TRIBUNBANYUMAS.COM, JAKARTA – Gerai burger milik pesohor Aldi Taher di Cempaka Putih, Jakarta Pusat, terus memicu fenomena antrean panjang dalam beberapa hari terakhir.
Warga rela berdiri berjam-jam di bawah terik matahari, bahkan banyak yang harus pulang dengan tangan kosong akibat stok produksi yang ludes dalam waktu singkat.
Fenomena ini ternyata bukan sekadar imbas viralitas sesaat, melainkan hasil dari mekanisme psikologis yang bekerja secara sistematis, salah satunya adalah efek earworm.
Psikolog klinis senior, Ratih Ibrahim, menjelaskan bahwa konten promosi Aldi Taher yang repetitif dan tidak lazim menciptakan ingatan yang menempel kuat secara spontan di benak masyarakat.
Kondisi inilah yang membuat seseorang terus memikirkan produk tersebut meski awalnya hanya melihat sekilas di media sosial.
“Kombinasi antara keunikan dan pengulangan membuat konten lebih menempel kuat. Awalnya memberi hiburan, lalu berkembang menjadi ketertarikan nyata terhadap produk,” ujar Ratih.
Baca juga: Jika Semua Indomaret dan Alfamart Banyumas Bebas Parkir, Pemkab Bisa Raup Rp 1,4 Miliar Tiap Tahun
Analisis serupa disampaikan pakar digital Ismail Fahmi. Ia menilai kunci viralitas burger ini terletak pada pengulangan pesan yang diperkuat oleh algoritma media sosial.
Menurutnya, ketidaklaziman kalimat promosi justru memicu interaksi publik yang tinggi—seperti parodi dan tangkapan layar—yang kemudian didorong oleh sistem algoritma untuk menjangkau audiens lebih luas.
Strategi komunikasi horizontal
Dari sisi pemasaran, pakar marketing Yuswohady menyebut kesuksesan ini tak lepas dari strategi komunikasi horizontal atau peer-to-peer.
Aldi dinilai berhasil memicu percakapan antar-pengguna yang mendorong terciptanya efek self-selling.
“Aldi memanfaatkan interaksi dengan ‘menyolek’ berbagai pihak untuk memicu percakapan masif. Percakapan itulah yang secara organik mendorong promosi tanpa iklan berbayar,” jelas Yuswohady.
Daya tarik ini pun terbukti di lapangan. Imas (25), salah satu pembeli, mengaku rela mengantre karena dorongan rasa penasaran untuk membuktikan apakah produk tersebut hanya sekadar gimmick atau memang berkualitas.
Baca juga: PBB Gagal Capai Kesepakatan, Veto Rusia-China Blokir Serangan Militer ke Iran: Amerika Meradang
Faktor dorongan sosial atau Fear of Missing Out (FOMO) juga disebut Ratih Ibrahim berperan besar dalam menarik individu untuk ikut berpartisipasi dalam tren yang sedang berlangsung.
Meski demikian, Yuswohady mengingatkan bahwa siklus viralitas memiliki batas waktu. Tanpa inovasi dan kualitas produk yang konsisten, tren ini diprediksi akan mereda begitu rasa penasaran publik terpenuhi.
Antrean panjang di Cempaka Putih saat ini menjadi bukti nyata bagaimana kombinasi dinamika psikologis dan interaksi digital mampu mengubah informasi menjadi tindakan ekonomi yang masif. (Lidia Pratama Febrian/kps)