Tribunlampung.co.id, Lampung Tengah - Di bawah terik matahari Lapangan Merdeka, Kecamatan Punggur, Lampung Tengah, Nuri (50) mendadak terdiam sejenak di balik kesibukannya membungkus gorengan.
Bukan karena lelah, melainkan memikirkan harga plastik yang melonjak tajam dan kini menjadi beban paling menyesakkan bagi usahanya.
Bagi Nuri, kenaikan ini bukan sekadar angka, tetapi ancaman nyata yang perlahan menggerus keuntungan hariannya.
Sudah 15 tahun ia berdagang es teler dan gorengan di lokasi tersebut, namun baru kali ini ia merasakan tekanan sebesar ini.
Harga plastik yang biasanya dianggap kebutuhan kecil justru berubah menjadi komponen biaya paling memberatkan.
"Naiknya itu antara 20 persen sampai 50 persen. Bahkan ada yang tinggi banget, dari harga Rp11.000 sekarang hampir di angka Rp20.000 per pak," keluhnya saat ditemui, Selasa (7/4/2026).
Plastik bagi pedagang kecil seperti Nuri bukan sekadar pelengkap, melainkan penopang utama operasional.
Hampir seluruh aktivitas jual beli bergantung pada bahan ini, mulai dari kantong kresek, gelas plastik, hingga sedotan.
Lonjakan harga pun terjadi merata. Plastik asoy ukuran sedang kini naik dari Rp12.000 menjadi Rp18.000 per pak. Gelas plastik yang sebelumnya Rp5.000 kini berada di kisaran Rp7.000 hingga Rp8.000. Sementara plastik kiloan hampir dua kali lipat, dari Rp8.000 menjadi Rp15.000.
Di tingkat pedagang, beredar kabar bahwa kenaikan ini dipicu oleh konflik di Timur Tengah yang memengaruhi harga bahan baku plastik impor.
Namun bagi Nuri, penyebab global tersebut terasa jauh dari jangkauan logikanya sebagai pedagang kecil.
"Katanya gara-gara perang di Timur Tengah. Saya tidak paham, yang penting harga jangan naik terus," ujarnya lirih.
Kenaikan biaya ini membuat ruang keuntungan semakin menyempit.
Meski begitu, menaikkan harga jual bukanlah pilihan mudah. Di kawasan tersebut, gorengan seharga Rp1.000 per biji sudah menjadi patokan yang sulit diubah.
"Kalau kita naikkan harga, pembeli bisa lari. Jadi ya terpaksa ditahan," katanya.
Alternatif seperti penggunaan kertas pun tidak menjadi solusi.
Selain lebih mahal, mayoritas pembeli memilih membawa pulang pesanan, sehingga plastik tetap menjadi kebutuhan utama.
Tak hanya plastik, harga es batu yang menjadi pelengkap dagangannya juga ikut merangkak naik dari Rp1.500 menjadi Rp2.000 per kantong, menambah panjang daftar beban operasional.
Dalam kondisi seperti ini, Nuri mengaku hanya bisa bertahan sambil berharap keadaan segera membaik.
Ia dan pedagang lain seolah terjebak dalam ketergantungan pada bahan yang harganya ditentukan oleh faktor global.
Meski ada kabar pemerintah menahan kenaikan BBM hingga akhir 2026, bagi pedagang kecil di Punggur, lonjakan harga plastik sudah cukup membuat mereka terhimpit.
Kini, harapan sederhana pun mereka gantungkan: harga kembali stabil agar usaha kecil tetap bisa berjalan tanpa harus kehilangan sisa keuntungan.
"Kalau kami ini orang kecil, ya pasrah saja. Yang penting masih ada yang beli, itu sudah syukur," tutup Nuri.
(Tribunlampung.co.id/Fajar Ihwani Sidiq)