Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Petrus Chrisantus Gonsales
TRIBUNFLORES.COM, LABUAN BAJO - Ketua DPD Asosiasi Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) NTT, Oyan Kristian mengatakan saat ini, di Labuan Bajo, Manggarai Barat, semua orang bisa jualan paket tour ke siapa pun tanpa ada yang mengontrol.
"Karena sekarang di Labuan Bajo ini nobody control, semua orang bisa jualan tamu, bahkan driver, tukang ojek, guide gitu loh," kata Oyan kepada TribunFlores.com, Rabu (8/4/2026) siang.
Sehingga ASITA NTT mendorong agar pemerintah daerah melalui Peraturan Daerah (Perda) mengatur agar semua travel agent dari luar NTT, ketika mau mengirimkan tamunya untuk berlibur ke NTT wajib menggunakan travel agent, tour operator lokal yang ada di NTT.
"Jadi mereka tidak boleh langsung membawa wisatawannya ke destinasi yang ada di NTT. Mereka wajib menggunakan tour operator lokal agar travel agent tour operator lokal yang ada di NTT usahanya tidak mati, usahanya tidak merugi atau tidak ada tamu," kata Oyan.
Baca juga: Pernah Didorong Jadi Sentra Wisata Kuliner, Puluhan Lapak di Jalan Nangka Ende Dibongkar
Bagi ASITA NTT, travel agent tour operator dari luar itu harus punya mitra dengan lokal travel agent tour operator yang ada di NTT. Karena di NTT ini ada banyak tour operator travel agent resmi
yang juga harus hidup dari aktivitas pariwisatanya.
Kejadian yang menimpa tiga wisatawan asal Jerman baru-baru ini, yang ditelantarkan agen travel, Oyan menyebut travel agent yang digunakan tidak beralamat di NTT dan bukan anggota ASITA NTT.
"Itu alamatnya di Jakarta itu. Tentu saja dia tidak tergabung di ASITA NTT, karena dia alamatnya di Jakarta itu. Kalau ASITA NTT itu izin usahanya NIB, Akta Pendirian Perusahaan, SK Kementerian Hukum dan HAM itu wilayah kerja atau kantornya itu ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur," tegas Oyan.
Sehingga, menurut Oyan ketika ada problem seperti itu, semua pihak seperti kebakaran jenggot. Akan tetapi tidak semua orang mau mencari solusi.
"Kejadian dulu di Hulu, orang mulai mencari penyebab, permasalahannya apa. Tapi orang tidak mau memikirkan bagaimana agar tidak terjadi kejadian seperti itu, bagaimana di hilirnya gitu loh.
Ya tentu saja harus dirapikan aturannya, administrasi dan sebagainya itu sangat penting sebenarnya," paparnya.
Kepada TRIBUNFLORES.COM, Selasa (7/4/2026), Kasat Pam Obvit Polres Manggarai Barat, IPTU Abnel Tamonob, S.H., menuturkan kejadian tersebut terjadi pada Senin (6/4/2026) dan sudah berhasil dimediasi pihak kepolisian.
"Pihak kepolisian berhasil memediasi pengaduan tiga wisatawan asal Jerman yang sempat merasa ditipu oleh agen perjalanan terkait jadwal keberangkatan kapal wisata Pinisi di Pelabuhan Marina Waterfront," ujarnya.
Ia menuturkan tiga Wisatawan tersebut telah menunggu di pelabuhan sejak pukul 08.00 Wita. Namun, hingga pukul 13.00 Wita, kapal Pinisi MAREA yang seharusnya mereka tumpangi tak kunjung memberikan kepastian.
Kata Kasat Abnel, keresahan memuncak saat pihak agen perjalanan yaknk PHINISI TRIP sulit dihubungi dan tidak memberikan informasi apa pun selama lima jam.
Ia menjelaskan, situasi di lokasi sempat menegang karena para tamu merasa ditinggalkan tanpa kejelasan.
"Para wisatawan telah menunggu sejak pagi tanpa kepastian, sementara pihak agen tidak memberikan respons sama sekali saat dihubungi oleh para korban. Wisatawan sempat merasa tertipu karena ditinggalkan tanpa kabar selama lima jam di pelabuhan," ujar IPTU Abnel Tamonob.
Melihat kondisi tamu yang mulai gusar, petugas piket Easybook segera berkoordinasi dengan personel Sat Pam Obvit yang tengah berjaga di ruang tunggu pelabuhan.
Polisi segera mengambil langkah tegas dengan mengambil alih komunikasi untuk memburu pertanggungjawaban pihak agen.
"Menanggapi keluhan tersebut, kami segera berkoordinasi dengan pihak terkait guna menyelesaikan permasalahan yang dialami oleh wisatawan. Tugas kami adalah memastikan kenyamanan dan keamanan para wisatawan di Labuan Bajo," tegasnya.
Setelah upaya persuasif dan koordinasi intensif dari kepolisian, pihak agen akhirnya merespons. Sekitar pukul 13.25 Wita, perwakilan agen menemui para wisatawan di lobby Pos Terpadu Pelabuhan Marina Waterfront untuk menjalani proses mediasi yang difasilitasi oleh polisi.
Hasil mediasi yang rampung pada pukul 14.00 Wita akhirnya membuahkan solusi konkret. Pihak agen bersedia mengganti armada yang bermasalah dengan Kapal Pinisi Neptune 1.
"Setelah kami mediasi, pihak agen bersedia memberikan kapal pengganti untuk melanjutkan perjalanan para tamu. Kami memastikan mereka mendapatkan hak perjalanannya kembali," ungkap Kasat Abnel
Sebagai bentuk kompensasi dan percepatan layanan, ketiga wisatawan tersebut langsung diberangkatkan menggunakan speedboat DREGZ menuju Manta Point, lokasi di mana Kapal Neptune tengah berlabuh.
Meski insiden berakhir damai, IPTU Abnel memberikan catatan keras bagi para pelaku industri pariwisata di Labuan Bajo. Ia menekankan transparansi informasi adalah kunci utama dalam menjaga nama baik daerah.
"Harus ada informasi yang proaktif kepada wisatawan jika ada perubahan rute atau pergantian kapal. Jangan sampai tamu menunggu tanpa kepastian yang justru merusak citra pariwisata kita," tegasnya dengan nada serius.
Ia juga mengimbau seluruh penyedia jasa wisata untuk mengedepankan profesionalisme agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.
"Kasus ini menjadi pengingat keras bagi para pelaku jasa wisata di Labuan Bajo untuk selalu mengedepankan profesionalisme dan transparansi informasi," pungkas Kasat Abnel. (moa)