TRIBUNBATAM.id, BINTAN - Wakil Kepala Bidang Kurikulum SMKN 1 Seri Kuala Lobam, Jefri Tampubolon menyesal soal kecelakaan maut di Bintan yang merenggut nyawa Muhammad Helmi (17) pada Senin (6/4/2026) siang.
Sebab pada hari itu, melintasi jalan Indunsuri, Tanjunguban, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).
Ia bahkan melihat ada kerumunan orang di lokasi kecelakaan maut di Bintan itu.
Karena melihat ramai kerumunan dan berpikir sudah ada yang menangani, ia memutuskan untuk tidak berhenti.
Namun dunia seakan runtuh saat tiba di rumahnya.
Tepatnya setelah ia mendapat kabar kalau yang terlibat kecelakaan tadi adalah muridnya sendiri.
Seketika itu dia merasa bersalah dan menyesal kenapa tidak berhenti untuk menolong.
"Kalau saya tahu dia adalah almarhum Helmi pasti saya turun dan langsung mengantarkan korban ke rumah sakit," kata Jefri dengan suara lirih, Rabu (8/4/2026).
Dia mengaku kecelakaan maut di Bintan itu terus terngiang-ngiang di pikirannya.
Kejadian ini menjadi bukti bahwa betapa cepat takdir Tuhan bekerja.
Berat rasanya kehilangan yang dirasakan, bukan hanya dari keluarga tapi orang-orang yang selama ini mengenalinya.
Selain orangtua, rasa duka juga masih dirasakan para guru yang lain dan teman sekelas, Muhammad Helmi (17) di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Seri Kuala Lobam, Kabupaten Bintan.
Kabar meninggalnya siswa kelas XII itu membuat banyak orang merasa kehilangan sosok ramah itu.
Korban meninggal akibat kecelakaan lalu lintas yang terjadi di jalan Indunsuri, Tanjunguban Selatan, Kecamatan Bintan Utara, atau depan cafe Flava, Senin (6/4/2026) siang.
Kala itu, sepeda motor Honda Karisma BP 2591 BH yang dikendarai Helmi terlibat kecelakaan dengam mobil Toyota Calya BP 1561 YP.
Jefri Tampubolon mengungkap rasa duka yang mendalam.
Baginya kepergian Helmi bagaikan kehilangan keluarga sendiri.
Dengan suara lembut dia mulai menceritakan sosok Helmi yang meninggalkan kesan baik selama ini.
"Almarhum itu anak yang rajin, pintar dan riang," kenang Jefri.
Keluarga besar SMKN 1 Seri Kuala Lobam sangat kehilangan.
Helmi memang merupakan salah satu anak yang diandalkan di Teknik Kendaraan Ringan (TKR).
Dia sangat terampil, almarhum punya niat belajar yang tinggi.
"Kami bangga, saat Praktik Kerja Lapangan (PKL) di PT. Singatac dia sangat diandalkan," kata Jefri.
Almarhum sempat PKL di sana selama enam bulan.
Ia melanjutkan di PT Taketama Lobam, Bintan selama 3 bulan.
Korban baru pulang dari tempat praktik beberapa hari yang lalu.
Senin (6/4/2026) kemarin merupakan hari pertama korban dan rekannya yang lain masuk sekolah lagi.
Setelah magang mereka kembali ke sekolah untuk melanjutkan program persiapan uji kompetensi keahlian yang akan dilaksanakan pada Senin ( 13/4/ 2026) mendatang.
Sebelum kejadian, ada hal yang tidak biasa almarhum lakukan. Sejak pagi hari setelah masuk sekolah dia cukup riang.
Almarhum sempat mengalami satu persatu teman sekelasnya.
"Dia juga sempat bercanda gurau dengan guru. Itu yang membuat kami kenang sekaligus merupakan momen terakhir kami bersama Almarhum," kata dia.
Peristiwa ini menjadi pengalaman berharga bagi keluarga besar SMKN 1 SKL.
Pihak sekolah terus menghimbau agar pelajar harus mengikuti aturan lalu lintas.
"Memakai helm dan harus disiplin. Kami tak henti-hentinya mengingatkan kepada siswa-siswi agar selalu berhati-hati selama berkendara," pesannya. (TribunBatam.id/ Ronnye Lodo Laleng)