Renungan Harian Katolik
Rabu, 8 April 2026
Oleh: Pater Fransiskus Funan Banusu SVD
YESUS SELALU HADIR DALAM PERGUMULAN HIDUP INI
(Kis. 3:1-10; Mzm. 105:1-2.3-4.6-7.8-9, Luk. 24:13-35)
"Waktu duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada mereka." (Luk. 24:30)
Ada aneka pergumulan yang terjadi dalam hidup kita. Masalah ekonomi banyak diperbicangkan karena bersentuhan langsung dengan kebutuhan vital harian. Kesehatan pun tak ketinggalan.
Politik apalagi bahkan menguras sebagian besar harta termasuk menghabiskan harta yang tersisa atau berhutang besar. Hal inti hidup yang minim dibahas dan hampir tak dipedulikan adalah pergumulan iman.
Iman biasa dikaitkan dengan urusan privat tiap pribadi namum hampir setiap orang merindukan hasilnya yang efektif yakni keselamatan. Bukankah Yesus pernah bersabda, "Carilah dahulu Kerajaan Allah dan semua lain akan ditambahkan kepadamu."
Goncangan iman yang dahsyat menerpa para rasul dan murid-murid ketika Sang Guru diserahkan oleh imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin Yahudi untuk dihukum mati. Mereka bagaikan anak ayam kehilangan induknya.
Hidup terkurung karena takut, ada yang tercerai-berai dan mencari jalannya sendiri-sendiri. Dua murid Emaus meninggalkan Yerusalem menempuh perjalanan sebelas kilo meter mencapai tempat tujuan.
Padahal Yesus sudah mengatakannya kepada mereka sebelum Ia menerima hukuman mati itu. Yesus sungguh hadir dalam pergumulan mereka. Ia menanti momen yang tepat untuk menampakkan Diri bahwa Ia hidup, namun raga yang mereka lihat adalah tubuh ilahi-Nya bukan wujud jasmani-Nya.
Mukjizat pun terjadi atas dua murid Emaus. Yesus hadir dalam pergumulan mereka bahkan menemani mereka hingga tempat tujuan. Mereka baru menyadari ketika duduk makan bersama Yesus dan seketika itu pun Ia menghilang.
Perubahan pun terjadi pada dua murid itu. Rasa lelah perjalanan sejauh sebelas kilo meter dan beban berat pergumulan tentang Sang Guru yang dihukum mati segera sirna. Mereka pun langsung berangkat pulang ke Yerusalem dan menjumpai kesebelas murid di sana.
Tuhan menampakkan Diri untuk meneguhkan, menguatkan dan mengumpulkan mereka kembali. Dari sumber daya kebangkitan Tuhan ini, mereka pun kini siap diutus menjadi saksi kebangkitan-Nya.
Oleh kebangkitan Tuhan dari alam maut kepada kita, Ia anugerahi daya hidup baru. Hidup baru, dunia baru untuk mulai berperan dalam Kristus.
Dunia baru dalam Tuhan adalah dunia di mana hidup dalam rahmat sukacita Injili, kegembiraan dan keselamatan. Dunia bari yang melampaui segala hal fana. Kini, Yesus yang bangkit menjadi sumber harapan dan pokok keselamatan kita.
Petrus dan Yohanes mulai beraksi. Kepada si lumpuh sejak lahir, yang tiap-tiap hari duduk di pintu Gerbang Indah Bait Allah untuk meminta sedekah, Petrus angkat bicara, "Emas dan perak tidak ada padaku.
Tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah." (Kis. 3:6). Ia pun sembuh dan penuh sukacita memuliakan Allah. Inilah mukjizat perdana Petrus yang sangat mengagum bagi orang-orang Yahudi yang menyaksikannya.
Iman kita seperti dua murid Emaus. Tuhan selalu hadir dalam perjalanan hidup yang penuh beban.
Kesibukkan duniawi yang dominan membuat kita kini tak mengenali Yesus yang selalu menyertai kita. Sabda dan Ekaristi membuat kita sanggup mengenali kehadiran kasih Tuhan yang tak terbatas bagi kita.
Kadang kita cenderung meninggalkan Tuhan untuk jangka waktu yang tak tentu, lupa Sabda Kudus-Nya dan kurban Ekaristi tanda kasih agung bagi kita. Sabda dan Tubuh Tuhan tetap ada di dunia, namun diabaikan.
Karena daya kekuatan Sabda dan Ekaristi kita menyadari bahwa Tuhan hadir dalam seluruh ziarah hidup kita.
Tiada pergumulan hebat dalam hidup tanpa Tuhan. Buka hati dan undang Tuhan hadir dalam pondok diri kita yang tak layak ini. Tuhan tuntun dengan Sabda Kudus-Nya dan kekuatan Tubuh Darah-Nya menguatkan untuk berlangkah bersaksi tentang Dia dalam sukatcita hinggapi sukacita abadi dalam Kerajaan Bapa-Nya.
Tuhan yang menyembuhkan setiap luka, akan terus menyertai hingga tujuan akhir ziarah hidup kita.
Selamat beraktivitas hari ini. Tuhan berkatimu semua. (RP. FF. Arso Kota, Rabu/Oktaf Paskah/A/II, 080426)