dibanderol mulai dari Rp1,5 juta.
“Bahan katun lebih mahal karena kami mewarnai sendiri menggunakan pewarna alami, sedangkan yang lainnya menggunakan pewarna yang dibeli dari toko,” jelasnya.
Untuk pemesanan dapat dilakukan jauh hari sebelum digunakan, sebab jika motif pesanan cukup sulit, proses pembuatan bisa memakan waktu 12–15 hari.
Musida juga berpendapat profesi penenun sudah kurang diminati anak muda.
“Sekarang generasi muda sudah banyak yang tidak mau belajar. Rata-rata penenun berusia 30 tahun ke atas,” ujarnya.
Ia berharap ke depannya tenun tetap mendapatkan dukungan penuh serta minat anak muda meningkat untuk belajar menenun.(*)
Program: Local Experience
Editor: Untung Sofa Maulana
#localexperience #tenun #baubau #sulawesitenggara #warisan #budaya #kearifanlokal