TRIBUN-SULBAR.COM, POLMAN- Abrasi melanda pesisir Kappung Mampie, Desa Galeso Kecamatan Wonomulyo Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar) setiap tahunnya membuat daratan hilang, Rabu (8/4/2026).
Dalam kurung waktu dua belas tahun terakhir ini mulai 2013 hingga 2025, daratan Mampie hilang 100 meter dari bibir pantai.
Perubahan drastis ini terlihat jelas dari perbandingan citra satelit lintas tahun, menunjukkan hilangnya bentang daratan secara signifikan.
Baca juga: Audit BPK Dimulai, Pemkab Pasangkayu Pastikan Kesiapan Administrasi dan Keuangan
Baca juga: 21 Dapur SPPG Beroperasi di Pasangkayu, 12 Masih Proses Sertifikasi SLHS
Kawasan sebelumnya berupa kebun, lahan produktif, hingga permukiman warga kini telah berubah menjadi wilayah laut.
Abrasi terjadi secara terus-menerus tidak hanya menghilangkan garis pantai, tetapi juga menggerus sumber kehidupan masyarakat.
Lahan pertanian sebelumnya menjadi tumpuan ekonomi warga kini tidak lagi dapat dimanfaatkan akibat rusak dan terintrusi air laut.
Dampak lainnya, warga mulai mengalami kesulitan mendapatkan air bersih, sumber air yang sebelumnya layak dikonsumsi kini berubah menjadi payau.
Kondisi ini memicu berbagai persoalan kesehatan, terutama bagi anak-anak dan lansia yang rentan terhadap penyakit.
Tidak berhenti di situ, ancaman juga menghampiri kawasan permukiman.
Sejumlah rumah warga kini berada di titik rawan, hanya berjarak beberapa meter dari bibir pantai.
Gelombang pasang yang datang sewaktu-waktu berpotensi merusak bahkan menghanyutkan rumah warga.
Warga menilai penanganan abrasi selama ini belum maksimal dan belum menyentuh solusi jangka panjang.
"Ini bukan hanya soal lingkungan, tapi soal keberlangsungan hidup, kami butuh kehadiran nyata pemerintah sebelum semuanya terlambat," kata seorang warga Muhammad Yusri yang juga pengiat lingkungan dari Komunitas Sahabat Penyu.
Menurutnya abrasi di Mampie menjadi gambaran nyata ancaman perubahan garis pantai.
Tanpa intervensi cepat dan terukur, kata Yusri, bukan tidak mungkin wilayah ini akan kehilangan lebih banyak daratan.
Dia menyebut citra satelit juga mengindikasikan penyusutan kawasan mangrove yang sebelumnya menjadi benteng alami pesisir.
Hilangnya vegetasi pelindung ini mempercepat laju abrasi dan memperbesar risiko bencana di masa mendatang.
"Kalau dilihat dari citra satelit saja sudah jelas daratan kami hilang, apalagi yang kami rasakan langsung di sini," lanjut Yusri.
Dia menyampaikan kondisi ini menempatkan Mampie dalam situasi darurat ekologis.
Tanpa penanganan serius, abrasi diprediksi akan terus mengikis daratan yang tersisa dan berpotensi menghilangkan permukiman warga secara permanen.
Yusri mengungkapkan masyarakat mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah konkret.
Mulai dari pembangunan infrastruktur perlindungan pantai seperti tanggul dan pemecah gelombang, hingga rehabilitasi mangrove berbasis masyarakat.
Mereka berharap adanya langkah konkret seperti pembangunan tanggul penahan abrasi, pemecah gelombang, serta rehabilitasi kawasan pesisir melalui penanaman mangrove secara masif dan berkelanjutan.(*)
Laporan Wartawan Tribun-Sulbar.com, Fahrun Ramli